Kejar Target Wisman, Pelaku Industri Pariwisata Bertemu di JITAC 2026
Promosi digital dan sinergi swasta digenjot untuk mengejar target wisman. Namun, direct flight masih menjadi tantangan pasar jarak jauh.
Pengunjung melihat koleksi dalam Pameran Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 ke-71 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Senin (2/3/2020). /Harian Jogja-Sunartono.
Harianjogja.com, JOGJA-- Keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia disajikan langsung melalui Pameran Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 ke-71 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, sejak Minggu (1/3/2020) hingga Kamis (5/3/2020). Cerita yang dikemas dalam bentuk gambar dan sejumlah bukti material koleksi museum terkait perjuangan rakyat diharapkan menggugah rasa nasionalisme.
Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Suharja menjelaskan dalam pameran kali ini mengangkat tema Di Balik Serangan Fajar yang diharapkan menjadi edukasi bagi masyarakat terutama pengunjung museum terkait perjuangan rakyat dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Pameran itu berusaha mengungkap keterlibatan masyarakat yang ikut berjuang menuju Indonesia berdaulat.
"Pameran ini disajikan dengan ilustrasi gambar yang menceritakan tentang kegiatan masyarakat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Diserta dengan bukti material berupa koleksi Museum Benteng Vredeburg yang terkait dengan peristiwa itu," katanya, Senin (2/3/2020).
Adapun pameran ini dibuka oleh Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Administrasi Umum Setda DIY Sigit Sapto Raharjo, Minggu (1/3/2020) di Gedung E Lantai 2, Museum Benteng Vredeburg. Dihadiri sejumlah pejabat di lingkungan TNI salah satunya Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Zamroni.
Suharja menambahkan peran rakyat dalam perjuangan perlu lebih banyak disampaikan kepada masyarakat, salah satunya melalui pameran. Rakyat tersebut berasal dari berbagai elemen dengan beragam bentuk dan kontribusinya. "Mereka adalah Palang Merah Indonesia PMI, pemuda desa, masyarakat umum, seniman, kalangan perempuan dan lain-lain, cerita perjuangannya yang valid berusaha kami sajikan," ujarnya.
Ia berharap melalui pameran itu terutama generasi muda mendapatkan informasi sejarah sehingga dapat menumbuhkan rasa nasionalisme. Selain itu dengan ditampilkan sejumlah koleksi bukti material, harapannya menambah pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang peristiwa bersejarah di berbagai perang kemerdekaan. "Kami memiliki tanggungjawab untuk menyosialisasikan dan akan berusaha kami tingkatkan, agar masyarakat mendapatkan pemahaman," ujarnya.
Pameran ini mendapatkan respons positif dari pengunjung Museum Benteng Vredeburg. Salah satu pengunjung asal Jawa Timur, David, 27, mengaku informasi tentang pameran seperti yang digelar Museum Benteng Vredeburg tergolong jarang ditemukan di daerah lain. "Yang menarik menurut saya ada koleksinya, seperti ada Bendera Merah Putih dari Desa Jumbleng [Magelang], ini narasinya meski pun singkat kan menarim, saya jadi tahu," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Promosi digital dan sinergi swasta digenjot untuk mengejar target wisman. Namun, direct flight masih menjadi tantangan pasar jarak jauh.
Kepala BGN Sudaryono menemui Jaksa Agung ST Burhanuddin membahas pendampingan hukum dan pengawasan tata kelola program MBG.
Polisi menjerat S dengan pasal berlapis KUHP baru atas perusakan bendera dan palang kereta di Bantul-Sleman, ancaman maksimal 7 tahun penjara.
Kejagung memeriksa 12 dari 22 saksi dalam kasus dugaan korupsi tata kelola MBG periode 2025–2026. Tujuh orang telah menjadi tersangka.
Kemenkeu mencairkan Rp20,5 triliun kepada 490 Pemda untuk membantu kebutuhan gaji PPPK dan belanja daerah.
Asupan zat besi anak Indonesia baru 65,8 persen dari AKG. Dokter RSCM mengingatkan dampaknya terhadap kognitif dan tumbuh kembang.