Kenapa Tiket Pesawat Domestik Bisa Lebih Mahal dari Luar Negeri? Ini Penjelasannya

Jumali
Jumali Sabtu, 26 September 2026 21:17 WIB
Kenapa Tiket Pesawat Domestik Bisa Lebih Mahal dari Luar Negeri? Ini Penjelasannya

Foto ilustrasi maskapai penerbangan. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Harga tiket pesawat domestik tidak selalu lebih murah dibandingkan penerbangan ke negara lain. Dalam kondisi tertentu, penerbangan dari Indonesia menuju Singapura atau negara tetangga bahkan dapat ditawarkan dengan harga yang lebih rendah dibandingkan rute dalam negeri.

Gambaran tersebut terlihat dari pencarian di Google Flights untuk penerbangan pada 30 September 2026. Saat itu, penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Singapura tersedia mulai Rp1.106.670, sedangkan penerbangan menuju Padang pada tanggal yang sama mulai Rp1.117.885.

Perbandingan tersebut tentu tidak berarti setiap penerbangan internasional lebih murah daripada penerbangan domestik. Harga tiket pesawat ditentukan oleh banyak komponen dan kondisi setiap rute, sehingga jarak tempuh bukan satu-satunya faktor yang menentukan tarif.

Fenomena kenaikan harga penerbangan domestik juga terjadi di Amerika Serikat. Fortune pada Juni 2026 melaporkan harga penerbangan domestik di negara tersebut meningkat 23,2 persen dibandingkan Maret 2025, sedangkan harga penerbangan internasional naik 11,5 persen dalam periode yang sama.

Lantas, mengapa harga tiket pesawat domestik bisa lebih mahal daripada penerbangan ke luar negeri? Ada sejumlah komponen yang ikut menentukan harga yang harus dibayar penumpang, seperti dilansir dari Fortune. 

1. Harga avtur ikut menentukan

Bahan bakar pesawat atau avtur menjadi salah satu komponen penting dalam operasional maskapai. Perubahan harga bahan bakar dapat berpengaruh terhadap komponen biaya penerbangan dan pada akhirnya dapat tercermin dalam harga tiket.

Di Indonesia, tekanan dari kenaikan harga avtur turut memengaruhi kebijakan fuel surcharge penerbangan domestik. Kementerian Perhubungan pada September 2026 menetapkan batas maksimal fuel surcharge penerbangan domestik kelas ekonomi sebesar 40 persen dari Tarif Batas Atas (TBA), naik dari sebelumnya 30 persen.

Kebijakan tersebut diberlakukan setelah rata-rata harga avtur berdasarkan publikasi per 1 September 2026 naik sekitar 6,5 persen. Harganya meningkat dari Rp21.892 per liter pada Agustus menjadi Rp23.315 per liter pada September.

Kemenhub memperkirakan penyesuaian fuel surcharge tersebut dapat berdampak pada kenaikan harga tiket secara rata-rata sekitar 8 persen. Namun, batas maksimal 40 persen tersebut bukan berarti seluruh harga tiket naik 40 persen karena fuel surcharge merupakan komponen yang terpisah dari tarif dasar.

2. Ada pajak, biaya bandara, dan pungutan lain

Harga yang dibayar penumpang tidak hanya berasal dari tarif dasar penerbangan. Ada komponen lain seperti pajak, biaya bandara, ground handling, serta berbagai biaya dan pungutan yang berkaitan dengan perjalanan udara.

International Air Transport Association (IATA) menjelaskan pajak, biaya, dan pungutan tiket merupakan komponen yang dapat memengaruhi biaya perjalanan udara. Besaran dan jenisnya dapat berbeda berdasarkan negara, bandara, serta perjalanan yang dilakukan.

Karena setiap rute mempunyai struktur biaya yang berbeda, perbandingan tiket tidak cukup dilakukan hanya dengan melihat apakah penerbangan tersebut domestik atau internasional. Komponen biaya yang melekat pada suatu perjalanan ikut menentukan harga akhirnya.

