Trem Bali Bandara-Canggu Ditargetkan Beroperasi 2028

Jumali
Jumali Sabtu, 26 September 2026 20:57 WIB
Trem Bali Bandara-Canggu Ditargetkan Beroperasi 2028

Ilustrasi/Magnific

Harianjogja.com, JOGJA— Pemprov Bali memilih trem listrik bertenaga baterai sebagai moda transportasi yang akan menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan Canggu, Kabupaten Badung. Proyek ini disiapkan untuk memberikan alternatif perjalanan di koridor yang setiap hari menghadapi mobilitas kendaraan dan masyarakat dalam jumlah besar.

Trase awal trem tersebut dirancang sepanjang sekitar 12 kilometer dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju Canggu. Jika beroperasi sesuai kapasitas maksimal, moda transportasi ini diproyeksikan mampu mengangkut sekitar 60.000 penumpang per hari dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Rencana itu sekaligus menempatkan trem sebagai bagian dari upaya mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan Badung. Dalam sehari, pergerakan di koridor Bandara-Canggu diperkirakan mencapai sekitar 150.000 orang dengan jumlah kendaraan sekitar 80.000 unit.
Trem Dipilih karena Menggunakan Baterai

Konsep trem dipilih sebagai moda transportasi yang dinilai sesuai dengan karakteristik Bali. Berbeda dengan MRT maupun LRT, trem yang dirancang untuk koridor tersebut menggunakan teknologi baterai sehingga tidak memerlukan kabel listrik yang membentang di sepanjang jalur.

Dari sisi trase, jalur trem akan menggunakan dua lintasan dengan area persilangan untuk mendukung operasional. Ukuran infrastrukturnya juga dirancang relatif kecil, dengan lebar trase sekitar tiga meter.

Dimensi kendaraan trem disebut sedikit di atas dua meter atau bahkan lebih kecil dibandingkan bus. Ukuran tersebut menjadi bagian dari rancangan transportasi yang akan melintasi kawasan dengan aktivitas masyarakat dan pariwisata yang tinggi.

Selain menjadi alternatif bagi masyarakat, trem ditargetkan mendukung mobilitas wisatawan sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah pariwisata. Pemerintah juga berharap keberadaan moda tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi di koridor Bandara-Canggu.

Kapasitas Trem Capai 60.000 Penumpang per Hari

Dalam kondisi maksimal, satu rangkaian operasional trem diproyeksikan mampu mengangkut sekitar 15.000 hingga 20.000 penumpang dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Jeda keberangkatan antartrem dirancang sekitar 10 menit.

Dengan pola operasional tersebut, kapasitas angkut trem secara maksimal diproyeksikan mencapai sekitar 60.000 penumpang setiap hari. Angka tersebut diharapkan mampu mengakomodasi sekitar 40% kepadatan mobilitas yang terjadi di koridor Bandara-Canggu.

Target kapasitas itu berkaitan langsung dengan persoalan mobilitas di kawasan Badung. Banyaknya pergerakan orang dan kendaraan membuat pemerintah menyiapkan transportasi massal sebagai salah satu alternatif untuk perjalanan di kawasan tersebut.
Koster Minta Trem Tak Ganggu Karakter Bali

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan kerja sama pengembangan trem merupakan tindak lanjut atas usulan Kementerian PPN/Bappenas dan Pemprov Bali untuk memperbaiki fasilitas serta sistem transportasi di Bali. Perhatian khusus diberikan kepada wilayah Kabupaten Badung yang menghadapi persoalan kepadatan lalu lintas.

Menurut Koster, konsep trem kini semakin konkret untuk menjadi salah satu alternatif mengatasi kemacetan pada jalur Bandara-Canggu. Namun, pembangunan infrastruktur tersebut harus tetap disesuaikan dengan karakteristik Bali.

Koster meminta pengembangan transportasi tidak mengorbankan keindahan, lingkungan, maupun kehidupan masyarakat yang berada di sepanjang trase.

"Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan Bali, mendukung pariwisata dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat," kata Koster dikutip dari website Pemprov Bali, Sabtu (26/9/2026).

Perhatian tersebut mencakup keberadaan hotel, akomodasi wisata, objek pariwisata, lingkungan, permukiman, serta kehidupan masyarakat di sekitar jalur yang akan dilalui trem.

Kenyamanan wisatawan juga menjadi salah satu aspek yang diperhatikan pemerintah dalam pengembangan moda transportasi tersebut.

"Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga. Keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali," ujar Koster.

Groundbreaking Trem Ditargetkan Maret 2027

Berdasarkan rencana awal, pembangunan trem ditargetkan memasuki tahap groundbreaking pada Maret 2027. Setelah itu, trase pertama diharapkan mulai beroperasi pada 2028.

Seluruh jalur menuju Canggu ditargetkan selesai dan beroperasi pada 2029. Dengan jadwal tersebut, pengembangan koridor Bandara-Canggu akan berlangsung secara bertahap sebelum seluruh rute dapat digunakan.

Bagi masyarakat yang melakukan perjalanan di kawasan Badung, keberadaan trem nantinya akan menambah pilihan moda selain kendaraan pribadi. Sementara bagi wisatawan, jalur tersebut disiapkan untuk mendukung pergerakan dari kawasan bandara menuju salah satu kawasan pariwisata yang memiliki mobilitas tinggi.

Rencana penggunaan baterai juga menjadi bagian dari desain transportasi yang disesuaikan dengan kondisi Bali. Moda tersebut tidak membutuhkan kabel listrik di sepanjang jalur, sementara pembangunan trase tetap diarahkan agar keberadaan infrastruktur memperhatikan hotel, kawasan wisata, permukiman, lingkungan, serta kehidupan masyarakat di sekitarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online