Kenapa Telinga Nyeri Usai Pesawat Mendarat?

Ilustrasi sakit telinga saat penerbangan. - blog.klm.com
18 Juni 2018 00:05 WIB Nugroho Nurcahyo Wisata Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tekanan dan rasa sakit di telinga selama penerbangan bisa sangat mengganggu, bahkan menyakitkan. Bahkan seringkali harus menunggu 12 jam atau lebih, sebelum telinga menjadi normal kembali. Sebetulnya apa sih yang terjadi pada telinga kita saat terbang?

“Saya ingin memberikan beberapa informasi dasar dan latar belakang fenomena ini,” tulis Didi Aaftink, dokter yang sejak 2006 bertugas di Pelayanan Kesehatan Maskapai Penerbangan Belanda, KLM, di situs resmi maskapai itu.

Dalam tulisannya itu, Didi mengawali dengan menjelaskan bagaimana telinga manusia bekerja. “Kita bisa mendengarkan suara, sebenarnya melalui adanya getaran di udara. Getaran ini berjalan melalui saluran telinga ke membran tipis yang disebut gendang telinga, yang juga tertutup segel saluran telinga dari dalam,” jelasnya.

Di sisi lain dari gendang telinga, ada yang disebut tabung Eustachius, yang membentang dari telinga bagian dalam ke belakang hidung atau tenggorokan kita. Tabung ini memungkinkan udara mengalir ke atau dari telinga bagian dalam. Hal ini tergantung pada apakah tekanan di telinga bagian dalam lebih tinggi atau lebih rendah dari tekanan udara di sekitarnya.

“Tabung Eustachius ini tidak dapat diblokir. Jika sampai tertutup, misalnya terhalang lendir atau radang karena dingin, demam atau mungkin infeksi pernapasan, Anda pasti akan merasa nyeri di sekitar telinga seusai penerbangan,” kata dia.

 

Saat Take Off

Jadi apa sebenarnya yang terjadi pada telinga saat pesawat mulai naik ke ketinggian? Didi mengatakan, saat pesawat naik setelah take off, tekanan udara di dalam kabin secara bertahap menurun hingga mencapai tingkat di mana ia akan bertahan konstan untuk sisa penerbangan (pada ketinggian jelajah pesawat).

“Karena tekanan udara ini akan lebih rendah dibandingkan dengan di darat, terdapat beberapa udara yang terjebak dan harus dikeluarkan dari telinga bagian dalam. Jika tidak, tekanan yang lebih tinggi akan menyebabkan gendang telinga terdorong keluar. Jika semua berjalan dengan baik, udara overpressure di telinga dalam ini akan lolos melalui tabung Eustachius,” jelasnya.

Lebih mudah bagi tabung ini untuk mengeluarkan udara ke luar ketimbang menghisapnya ke dalam. “Itulah mengapa hampir tidak ada orang memiliki masalah dengan telinga mereka ketika pesawat sedang naik,” kata dia.

 

Saat Landing

Kondisi berbeda terjadi saat pesawat dalam kondisi turun dari ketinggian. Apalagi jika turunnya sangat cepat. Ini mirip yang terjadi ketika kita menyelam ke kedalaman air dengan cepat, gendang telinga pasti akan terasa sakit karena tertekan ke arah dalam.

“Berkebalikan dengan saat pesawat naik, ketika pesawat turun, tekanan udara di dalam kabin secara bertahap meningkat, sehingga tekanan udara ini akan mendorong gendang telinga ke arah dalam. Untuk mengatasi ini, tekanan udara di sisi lain gendang telinga, yakni di telinga bagian dalam, juga harus meningkat untuk mengimbanginya,” tuturnya. “Kalau di dunia menyelam, bagi yang suka diving, dikenal dengan istilah equalisasi, menyeimbangkan tekanan antara telinga bagian luar dan dalam.”

Didi mengatakan, saat orang mengalami demam, dan saluran pernapasannya penuh dengan lendir seperti saat flu berat, selaput lendir dalam tabung Eustachius bisa menjadi bengkak dan menghambat aliran udara melaluinya.

“Akibatnya, ketika pesawat sedang turun tekanan udara di belakang gendang telinga, akan tetap terlalu rendah dan tidak akan mampu menangkal tekanan udara kabin yang mendorong gendang telinga ke arah dalam. Awalnya Anda akan merasa ini sebagai tekanan dan kemudian terasa nyeri,” jelasnya.

Selanjutnya, karena gendang telinga berada di bawah tekanan yang konstan, ia tidak lagi dapat menyalurkan getaran dengan baik. “Kadang kita merasa pendengaran kita jadi berkurang setelah landing,” kata dia.