Di Taiwan Wisata Muslim Diadakan dengan Cara Berkeliling Kawasan Pertanian

Makanan yang disajikan di lokasi wisata farm di Tawian - JIBI/Bisnis Indonesia
15 Oktober 2018 09:35 WIB Yunan Hilmi Wisata Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Jika mendengar nama Taiwan, salah satu yang terbesit di pikiran kita yaitu perebutan kursi di parlemen negara itu, sampai berantem secara fisik antar anggotanya. Selain itu, produk-produk elektronik made in Taiwan juga membanjiri banyak negara, termasuk Indonesia.

Meski memiliki wilayah sebuah pulau kecil, negara dengan ibukota Taipei ini, berhasil membangun industri elektronik dari hulu ke hilir, mulai dari yang sekecil IC sampai produk jadi seperti komputer, router, laptop, LCD, dan smartphone.

Siapa yang tidak kenal laptop dan netbook dari Acer, Asus, dan MSI. Juga proyektor LCD dari BenQ, router  D-Link, peralatan keamanan Trend Micro, sistem pelacakan GPS Mio Technology, digital camcorders i Aiptek, proyektor untuk rumah dari Optoma, dan juga HD Media Players Avermedia. Produk Taiwan ini agaknya telah memenangkan kepercayaan dari konsumen di seluruh dunia. Negara ini juga dikenal dengan sebutan formosa yang berarti pulau yang indah.

Sementara itu di sektor agraris, negara dengan jumlah penduduk sekitar 23,5 juta ini, juga memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Saat ini, Taiwan memiliki sekitar 300 perkebunan yang dikelola secara profesional sebagai destinasi wisata, baik lokal maupun asing.  Tak heran banyak wisatawan dari Malaysia, Singapura, Hong Kong, Indonesia dan wisatawan lain dari Asia Tenggara.  

Marketing Secretary Taiwan Leisure Farms Development Association (TLFDA) Ngan Kok Lim mengatakan jumlah wisatawan dari Indonesia mencapai 5.500 orang pada tahun lalu. “Kami memiliki 300 farm di seluruh Taiwan. Dari jumlah itu, sebanyak 10 farm yang mendapatkan sertifikat Muslim Friendly Farm. Kami membagi dua kelompok yaitu farm yang dikelola oleh pemilik yang juga muslim dan farm yang pemiliknya bukan muslim. Mereka dapat sertifikat Muslim Friendly Restaurant dan Muslim Friendly Tourism yang dikeluarkan oleh Chinese Muslim Association,” tuturnya kepada pers dari Indonesia yang mengikuti Taiwan Leisure Farm FAM Media Trip di Yilan, Taiwan, belum lama ini.

Sembilan media dari Indonesia terbang dengan China Airlines guna memenuhi undangan TLFDA ke beberapa perkebunan pada 18-22 September 2018.  TLFDA merupakan lembaga non-profit yang didirikan pada 1998. Organisasi ini bertujuan untuk mengembangkan potensi wisata agraris dan daerah pedesaan di Taiwan. Lembaga ini didukung oleh Council of Agriculture, akademisi, dan para pemilik bisnis.

Selama tiga hari kunjungan, rombongan diajak ke sejumlah kota yang memiliki area perkebunan, bisnis peternakan, dan perikanan. Salah satu tempat yang menjadi destinasi wisata muslim yaitu Yilan County (Kabupaten Yilan) yang terletak di sebelah timur Taiwan. Ada empat tempat yang dikunjungi yaitu Fairy Story Village Organic Farm, Shangrila Leisure Farm, Lan Yang Prawn Ecological Farm, dan Toucheng Leisure Farm.

“Kota Yilan merupakan kota agricultural, dan di sini tidak banyak bangunan. Kota ini tidak akan kekurangan air karena banyaknya sumber air yang mengalir,” papar Ngan Kok Lim, yang biasa dipanggil Calem.

Selama kunjungan ke farm-farm ini, awak media diajak untuk membuat sendiri suvenir khas masing-masing tempat atau istilahnya DIY (Do It Yourself). Seperti di Fairy Story Village Organic Farm membuat minuman teh dari bunga rosella. Juga di Shangrila Leisure Farm diajak membuat mainan gendang kecil yang diputar.

