Ini Alasan Kenapa Teknologi Informasi Penting untuk Pengembangan Wisata

Para pembicara dalam Meet Up Nusantara 2 Sharing Sesion Indonesia Local Guide di Pendopo Royal Ambarrukmo, Sleman, Jumat (10/8/2018) malam. - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
11 Agustus 2018 22:17 WIB Rheisnayu Cyntara Wisata Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN-Perkembangan teknologi informasi yang makin pesat bisa dimanfaatkan untuk pengembangan pariwisata. Hal tersebut dibahas dalam acara Meet Up Nusantara 2 Sharing Sesion Indonesia Local Guide di Pendopo Royal Ambarrukmo, Jumat (10/8/2018) malam. Ada dua pembahas yang hadir yakni Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto, tim digital @kratonjogja Wiwit Prasetyono.

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto mengatakan, saat ini dengan teknologi yang ada dan pola interaksi positif, penggunaan internet secara bijak lebih memberikan keuntungan bagi banyak orang bagi perekonomian di daerah. Apalagi dengan hadirnya beragam aplikasi dan keberadaan tempat usaha baru termasuk tempat kuliner, destinasi wisata membutuhkan promosi agar bisa dikunjungi banyak orang.

Hal itulah yang terus didorong oleh Pemprov DIY untuk dikembangkan. Oleh sebab itu, Eko menyebut pemerintah lantas meluncurkan aplikasi android dan iOS yakni Jogja Istimewa. Aplikasi ini mengakomodir kebutuhan orang-orang datang ke DIY, termasuk wisatawan, saat berada di DIY ini. Baik mencari informasi tentang kuliner, akomodasi, transportasi, bahkan pelayanan publik seperti puskesmas dan rumah sakit.

Namun demikian Eko menekankan teknologi informasi hanyalah alat. Sehingga perlu adanya pengembangan SDM yang berkaitan langsung dengan pengembangan pariwisata. Oleh sebab itu pihaknya mengapresiasi para local guide yang aktif berinteraksi dengan lebih produktif, jadi local guide. Memberi review tentang suatu tempat sehingga memberikan pengetahuan kepada warganet lainnya. Menurutnya ini merupakan peluang bagi anak muda berkarya, produktif.

"Ini strategis sekali, semakin banyak yang terlibat sangat baik karena bisa memandu banyak pihak. Pemerintah juga berusaha menghadirkan aplikasi yang dibutuhkan sehingga bisa mewujudkan #JogjaTanpaNyasar," katanya.

Pemanfaatan teknologi informasi juga dilakukan oleh pihak Keraton melalui akun @kratonjogja di media sosial. Salah satu tim digital @kratonjogja, Wiwit Prasetyono menuturkan gagasan ini bermula sejak 2012 dan ditangani langsung oleh GKR Hayu. Gagasannya adalah untuk memasyarakatkan info tentang Keraton Nyayogyakarta Hadiningrat kepada publik yang lebih luas dengan valid.

"Dulu banyak anggapan jika apa-apa yang dilakukan oleh Kraton ini syirik. Itu karena dulu kami tertutup sehingga info dan pengertian bahwa Kraton bernapaskan Islam tak sampai ke masyarakat. Maka kini kami hadir dengan info yang valid, didukung data akademis yang sesuai," katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Binar Atmaja berharap melalui acara ini para local guide dari berbagai daerah di Indonesia bisa menambah saudara dan berbagi pengalaman maupun pengetahuan. Sehingga kehadiran 250 local guide di DIY ini bisa memberikan kontribusi positif dalam memajukan pariwisata DIY.

"Mari kita wujudkan misi kita untuk membangun dunia lewat peta," imbuhnya.

Adplus Tokopedia