Trem Bali Bandara-Canggu Ditargetkan Beroperasi 2028
Trem listrik Bandara-Canggu ditargetkan mulai dibangun Maret 2027. Simak rute, kapasitas, waktu tempuh, dan jadwal operasinya.
New York/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Apa yang membuat sebuah kota mampu bertahan sebagai pusat ekonomi dan menarik talenta dari berbagai penjuru dunia? Jawabannya ternyata tidak cukup hanya dengan ukuran ekonomi.
Oxford Economics dalam Global Cities Index 2026 menilai 1.000 kota terbesar di dunia menggunakan lima kategori, yakni ekonomi, modal manusia (human capital), kualitas hidup, lingkungan, dan tata kelola. Masing-masing kategori dinilai dengan skor 0-100, kemudian digabungkan menjadi skor keseluruhan.
Hasilnya, New York kembali berada di posisi teratas, diikuti London dan Paris. Delapan dari 10 kota yang masuk jajaran teratas tahun ini juga tetap sama seperti tahun sebelumnya. Seattle, San Francisco, Dublin, Boston, San Jose, Tokyo, dan Zurich melengkapi daftar 10 besar.
Berikut daftar lengkap 10 kota dengan peringkat tertinggi dalam Global Cities Index 2026:
New York, Amerika Serikat
London, Inggris
Paris, Prancis
Seattle, Amerika Serikat
San Francisco, Amerika Serikat
Dublin, Irlandia
Boston, Amerika Serikat
San Jose, Amerika Serikat
Tokyo, Jepang
Zurich, Swiss
New York mempertahankan posisi pertama dengan skor keseluruhan 100. Oxford Economics menyebut kekuatan kota tersebut terutama ditopang ukuran ekonominya dan kekuatan pasar tenaga kerja. New York juga menempati posisi pertama dalam kategori ekonomi.
London berada di peringkat kedua dengan skor keseluruhan 98,8. Ibu kota Inggris itu mencatat skor sempurna 100 dalam kategori modal manusia dan menjadi kota dengan nilai tertinggi di dunia pada kategori tersebut.
Oxford Economics mengaitkan kekuatan modal manusia London dengan keberadaan universitas ternama, kantor pusat perusahaan, serta tenaga kerja dengan kualifikasi tinggi.
Paris menempati posisi ketiga dengan skor 93,4. Kota ini mencatat performa menonjol pada kategori kualitas hidup dengan skor 88,1.
Menurut Oxford Economics, kekuatan kota-kota teratas tidak hanya berasal dari satu indikator. Kemampuan menarik pekerja berkeahlian tinggi dan perusahaan inovatif menjadi salah satu karakteristik yang sama-sama dimiliki kota-kota papan atas tersebut.
Masuknya kota-kota seperti Paris, Seattle, San Francisco, dan Zurich menunjukkan bahwa ukuran ekonomi bukan satu-satunya faktor dalam pemeringkatan.
Oxford Economics memasukkan kualitas hidup sebagai salah satu dari lima komponen utama. Indikator yang digunakan antara lain pendapatan per kapita, kesetaraan pendapatan, biaya perumahan, harapan hidup, tingkat kriminalitas, serta akses terhadap fasilitas rekreasi dan budaya.
Paris memperoleh skor kualitas hidup 88,1. Seattle mencatat 85,9, San Francisco 83,3, sedangkan Zurich juga termasuk kota dengan performa kualitas hidup tinggi di antara jajaran 10 besar.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana kota dengan ekonomi besar tetap perlu menyediakan lingkungan perkotaan yang mampu mempertahankan daya tarik bagi penduduk dan pekerja.
Aspek lingkungan juga menjadi bagian penting dalam penilaian Oxford Economics. Kategori ini mencakup kualitas udara, akses terhadap ruang hijau, risiko iklim, intensitas emisi, ketahanan lingkungan, serta inisiatif keberlanjutan.
Dublin mencatat salah satu skor lingkungan tertinggi di antara 10 besar, yakni 90,9. Kota tersebut berada di posisi keenam secara keseluruhan dengan skor 91,3.
London memperoleh skor lingkungan 83,2, sedangkan San Francisco 84,2 dan San Jose 84,5.
