Harga Emas Pegadaian Hari Ini 29 Juli 2026 Turun, Antam Rp2,718 Juta
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian turun pada Rabu 29 Juli 2026. Emas Antam 1 gram kini dijual Rp2,718 juta, simak daftar harga lengkapnya.
Suasana area basecamp jalur pendakian Gunung Lawu via Singolangu di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Sabtu (13/6). Jalur pendakian tersebut menjadi salah satu akses menuju puncak Gunung Lawu yang ramai dikunjungi pendaki, terutama menjelang bulan Suro. JIBI/Solopos/Imam Mustajab.
Harianjogja.com, MAGETAN—Di lereng Gunung Lawu, Jalur Singolangu bukan sekadar jalur pendakian menuju puncak Hargo Dumilah. Jalur tua sepanjang 8,2 kilometer itu menyimpan jejak sejarah, tradisi lisan, dan sejumlah situs yang terus dikenang masyarakat, menjadikannya kembali ramai dikunjungi setiap menjelang bulan Suro. Berikut ini laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Imam Mustajab.
Bagi sebagian orang, perjalanan melalui jalur ini tidak hanya tentang mencapai puncak gunung. Di sepanjang rute, terdapat sumber mata air, petilasan, dan lokasi-lokasi yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari cerita yang diwariskan warga lereng Lawu dari generasi ke generasi.
Jalur Singolangu berada di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Jalur ini dikenal sebagai salah satu jalur pendakian tertua menuju puncak Gunung Lawu. Meski sempat lama tidak digunakan, jalur tersebut kembali dibuka pada 2019 dan perlahan menarik minat para pendaki yang ingin menikmati suasana berbeda dibandingkan jalur-jalur populer lainnya.
Pengelola Jalur Pendakian Gunung Lawu via Singolangu, Dedi Renaldi, menjelaskan jalur tersebut sebenarnya telah dikenal sejak dekade 1980-an. Informasi mengenai keberadaannya diperoleh dari para sesepuh yang mengetahui sejarah jalur pendakian di kawasan Lawu.
“Awalnya kami hanya berkumpul dengan teman-teman yang memang hobi mendaki gunung. Dari obrolan dengan para sesepuh, kami mendapat informasi bahwa sebelum jalur Cemoro Sewu dibuka, sebenarnya sudah ada jalur lama menuju puncak Lawu, yakni melalui Singolangu,” ujar Dedi, Sabtu (13/6).
Berbekal informasi tersebut, Dedi bersama sekitar 50 pendaki kemudian menelusuri kembali jalur yang sempat tertutup dan jarang digunakan. Upaya itu membuat jalur lama tersebut kembali dapat diakses masyarakat.
Di kalangan masyarakat lereng Lawu, Jalur Singolangu kerap dikaitkan dengan kisah Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit. Cerita itu menjadi bagian dari tradisi lisan yang masih hidup hingga sekarang dan ikut membentuk identitas jalur tersebut.
Karena itulah, rute ini kemudian lebih dikenal sebagai Jalur Klasik Singolangu. Sejumlah titik yang sering disebut dalam cerita masyarakat masih dapat ditemukan di sepanjang perjalanan. Di kawasan basecamp terdapat Sendang Sanggar yang menjadi salah satu sumber mata air yang dikenal pendaki. Ada pula Watu Lapak yang bentuknya menyerupai pelana kuda, serta Sendang Banyu Urip yang berada di Pos 2.
“Jalur ini menurut cerita sesepuh merupakan jalur pendakian Prabu Brawijaya V dalam perjalanan menuju puncak. Untuk petilasan masih banyak lagi sebenarnya, tetapi yang paling dikenal itu Watu Lapak, Sendang Banyu Urip, dan Sendang Sanggar,” jelasnya.
Keberadaan titik-titik tersebut membuat perjalanan di Jalur Singolangu memiliki nuansa yang berbeda. Banyak pendaki datang bukan hanya untuk menikmati alam, tetapi juga mengenal cerita dan tradisi yang berkembang di kawasan Gunung Lawu.
Sepanjang perjalanan, pendaki akan melewati lima titik utama. Basecamp berada di ketinggian sekitar 1.314 meter di atas permukaan laut (mdpl), kemudian berlanjut ke Pos 1 Kerun-Kerun pada ketinggian 1.550–1.600 mdpl.
Perjalanan berikutnya mengarah ke Pos 2 Banyu Urip yang berada di ketinggian sekitar 1.802 mdpl dan memiliki sumber mata air alami. Setelah itu terdapat Pos 3 Cemoro Lawang yang dalam cerita masyarakat dikenal sebagai salah satu lokasi persinggahan dalam perjalanan menuju puncak.
Menjelang Hargo Dumilah, pendaki akan melewati Pos 4 Sendang Drajat yang juga dikenal memiliki sejumlah petilasan sebelum akhirnya tiba di puncak.
Selain menyimpan banyak cerita, Jalur Singolangu juga menawarkan panorama alam yang masih terjaga. Hutan pinus dan cemara mendominasi sebagian besar perjalanan. Di sekitar Pos 4, pendaki dapat menikmati hamparan Taman Edelweis yang menjadi salah satu daya tarik kawasan tersebut.
Meski tidak seramai jalur Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, Candi Cetho, maupun Jogorogo, Jalur Klasik Singolangu memiliki penggemar tersendiri.
Mayoritas pengunjung datang untuk menikmati suasana yang lebih tenang sekaligus mengenal sisi lain Gunung Lawu yang tidak hanya berkaitan dengan pendakian.
“Bahkan di luar bulan Suro tetap ada yang datang untuk laku tirakat atau berziarah. Namun saat bulan Suro jumlahnya memang meningkat,” ungkap Dedi.
Peningkatan kunjungan menjelang Suro hampir selalu terjadi setiap tahun. Banyak orang datang untuk menikmati atmosfer budaya yang telah lama melekat pada kawasan Gunung Lawu, sementara sebagian lainnya memilih menjelajahi jalur tua yang menyimpan beragam cerita masyarakat setempat.
Meski demikian, Dedi mengingatkan bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Seluruh pendaki diwajibkan melakukan registrasi dan mengikuti pengarahan sebelum memulai perjalanan. Pendaki pemula juga disarankan tidak melakukan pendakian seorang diri.
“Kalau baru pertama kali naik Gunung Lawu, sebaiknya jangan sendirian. Kami selalu memberikan briefing terlebih dahulu agar pendaki memahami karakter jalur dan menjaga keselamatan selama pendakian,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Espos
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian turun pada Rabu 29 Juli 2026. Emas Antam 1 gram kini dijual Rp2,718 juta, simak daftar harga lengkapnya.
Belanja pegawai Kota Jogja mencapai sekitar 30 persen APBD. Hasto Wardoyo memastikan gaji ASN dan PPPK tidak akan dipotong.
DPRD Kota Jogja meminta Pemkot segera menghidupkan Pasar Sentul dan Terban yang masih sepi melalui strategi pengelolaan dan penataan pasar.
DPRD Bantul meminta Perda larangan penjualan daging anjing di DIY disosialisasikan secara masif sebelum diterapkan di seluruh kabupaten dan kota.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) terus memperkuat komitmennya dalam menjalankan praktik keberlanjutan melalui aksi penanaman 20.000 bibit mangrove
Pemkot Jogja mengkaji penutupan bertahap sirip Malioboro. Hasto Wardoyo memastikan kebijakan diterapkan setelah solusi akses warga disiapkan.