Israel Jadi Negara dengan Penurunan Turis Terparah di Dunia

Jumali
Jumali Jum'at, 24 Juli 2026 11:57 WIB
Israel Jadi Negara dengan Penurunan Turis Terparah di Dunia

Bendera Israel. Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Pemulihan sektor pariwisata global pascapandemi Covid-19 menunjukkan wajah yang berbeda di setiap negara. Sejumlah destinasi berhasil mencatat rekor kunjungan baru, sementara negara lain masih berjuang mengejar angka wisatawan yang hilang sejak pandemi melanda dunia pada 2020.

Laporan OECD Tourism Trends and Policies 2026 mengungkap bahwa Israel menjadi negara dengan penurunan jumlah wisatawan internasional paling tajam dibandingkan periode sebelum pandemi.

Berdasarkan perbandingan data kedatangan wisatawan asing tahun 2025 terhadap tahun 2019, jumlah turis yang berkunjung ke Israel tercatat merosot hingga 71 persen.

Penurunan tersebut menjadi yang terburuk di antara seluruh negara yang dipantau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Kemerosotan sektor pariwisata Israel tidak terlepas dari kondisi keamanan yang memburuk setelah pecahnya konflik militer sejak Oktober 2023.

Situasi tersebut membuat banyak wisatawan menunda atau membatalkan perjalanan ke negara tersebut karena pertimbangan keamanan.

Di saat Israel mengalami tekanan besar, kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara justru tampil sebagai motor pertumbuhan baru pariwisata dunia.

Arab Saudi menjadi negara dengan pertumbuhan wisatawan internasional tertinggi di antara negara-negara yang dianalisis OECD.

Jumlah wisatawan asing yang datang ke negara tersebut meningkat 67 persen dibandingkan level sebelum pandemi.

Lonjakan tersebut dinilai sebagai hasil dari strategi Vision 2030 yang dijalankan pemerintah Arab Saudi untuk mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap sektor minyak.

Melalui program tersebut, Arab Saudi memperluas akses visa wisata, meningkatkan kapasitas penerbangan internasional, serta menggelontorkan investasi besar untuk pengembangan destinasi hiburan, budaya, dan olahraga.

Kesuksesan Arab Saudi diikuti sejumlah negara lain di kawasan yang sama.

Maroko mencatat pertumbuhan kunjungan wisatawan sebesar 53 persen dibandingkan 2019, sementara Mesir mencatat kenaikan 47 persen.

Data tersebut menunjukkan kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara kini semakin menarik perhatian wisatawan global yang mencari destinasi baru di luar jalur wisata tradisional.

Tren positif juga terlihat di Amerika Selatan.

Brasil mencatat kenaikan wisatawan internasional sebesar 46 persen dibandingkan masa sebelum pandemi. Kolombia menyusul dengan pertumbuhan 45 persen, sedangkan Chile mencatat kenaikan 33 persen.

Di Eropa, pemulihan berlangsung relatif stabil meski tidak secepat kawasan Timur Tengah. Norwegia menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi di kawasan tersebut dengan kenaikan 28 persen. Serbia berada di posisi berikutnya dengan pertumbuhan 27 persen, disusul Denmark sebesar 22 persen. Portugal mencatat kenaikan 20 persen, Spanyol 16 persen, dan Prancis 12 persen dibandingkan tingkat kunjungan sebelum pandemi.

Meski sebagian besar negara Eropa telah pulih, beberapa negara masih menghadapi tantangan. Jerman tercatat masih mengalami penurunan wisatawan sebesar 6 persen dibandingkan 2019. Italia juga belum sepenuhnya pulih dengan penurunan 5 persen. Sementara itu, Irlandia menjadi negara Eropa dengan kinerja terlemah setelah kehilangan 32 persen wisatawan asing dibandingkan periode sebelum pandemi.

Kondisi serupa juga terlihat di Amerika Utara.

Amerika Serikat masih mencatat penurunan jumlah wisatawan internasional sebesar 14 persen, sedangkan Kanada turun 11 persen. Kawasan Asia Pasifik pun belum sepenuhnya kembali ke tingkat kunjungan sebelum pandemi. OECD menilai salah satu penyebabnya adalah pembukaan perbatasan internasional yang relatif lebih lambat dibandingkan kawasan lain.

Thailand masih mencatat jumlah wisatawan asing 17 persen lebih rendah dibandingkan 2019. Selandia Baru mengalami penurunan 9 persen dan Australia turun 6 persen. Indonesia juga belum sepenuhnya pulih.

Jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia masih berada 4 persen di bawah capaian sebelum pandemi. Meski demikian, angka tersebut menunjukkan Indonesia relatif lebih dekat menuju pemulihan penuh dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan Asia Pasifik.

Laporan OECD menegaskan bahwa peta pariwisata global telah mengalami perubahan signifikan setelah pandemi. Faktor keamanan, kemudahan regulasi perjalanan, konektivitas penerbangan, serta strategi promosi yang agresif kini menjadi penentu utama keberhasilan sebuah negara dalam menarik wisatawan internasional.

Negara yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan perilaku wisatawan terbukti berhasil mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan negara yang masih menghadapi hambatan keamanan maupun akses perjalanan internasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online