Ilmuwan Jepang Ciptakan Robot yang Bisa Tersenyum dengan Kulit Hidup di Wajahnya
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Anggota WIPI DIY saat mengikuti fashion show di sela-sela gathering pada Jumat (2/9/2022)./Harian Jogja-Lajeng Padmaratri
Harianjogja.com, JOGJA — Seiring pandemi Covid-19 yang mulai mereda, pariwisata di sejumlah daerah mulai kembali bergeliat. Para perempuan pelaku industri pariwisata menjadi bagian penting dari kebangkitan pariwisata di Indonesia, tak terkecuali DIY.
Semangat kebangkitan itu setidaknya terlihat dari para perempuan yang tergabung dalam Wanita Industri Pariwisata Indonesia (WIPI) DIY saat menggelar gathering di rooftop Yellow Star Hotel, Sleman, Jumat (2/9/2022).
Acara gathering bertajuk Women In Tourism Indonesia, Growth Faster & Stronger tersebut diikuti puluhan perempuan pelaku industri pariwisata. Selain menjadi ajang perkenalan bagi perempuan pelaku industri pariwisata di Jogja maupun pengurus WIPI DIY, melalui gathering tersebut, mereka berupaya mempertegas eksistensi sebagai wadah bertumbuh para perempuan pelaku industri pariwisata di Jogja.
Salah satu pendiri WIPI DIY, Anna Kamal menuturkan bahwa WIPI merupakan organisasi yang sudah terbentuk sejak tahun 1983 di Jakarta. Organisasi ini kemudian melebarkan sayap ke DIY pada 1997.
BACA JUGA: Dugaan Data SIM Card Bocor, Telkomsel: Data Pelanggan Dijamin Aman
Pada 2019, WIPI DIY menguatkan legalitasnya dengan mendaftarkan diri ke Kemenkumham sehingga menjadi organisasi yang mandiri hingga saat ini. "Dengan kondisi ekonomi dan pariwisata yg kembali membaik ini, kita harap bisa kembali berkiprah dan go internasional," kata Anna dalam sesi diskusi.
Gathering tersebut dilakukan sebagai ajang berkumpul sebelum WIPI DIY mengadakan musyawarah daerah dalam waktu dekat. Anna berharap anggota WIPI DIY yang lebih muda bisa meneruskan organisasi ini dengan lebih baik.
Selain berkumpul dan berdiskusi, ajang ini juga menampilkan fashion show dari para anggota WIPI DIY. "Beruntung kami masuk ke WIPI karena WIPI DIY ini wadahnya berbagai insan pariwisata yang berbeda jadi bisa take and give satu sama lain. Saya harapan ke depan ada program untuk bisa mempromosikan produk masing-masing sehingga bisa menguntungkan bagi semua pihak," imbuh Tusi Kuswenda yang juga pendiri WIPI DIY.
Selama pandemi, organisasi ini banyak mengadakan bakti sosial untuk pelaku industri pariwisata yang terdampak pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, WIPI DIY banyak berkiprah dalam pengembangan pariwisata di Jogja, salah satunya pengembangan desa wisata.
"Acara ini dimaksudkan untuk memperkenalkan WIPI DIY bahwa kita eksis sebagai wadah bagi perempuan pelaku industri pariwisata untuk bisa sharing, berbagi pengalaman, dan mendukung program pemerintah di bidang pariwisata," ucap dia.
Tusi berharap ajang ini bisa menggaet pelaku industri pariwisata yang potensial agar berminat untuk bergabung dengan WIPI DIY demi memajukan pariwisata di Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Renovasi Mandala Krida dikaji UGM selama 5 bulan. Tribun timur yang bergoyang jadi sorotan, Pemda DIY diminta hati-hati.
Sapi jumbo 977 kg asal Klaten terpilih jadi kurban Presiden 2026. Dipelihara peternak muda, lolos uji kesehatan dan siap disembelih.
Persebaya pesta gol 7-0 atas Semen Padang. Simak jalannya pertandingan, daftar pencetak gol, dan susunan pemain lengkap.
Jelang Iduladha, jasa salon sapi di Boyolali jadi strategi pedagang tingkatkan harga jual. Kisah Darmo bertahan sejak 1980-an.
Selandia Baru umumkan skuad Piala Dunia 2026 hasil seleksi 3 tahun. Kombinasi pemain senior dan muda siap beri kejutan.