Wisata Kulonprogo: Berburu Lurik sambil Menikmati Derak Mesin ATBM

Seorang perajin sedang menenun lurik menggunakan ATBM di Dusun Bantarejo, Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo, beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/Uli Febriarni
11 September 2018 11:17 WIB Uli Febriarni Wisata Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Selama ini, kita mengenal lokasi produksi kain tenun lurik ada di Klaten, Jawa Tengah dan Krapyak, Kota Jogja. Namun, kabupaten paling barat Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Kulonprogo juga punya lokasi produksi lurik loh.

Untuk menemukan lokasi produksi lurik ini, kita perlu menyusuri terlebih dahulu kawasan Sentolo. Tak jauh dari Stasiun Sentolo, ambil arah ke utara dan temukan sebuah gapura yang bertorehkan motif geblek renteng. Selusuri lingkungan permukiman itu, sampai menemukan wilayah yang banyak terdapat pepohonan jati.

Saat memasuki kawasan itu, yakinkan diri dengan mengamati spanduk UMKM atau bertanya dengan penduduk sekitar, bahwa anda telah memasuki Dusun Bantarejo, Desa Banguncipto. Lalu, temukan 'markas' Kelompok Perajin Tenun Desa Bantarejo yang berada di pinggir jalan aspal.

Memasuki area produksi, suara alat tenun bukan mesin (ATBM) terdengar begitu unik di telinga. Mendekati sumber suara, anda akan melihat sejumlah kaum ibu sedang sibuk dengan benang katun berwarna-warni. Eits, ada juga beberapa kaum bapak, membantu proses menyekir atau membangun motif kain lurik. Dan penjahit pakaian berbahan lurik.

Ibu-ibu di sana, menggerakkan mesin tenun dengan penuh senyum, kendati sesekali terlihat mengusap keringat yang turun di dahi dan tepian pipi. Canda tawa dan beradu gurauan kadangkala terdengar riuh. Kemudian kembali hening, hanya menyisakan suara alat penenun.

Ketua Kelompok Perajin Tenun Bangun Karyo, Udjik Sudaryati mengungkapkan, hadirnya kelompok penenun ini sebagai salah satu cara menyambut kebijakan pemerintah daerah DIY yang cukup berpihak kepada para perajin tenun di Kulonprogo. Dengan bimbingan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, sebelum berdiri, Bangun Karyo belajar bersama dengan desa binaan Tenun Mumbul, Kecamatan Kalibawang.

"Mayoritas warga di sekitar sini, khususnya kaum perempuan telah memiliki keahlian tenun warisan leluhur. Mereka terbiasa membuat stagen dengan ATBM. Mereka kami kumpulkan, hasil produksinya dipamerkan dan sejak itu banyak yang berminat pesan," ujarnya, beberapa waktu lalu.

Setelah puas melihat bagaimana ATBM dan tangan cekatan para penenun meracik helaian tenun lurik, pengunjung bisa mampir ke showroom yang masih berada di dalam kompleks. Di sana, sudah ditampilkan ratusan potong kain lurik yang siap dibawa pulang, dengan merogoh kocek Rp50.000 hingga Rp110.000 untuk satu potongnya.

Kalau tidak mau ribet mencari penjahit, bisa juga memilih baju siap pakai, dalam bentuk surjan, kebaya, gamis atau bentuk lainnya. Harganya bervariasi tentunya. Koleksi topi, tas, sarung bantal, pouch dan beragam kriya berbahan utama kain lurik juga dijual di sana.

"Kami juga menerima pesanan pakaian, kami mengukur badan konsumen, lalu membuatkan baju untuk mereka," ucap Udjik.

Seorang pembeli surjan lurik, Heri menyatakan, ia memilih membeli lurik di lurik Bantarjo karena bahannya terasa lebih sejuk saat digunakan. Selain itu harganya murah.

"Saya mencari yang anyes dan nyaman dipakai di badan. Saya pernah beli di tempat lain, tapi sumuk," kata dia, saat ditemui di showroom Bangun Karyo.