Pelintasan Liar Jalur KA di Jogja Masih Tersisa 14 Titik
KAI Daop 6 Jogja masih mencatat 14 pelintasan liar hingga Juli 2026. Delapan titik ditutup tahun ini, total 42 perlintasan ditutup sejak 2023.
Pertunjukan seni budaya ditampilkan di Sungai Winongo. /Pemkot Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA—Winongo Art Festival 2026 diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat di kawasan bantaran Sungai Winongo, Kemantren Ngampilan. Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha, festival ini diharapkan mampu memperkuat sektor UMKM, ekonomi kreatif, sekaligus mengangkat potensi wisata sungai di Kota Jogja.
Keberadaan Sungai Winongo yang membelah kawasan Ngampilan dinilai menjadi aset penting yang selama ini mendukung berbagai aktivitas masyarakat. Letaknya yang berada dekat dengan pusat Kota Jogja memberikan peluang besar untuk mengembangkan kawasan sungai sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan ekonomi kreatif.
Mantri Pamong Praja Kemantren Ngampilan, Anif Luhur Kurniawan, mengatakan wilayah Ngampilan memiliki posisi yang strategis karena berada tidak jauh dari jantung Kota Jogja. Menurutnya, potensi tersebut semakin kuat dengan keberadaan Sungai Winongo yang dapat dikembangkan menjadi ruang publik yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Melalui penyelenggaraan Winongo Art Festival 2026, Sungai Winongo tidak lagi dipandang sebatas saluran air, melainkan sebagai ruang hidup, ruang budaya, sekaligus penggerak ekonomi warga. Festival tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kawasan sungai yang produktif dan berdaya saing.
“Festival ini menjadi upaya kolektif untuk mengembalikan fungsi Sungai Winongo sebagai ruang publik yang produktif, sekaligus membuka peluang bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif untuk berkembang,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Anif menjelaskan kegiatan yang akan digelar pada Sabtu (13/6/2026) itu juga membawa misi pelestarian lingkungan. Melalui berbagai kegiatan yang disiapkan, masyarakat diajak meningkatkan kesadaran untuk menjaga kebersihan serta kelestarian ekosistem Sungai Winongo.
Selain itu, festival tersebut diharapkan dapat menjadi sarana promosi bagi kampung-kampung wisata yang berada di wilayah Ngampilan. Beragam atraksi berbasis sungai dan budaya akan ditampilkan dengan kemasan yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional yang menjadi identitas masyarakat setempat.
Menurut Anif, penyelenggaraan Winongo Art Festival 2026 melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), sponsor, serta partisipasi aktif masyarakat. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam mengembangkan potensi wisata berbasis sungai di Kota Jogja.
“Keterlibatan warga secara langsung menjadi kekuatan utama dalam mendorong pengembangan pariwisata berbasis sungai di Kota Jogja,” katanya.
“Potensi seni budaya dan UMKM yang ada di wilayah harus terus diangkat. Masyarakat menjadi motor penggerak utama agar kawasan Sungai Winongo semakin dikenal sebagai destinasi wisata,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Winongo Art Festival sekaligus Ketua Kampung Serangan, Suwarto, menuturkan festival ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Sungai Winongo yang bersih, asri, serta memiliki nilai ekonomi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Melalui festival ini kami ingin membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku UMKM dan industri kreatif sehingga kawasan bantaran sungai memiliki branding wisata yang kuat di masa mendatang,” ujarnya.
Di sisi lain, Seksi Acara Winongo Art Festival, Abdon Zennen, menyampaikan bahwa festival akan menghadirkan berbagai pertunjukan seni yang ditujukan untuk menarik minat masyarakat luas, baik warga Ngampilan maupun wisatawan dari berbagai daerah. Kehadiran beragam penampilan seni tersebut diharapkan semakin memperkuat citra Sungai Winongo sebagai ruang publik yang kreatif dan atraktif.
Sejumlah agenda yang akan memeriahkan Winongo Art Festival 2026 meliputi Sendratari Gebrak Jaranan, Tari Klenting, Lampor Experimental Art, Mocopath Project, Padepokan Kendhali Rasa, Taman Sesaji, penampilan band, hingga pertunjukan seni yang dibawakan anak-anak Ngampilan. Rangkaian acara tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi budaya lokal sekaligus memperkuat daya tarik wisata Sungai Winongo yang terus dikembangkan sebagai pusat aktivitas ekonomi kreatif masyarakat.
“Melalui karya-karya seni ini kami ingin menghadirkan pengalaman baru menikmati kawasan sungai sebagai ruang budaya yang hidup dan menarik untuk dikunjungi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KAI Daop 6 Jogja masih mencatat 14 pelintasan liar hingga Juli 2026. Delapan titik ditutup tahun ini, total 42 perlintasan ditutup sejak 2023.
Uni Eropa menginvestasikan 10 miliar euro atau sekitar Rp207 triliun untuk membangun tujuh pabrik AI raksasa. Proyek ini ditujukan untuk memperkuat posisi Eropa
Pemkot Jogja mendorong Koperasi Kelurahan Merah Putih menjadi agregator produk UMKM dan kebutuhan pokok. Produk dari Bantul dan Sleman berpeluang dipasarka
Filipina bangkit dari tertinggal dan gulung Laos 4-1. Kartu merah di menit 12 ubah jalannya laga. Klasemen Grup A makin ketat.
Maestro seni rupa Indonesia Nasirun meninggal dunia pada usia 60 tahun. Sahabat dan kolega mengenang hari-hari terakhir, tawa, serta warisan besar yang ditingga
Situs Grammy hapus video penampilan BTS Dynamite dan Butter usai grup K-Pop itu nyatakan boikot. Spekulasi pun bermunculan.