Target 17 Juta Wisman 2026 Dikejar, Ini Strategi Baru Pemerintah

Reyhan Fernanda Fajarihza
Reyhan Fernanda Fajarihza Kamis, 04 Juni 2026 15:57 WIB
Target 17 Juta Wisman 2026 Dikejar, Ini Strategi Baru Pemerintah

Sejumlah wisatawan bermain kano di kawasan Pantai Drini di Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, belum lama ini. - Harian Jogja/David Kurniawan\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah tetap optimistis mengejar target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebesar 16 juta hingga 17,6 juta pada 2026, meskipun tekanan geopolitik global masih membayangi sektor pariwisata.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri, menegaskan sektor pariwisata nasional masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Hal ini terlihat dari tren kunjungan wisman yang tetap tumbuh hingga April 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisman periode Januari-April 2026 mencapai 4,68 juta, meningkat 8,24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Bahkan pada periode yang terdampak gangguan penerbangan, pertumbuhan kunjungan tetap lebih tinggi dibandingkan tahun lalu,” ujarnya dalam rapat kerja bersama DPR, Rabu (3/6/2026).

Namun demikian, dinamika global tetap memberi tekanan. Konflik di kawasan Timur Tengah menyebabkan pembatalan 1.444 penerbangan sejak akhir Februari hingga Mei 2026. Dampaknya, lebih dari 160 ribu potensi perjalanan wisatawan tidak terealisasi.

Penurunan signifikan terjadi pada pasar Timur Tengah yang merosot hingga 20,05%, serta wisatawan asal Eropa yang turun 12,42%.

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah mulai menggeser fokus pasar. Wisatawan dari kawasan Asia Tenggara justru mengalami lonjakan 17,14%, disusul Asia lainnya 12,66% dan Oseania 11,22%.

Strategi ini akan terus diperkuat melalui kebijakan baru, termasuk usulan bebas visa kunjungan (BVK) untuk sejumlah negara strategis seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, hingga India.

Selain itu, pemerintah juga mendorong perluasan akses bagi permanent resident Singapura, serta membuka peluang bagi negara lain seperti Kazakhstan dan Makau.

Di sisi konektivitas, pemerintah mencatat adanya tambahan kapasitas penerbangan internasional lebih dari 368 ribu kursi. Penambahan ini berasal dari rute baru dan peningkatan frekuensi penerbangan dari sejumlah negara utama seperti Australia, China, Korea Selatan, dan Malaysia.

Meski demikian, tantangan terbesar masih terletak pada distribusi wisatawan dari pintu masuk utama menuju destinasi lain di Indonesia.

Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menyebut Bali, Jakarta, dan Kepulauan Riau saat ini masih menjadi hub utama. Namun, konektivitas lanjutan ke destinasi prioritas seperti Mandalika, Wakatobi, hingga Labuan Bajo perlu diperkuat.

“Yang menjadi tantangan adalah bagaimana wisatawan yang masuk ke hub bisa langsung terdistribusi ke destinasi lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, kalangan akademisi menilai pemerintah perlu memperbaiki integrasi sistem pariwisata nasional. Ketua Umum ICPI Azril Azahari menekankan pentingnya membangun konektivitas antardestinasi, bukan sekadar menambah titik masuk wisatawan.

Hal senada disampaikan pelaku industri pariwisata. Sekjen ASITA Budijanto Ardiansjah menilai faktor keamanan dan stabilitas global masih menjadi perhatian utama wisatawan asing.

Meski begitu, ia optimistis pasar Asia Pasifik akan menjadi penopang utama kunjungan wisman ke Indonesia karena relatif tidak terdampak konflik.

Ke depan, pemerataan destinasi wisata dinilai menjadi kunci. Tidak hanya bergantung pada destinasi unggulan, tetapi juga mendorong daerah lain agar mampu menarik wisatawan secara lebih merata.

Dengan strategi baru yang lebih adaptif, pemerintah berharap target kunjungan wisman 2026 tetap tercapai di tengah ketidakpastian global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online