Oxford Economics juga mencatat perbedaan karakter antara kota-kota Amerika Utara dan Eropa. Kota-kota Amerika Serikat dalam jajaran atas cenderung memperoleh dorongan lebih besar dari kategori ekonomi dan modal manusia. Sementara kota-kota Eropa lebih menonjol pada kualitas hidup, lingkungan, dan tata kelola.
Teknologi menjadi salah satu kekuatan yang terlihat pada San Jose dan San Francisco.
San Jose berada di peringkat kedelapan dengan skor keseluruhan 89,6. Kota yang berada di kawasan Silicon Valley tersebut memperoleh skor ekonomi 90,7 dan kualitas hidup 87,9.
Oxford Economics mencatat San Jose memiliki GDP per kapita tertinggi di antara 1.000 kota yang masuk dalam indeks. Konsentrasi perusahaan teknologi besar menjadi salah satu faktor yang mendukung kekuatan ekonomi kota tersebut.
San Francisco berada satu tingkat lebih tinggi, yakni posisi kelima. Kota ini mencatat skor keseluruhan 91,9, dengan skor ekonomi 89,5 dan lingkungan 84,2.
Dari 10 besar Global Cities Index 2026, Tokyo menjadi satu-satunya kota Asia. Ibu kota Jepang tersebut berada di posisi kesembilan.
Namun, dominasi kota Amerika Utara dan Eropa di papan atas tidak berarti pengaruh kota-kota Asia mengecil. Justru Oxford Economics melihat Asia sebagai salah satu pusat pertumbuhan perkotaan dunia dalam beberapa tahun mendatang.
Kota-kota China dan India diperkirakan menjadi bagian penting dari pertumbuhan tersebut karena memiliki populasi besar serta peluang peningkatan produktivitas dan pendapatan. Shanghai, Beijing, dan Delhi, misalnya, saat ini masih berada di luar 100 besar indeks, tetapi diproyeksikan mencatat peningkatan GDP yang besar.
Oxford Economics juga menyoroti kota seperti Shenzhen, Kuala Lumpur, dan Ho Chi Minh City sebagai bagian dari perubahan peta ekonomi perkotaan Asia. Untuk 2026, Oxford Economics memperkenalkan kategori Cities to Watch untuk menyoroti kota-kota yang dinilai memiliki momentum pertumbuhan dan berpotensi mengalami peningkatan posisi dalam pemeringkatan.
Global Cities Index 2026 menunjukkan bahwa posisi sebuah kota dalam peta global dibentuk oleh kombinasi berbagai faktor.
Ekonomi tetap menjadi fondasi penting, tetapi kemampuan menyediakan tenaga kerja terampil, menjaga kualitas hidup, memperbaiki kondisi lingkungan, dan membangun tata kelola yang efektif ikut menentukan performa sebuah kota.
Karena itu, kota yang berada di luar jajaran teratas pun tidak selalu berarti tidak memiliki prospek. Oxford Economics menggunakan indeks tersebut tidak hanya untuk melihat posisi saat ini, tetapi juga memanfaatkan proyeksi ekonominya untuk membaca arah perkembangan kota dalam jangka panjang.
Peta perkotaan dunia pun terus bergerak. Kota-kota mapan seperti New York, London, dan Paris masih berada di puncak, sementara pertumbuhan Asia dan sejumlah kawasan lain menunjukkan bahwa hierarki ekonomi perkotaan dapat terus berubah seiring perkembangan ekonomi, produktivitas, teknologi, dan kualitas kehidupan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Trem listrik Bandara-Canggu ditargetkan mulai dibangun Maret 2027. Simak rute, kapasitas, waktu tempuh, dan jadwal operasinya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 27 September 2026 dari Palur menuju Jogja/Tugu tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkapnya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 27 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
DPRD Gunungkidul menegaskan Perubahan APBD 2026 harus berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar besarnya anggaran.
HP mulai bermasalah? Kenali tanda pada layar, baterai, dan suhu sebelum memutuskan mengganti perangkat.
Bangun siang bisa memengaruhi ritme sirkadian, jadwal tidur, konsentrasi, suasana hati, hingga rutinitas harian. Ini 13 dampaknya.