Di Indonesia, persoalan komponen biaya penerbangan juga pernah menjadi pembahasan dalam konteks harga tiket domestik. Pajak, avtur, hingga biaya perawatan pesawat termasuk faktor yang dikaitkan dengan struktur biaya penerbangan.

3. Persaingan maskapai di setiap rute berbeda

Jumlah maskapai yang melayani sebuah rute juga dapat memengaruhi harga. Ketika beberapa maskapai bersaing untuk mendapatkan penumpang pada rute yang sama, tekanan kompetisi dapat memengaruhi strategi harga masing-masing perusahaan.

Laporan Government Accountability Office (GAO) Amerika Serikat yang diterbitkan Juni 2026 menyebut persaingan yang kuat dalam industri penerbangan dapat mendorong tarif lebih rendah. GAO juga menemukan sejumlah studi menunjukkan tarif dalam jangka pendek cenderung meningkat pada rute ketika merger mengurangi jumlah pesaing.

Temuan tersebut menunjukkan harga penerbangan sangat berkaitan dengan kondisi pasar pada rute tertentu. Karena itu, penerbangan internasional yang mempunyai banyak pilihan maskapai bisa menghadapi tekanan persaingan yang berbeda dibandingkan sebuah rute domestik yang pilihan penerbangannya lebih terbatas.

Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa dua rute dengan jarak yang berbeda dapat memiliki harga tiket yang tidak sesuai dengan perkiraan penumpang. Struktur pasar dan jumlah pilihan penerbangan menjadi bagian dari perhitungan harga.

4. Jumlah kursi dan tingkat permintaan berpengaruh

Kapasitas penerbangan menjadi faktor lain yang tidak kalah penting. Ketika permintaan penumpang tinggi sementara jumlah kursi yang tersedia terbatas, harga tiket dapat bergerak naik.

Sebaliknya, maskapai menghadapi kondisi yang berbeda ketika kapasitas kursi lebih besar dibandingkan permintaan. Setiap rute memiliki jumlah penerbangan, jenis pesawat, kapasitas tempat duduk, dan tingkat keterisian yang berbeda.

Itulah sebabnya harga tiket tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jarak. Dua penerbangan dengan jarak tempuh hampir sama pun dapat memiliki tarif berbeda karena kondisi permintaan dan ketersediaan kursinya tidak sama.

Faktor waktu pembelian juga membuat harga yang ditemukan penumpang dapat berubah. Harga yang muncul dalam mesin pencarian penerbangan merupakan ketersediaan pada saat pencarian dan bukan angka yang berlaku tetap untuk seluruh waktu.

5. Jarak bukan satu-satunya penentu

Anggapan bahwa penerbangan yang lebih jauh pasti lebih mahal tidak selalu berlaku dalam penentuan harga tiket. Maskapai harus memperhitungkan berbagai biaya operasional selain konsumsi bahan bakar selama pesawat berada di udara.

Biaya bandara, awak pesawat, perawatan, penggunaan pesawat, proses lepas landas dan mendarat, hingga kegiatan turnaround menjadi bagian dari operasional penerbangan. Komponen tersebut tetap perlu diperhitungkan meskipun jarak penerbangannya relatif pendek.

Pada rute jarak pendek, sejumlah biaya operasional harus ditanggung dalam perjalanan yang berlangsung lebih singkat. Kondisi tersebut dapat membuat proporsi biaya tertentu terhadap keseluruhan perjalanan menjadi lebih besar.

Karena itu, membandingkan harga tiket Jakarta-Singapura dengan Jakarta-Padang, misalnya, tidak cukup hanya dengan menghitung kilometer perjalanan. Tarif yang muncul merupakan hasil dari berbagai komponen biaya, kapasitas, permintaan, dan kondisi persaingan pada masing-masing rute.

Pada akhirnya, harga tiket pesawat domestik yang terlihat lebih mahal daripada penerbangan internasional bukan semata-mata persoalan jarak. Harga dapat dipengaruhi harga avtur, fuel surcharge, pajak dan pungutan, biaya operasional, kapasitas kursi, permintaan penumpang, serta tingkat persaingan maskapai pada rute yang dipilih.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online