Pokdarwis Didorong Jadi Koperasi, Strategi Baru Dongkrak Ekonomi Desa
Transformasi Pokdarwis jadi koperasi diyakini mampu tingkatkan ekonomi desa wisata dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Jamu Ginggang Pakualaman (dok iNews/Kuntadi)
Harianjogja.com, JOGJA-Pandemi Covid-19 mampu membangkitkan industri jamu tradisional di Kota Jogja. Salah satu kedai jamu yang cukup dikenal dan bertahan hingga kini adalah kedai jamu Ginggang yang ada di Pakualaman, Jogja.
Kedai ini sudah berusia hampir satu abad hingga dikelola oleh generasi kelima. “Di sini konsumen bisa langsung mencicipi dan minum langsung,” kata Yayuk, salah satu pembuat jamu.
Yayuk menekuni usaha ini warisan dari kakek buyutnya. Berbeda dengan kedai jamu dulu, kini diseting lebih rapi dan nyaman layaknya kafe. Harapannya konsumen bisa betah dan kembali menyukai minum jamu. Jamu merupakan minuman yang dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan.
Selain meningkatkan daya tahan tubuh, juga dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit. Seperti masuk angin, sakit perut, diare, batuk dan berbagai penyakit lainnya.
“Jamu Ginggang ini sudah sejak 1925, ini usaha turun temurun yang dikelola keluarga dari Mbah Joyo sebagai perintis pertama,” katanya.
Jamu Ginggang dulu merupakan minuman yang hanya diberikan kepada abdi dalem Pakualaman. Mbah Joyo merupakan salah satu abdi dalem yang diberi kepercayaan untuk meracik jamu kepada semua kerabat Kadipaten Pakualaman.
Seiring berjalannya waktu, jamu ini diperjualbelikan kepada masyarakat luas. Jamu Ginggang berasal dari kata Genggang yang bermaksa tansah genggah yang berarti tercipta persahabatan dan kekeluargaan agar tidak ada jarak antara kerabta Keraton dengan masyarakat. Nama ini disematkan oleh KGPAA Pakualam VII.
Baca juga: Herbal dan Jamu untuk Pasien Covid-19, Ini Jenis dan Saran Dokter
“Kami buka dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 20.00 WIB,”ujarnya.
Satu gelasnya dibanderol dengan harga Rp6.000 sampai dengan Rp25.000 tergantung jenisnya. Mulai dari beras kencur, kunyit asam, hingga galian singset dan sehat pria.
Salah seorang pelanggan Lya mengaku sudah beberapa tahun menjadi pelanggan di kedai Jamu Ginggang. Menurutnya jamu ginggang lebih alami dan rasanya lebih nikmat dibandingkan jamu yang ada di pasaran.
“Rasanya lebih mantap di banding jamu serupa di pasaran,” ujarnya.
Hampir setiap bulannya, Lya selalu mampir ke kedai ini untuk mencicipi jamu. Alasannya untuk menjaga kesehatan agar tidak mudah sait dan kecaoekan.
“Saya lebih percaya yang tradisional ini kan herbal jadi lebih aman," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone
Transformasi Pokdarwis jadi koperasi diyakini mampu tingkatkan ekonomi desa wisata dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Sidang dugaan suap Sudewa mengungkap kesaksian Ketua Kadin Kota Surakarta yang mengaku menyerahkan Rp125 juta melalui seorang perantara.
Penjualan seragam sekolah di Jogja melonjak menjelang tahun ajaran baru. Omzet toko mencapai Rp15 juta per hari seiring membludaknya pembeli.
Perempuan Bangsa DIY menggelar Muswil sebagai langkah awal konsolidasi organisasi dan penguatan kader untuk menghadapi Pemilu 2029.
Ketua Banggar DPR memastikan Transfer ke Daerah (TKD) 2027 tidak turun dan berpotensi melampaui alokasi Rp649 triliun pada 2026.
Erick Thohir menjelaskan alasan Oxford United absen di Piala Presiden 2026. Turnamen kini diikuti delapan tim, termasuk tiga klub luar negeri.