Fairy Story Village Organic Farm

Sesuai dengan namanya, tempat ini merupakan pertanian organik yang dikelilingi oleh tanaman-tanaman organik. Menariknya, di tempat ini menyediakan layanan yang komprehensif dari kamar untuk menginap, restoran, toko suvenir, belajar membuat teh rosella (DIY), pemainan luar ruang, dan kolam penuh dengan ikan.

Fairy Story Village ini berhasil mendapatkan sertifikasi organik yang berkelanjutan selama 7 tahun. Berbagai makanan organik seperti murbei, bunga matahari, rosella, tomat emas, buah kumquat, bawang putih dan sayuran organik musiman adalah kunci untuk mendapatkan sertifikasi organik.

“Sertifikat organik itu sangat sulit untuk didapatkan dari pemerintah. Karena selama 5 tahun mereka harus mengelola farm ini secara organik. Ini berarti selama itu pula mereka belum mendapatkan penghasilan. Farm ini juga memiliki dua sertifikat yaitu Muslim Friendly Restaurant dan Muslim Friendly Tourism,” jelas Calem.

Pengalaman menarik lain di farm ini, yaitu memberi makan ikan dengan menggunakan botol minum bayi. Caranya, pakan ikan dimasukkan ke dalam botol minum bayi yang ujung dari dot diberi lubang yang agak besar. Ketika botol yang sudah diisi dengan pakan ikan itu dimasukkan ke kolam, akan disambar oleh ikan-ikan.

Shangrila Leisure Farm

Pemandangan di Shangrila Leisure Farm didominasi dengan warna hijau berupa hamparan tanaman dan pepohonan. Tempat wisata ini terletak di Gunung Dayuan di Dongshan, Yilan, dengan suhu rata-rata tahunan 25 derajat celcius. Jalan setapak dibangun di sekeliling farm yang mengantar pengunjung ke daratan tertinggi agar dapat menikmati pemandangan di sekitar. Memang farm ini terletak sekitar 250 meter di atas permukaan laut dengan kondisi suhu empat musim.  

“Selain pemandangannya yang indah, Shangrila Farm juga mengutamakan wisata budaya. Pengunjung dapat menikmati budaya permainan anak anak seperti pertunjukkan boneka (glove puppetry), gasing, layang-layang, lampion terbang (sky lantern),” jelas Calem.

Seperti juga di farm lainnya, Shangrila Farm juga menyediakan layanan akomodasi untuk bermalam atau tempat untuk pertemuan bisnis. “Peak season biasanya bulan Juni sampai dengan awal September untuk liburan musim panas. Pengunjung juga bisa menikmati pengalaman membuat sendiri mainan anak yaitu bamboo dragonflies,” paparnya.

Toucheng Leisure Farm.

Toucheng Leisure Farm termasuk salah satu tempat wisata perkebunan di Taiwan yang mengantongi sertifikat Muslim Friendly Restaurant. Berdiri di atas lahan seluas 120 hektare, destinasi wisata unggulan ini memiliki berbagai jenis tanaman, yang juga bisa digunakan sebagai bahan makanan.

Jika melihat keseluruhan area farm, tema yang ingin ditawarkan terutama pada kehidupan pedesaan. Tak lupa juga ada aktivitas DIY yang lebih beragam dibandingkan dengan tempat sebelumnya seperti melukis di atas T-shirt atas tas ramah lingkungan dengan menggunakan sketsa daun, membuat lampion terbang, dan yang menarik adalah memanggang pizza.

Awak media pun berkesempatan memetik langsung tanaman yang akan digunakan untuk membuat pizza. Menarik juga mendapat pengalaman membuat pizza dari bahan-bahan yang dipetik langsung. Area pemanggang pizza pun dengan oven lumpur yang menggunakan bara api dari bongkahan kayu.

“Salah satu fitur yang benar-benar unik dari pertanian ini adalah bahwa dalam segala hal, mulai dari restorannya sendiri hingga area persiapan makanan di DIY, para tamu muslim ditawarkan pilihan halal. Menu halal disiapkan sesuai dengan kebiasaan agama, terpisah dari menu lainnya,” papar David, pemandu asal Swiss, yang juga menyajarkan cara membuat pizza. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia