Gempa M7,7 Flores, Sejumlah Bangunan di Kota Bima Rusak
Gempa M7,7 yang berpusat di Nagekeo dirasakan di Kota Bima. Satu rumah rusak sedang, Gudang Bulog dan plafon masjid juga terdampak.
Masjid Shirathal Mustaqiem telah berdiri lebih dari seabad di tanah yang dulunya adalah kampung maksiat di Samarinda. ANTARA/Ahmad Rifandi.
Harianjogja.com, SAMARINDA—Masjid Shirathal Mustaqiem di Samarinda menjadi simbol transformasi sejarah dari kawasan yang dahulu dikenal sebagai pusat kemaksiatan menjadi poros ibadah tertua di Kota Tepian. Kisah perubahan tersebut berkaitan erat dengan dakwah ulama Said Abdurachman bin Assegaf yang mengubah wajah sosial masyarakat pada akhir abad ke-19.
Riwayat kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Mesjid Samarinda Seberang menunjukkan bahwa wilayah tersebut pada masa lampau bukanlah lingkungan religius, melainkan pusat aktivitas yang jauh dari nilai-nilai keagamaan atau yang secara banal disebut perbuatan maksiat.
“Sabung ayam, perjudian, dan berbagai aktivitas yang jauh dari nilai-nilai agama menjadi denyut nadi kehidupan sehari-hari warganya. Tempat ini dulunya adalah kampung maksiat yang pekat tenggelam dalam ingar-bingar hawa nafsu duniawi,” kata Mazbar, Ketua Kelompok Sadar Wisata Masjid Shirathal Mustaqiem Samarinda, saat berbincang di area masjid tersebut, belum lama ini.
Perubahan besar kemudian terjadi seusai kedatangan seorang ulama pendatang yang dikenal sebagai Said Abdurachman bin Assegaf atau Pangeran Bendahara, seorang bangsawan sekaligus saudagar muslim keturunan Arab dari Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat.
Perjalanan dakwahnya dimulai dari aktivitas perdagangan di pesisir Kalimantan hingga akhirnya menetap di wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Awalnya Samarinda Seberang hanya menjadi tempat singgah sementara, tetapi interaksi langsung dengan masyarakat setempat memunculkan tekad untuk melakukan pembinaan keagamaan.
“Niat murni untuk berdagang perlahan bergeser menjadi panggilan jiwa. Said Abdurachman memutuskan untuk menetap. Bukan lagi sekadar untuk berniaga, melainkan untuk mengembangkan syiar dan kajian cendekia Islam di tengah masyarakat yang tengah tersesat kala itu,” tutur Mazbar.
Gelar Pangeran Bendahara
Upaya mengubah kebiasaan masyarakat yang telah berlangsung lama tidak mudah, tetapi pendekatan humanis, keteladanan akhlak, serta dakwah yang menyejukkan membuat masyarakat perlahan menerima perubahan. Aktivitas perjudian dan sabung ayam mulai ditinggalkan, digantikan dengan kegiatan keagamaan.
Pengaruh positif tersebut kemudian sampai kepada Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman. Pada 1880, Said Abdurachman Assegaf diangkat sebagai Kepala Adat dan Agama Samarinda Seberang sekaligus dianugerahi gelar kehormatan Pangeran Bendahara.
Bagi Said Abdurachman, jabatan tersebut bukan sekadar penghargaan, tetapi amanah untuk memperkuat syiar Islam serta membenahi praktik keagamaan masyarakat yang masih menyimpang.
Masjid Shirathal Mustaqiem
Dalam proses pembinaan masyarakat, Pangeran Bendahara melihat kebutuhan mendesak akan pusat ibadah yang mampu menampung jamaah yang semakin banyak. Gagasan pembangunan masjid pun muncul dan diwujudkan melalui peletakan batu pertama Masjid Shirathal Mustaqiem.
“Kondisi inilah yang kemudian membuat Pangeran Bendahara menyuarakan ide besar untuk membangun sebuah masjid di Samarinda Seberang dan wilayah sekitarnya. Visi tersebut segera diwujudkan dengan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Shirathal Mustaqiem,” Mazbar mengisahkan.
Masjid Shirathal Mustaqiem didirikan pada 1881, tepat di lokasi yang sebelumnya digunakan sebagai arena perjudian. Pemilihan lokasi tersebut memiliki makna simbolis sebagai upaya membersihkan kawasan dari praktik kemaksiatan menjadi tempat ibadah.
Seusai wafatnya Pangeran Bendahara, pembangunan dan pengelolaan masjid dilanjutkan tokoh masyarakat Kapitan Jaya. Kehidupan religius masyarakat Samarinda Seberang terus berkembang dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif serta damai.
Kini, lebih dari satu abad kemudian, Masjid Shirathal Mustaqiem tetap berdiri di Kelurahan Mesjid, Samarinda Seberang. Bangunan tersebut tidak hanya menjadi cagar budaya tertua di Kota Samarinda, tetapi juga simbol perjuangan dakwah yang mengubah wajah sosial masyarakat.
Menara segi delapan setinggi 21 meter yang menjadi bagian masjid masih berdiri kokoh dan telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Keberadaan masjid ini terus mengingatkan masyarakat bahwa perubahan menuju kehidupan religius dapat terjadi melalui kesabaran, ilmu, dan keteladanan, menjadikan Masjid Shirathal Mustaqiem sebagai pusat ibadah bersejarah di Samarinda hingga kini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Gempa M7,7 yang berpusat di Nagekeo dirasakan di Kota Bima. Satu rumah rusak sedang, Gudang Bulog dan plafon masjid juga terdampak.
Kawah Sikidang dipadati wisatawan saat libur HUT RI. Kunjungan ke Dieng meningkat hingga 10.000 orang per hari saat akhir pekan.
Gempa M 7,7 NTT berkaitan dengan Flores Back Arc Thrust. Sesar ini berpotensi memicu gempa besar dan memiliki sejarah gempa merusak.
Harga emas Pegadaian Sabtu 15 Agustus 2026 naik. Antam Rp2,782 juta, Galeri24 Rp2,677 juta, dan UBS Rp2,736 juta per gram.
Peringatan Memetri Kaistimewan 14 tahun Undang-Undang Keistimewaan (UUK) DIY dimeriahkan dengan aksi donor darah di Pendopo Parasamya, Bantul Sabtu (15/8/2026).
Memasuki hari keempat, tim SAR mencari empat korban KMP Putri Yasmin dengan memperluas penyisiran Selat Lombok hingga perairan Nusa Penida.