Harga Bahan Bakar Pesawat Melonjak, Tiket AirAsia Naik 20-25 Persen

Jumali
Jumali Senin, 28 September 2026 12:37 WIB
Harga Bahan Bakar Pesawat Melonjak, Tiket AirAsia Naik 20-25 Persen

Pesawat terbang Air Asia mendarat di YIA, Jumat (29/4/2022).

Harianjogja.com, JOGJA—Lonjakan harga bahan bakar pesawat mulai menekan biaya operasional maskapai dan berdampak pada harga tiket penerbangan baru. AirAsia menjadi salah satu maskapai yang harus menyesuaikan tarif setelah harga bahan bakar melonjak jauh dibandingkan ketika tiket-tiket sebelumnya dijual.

Pendiri AirAsia Tony Fernandes mengatakan persoalan utama muncul karena banyak tiket telah terjual jauh sebelum kenaikan harga bahan bakar terjadi. Saat tiket tersebut dijual, perhitungan biaya maskapai masih mengacu pada harga bahan bakar sekitar US$85 per barel.

Setelah perang pecah, harga bahan bakar kemudian melonjak hingga sekitar US$200 per barel. Kondisi itu membuat biaya yang harus ditanggung maskapai meningkat, sementara harga tiket penumpang yang sudah melakukan pemesanan tidak bisa begitu saja dinaikkan.

"Saya tidak bisa kembali dan meminta Anda membayar lebih. Saya tidak bisa mengatakan, 'Maaf, Anda sudah membayar 200 baht (US$6), tetapi karena Donald Trump, Anda harus membayar saya tambahan 200 baht lagi'," kata Fernandes dalam pengarahan media baru-baru ini, dikutip dari VN Express, Senin (28/9/2026).

Tiket Baru AirAsia Naik 20-25 Persen

AirAsia kini melakukan penyesuaian struktur biaya untuk menghadapi kenaikan harga bahan bakar tersebut. Maskapai juga menghadapi tambahan biaya yang berkaitan dengan operasional kargo.

Untuk pemesanan baru, tarif penerbangan telah disesuaikan dengan kondisi biaya bahan bakar. Harga tiket tercatat meningkat sekitar 20%-25% atau bahkan lebih dibandingkan sebelumnya.

Kenaikan tersebut menjadi bagian dari penyesuaian yang harus dilakukan maskapai setelah biaya bahan bakar bergerak jauh di atas asumsi ketika sebagian tiket dijual.

Situasi itu membuat maskapai harus membedakan antara tiket yang sudah terjual dengan pemesanan baru. Penumpang yang telah membeli tiket sebelumnya tidak dapat diminta membayar selisih biaya bahan bakar setelah harga naik.

Krisis Bahan Bakar Berbeda dengan Pandemi

Fernandes membandingkan kondisi saat ini dengan gangguan industri penerbangan akibat pandemi Covid-19. Menurut dia, pandemi berlangsung sekitar tiga hingga empat tahun, tetapi krisis bahan bakar kali ini memiliki persoalan berbeda karena tidak ada kepastian kapan perang yang memengaruhi harga energi akan berakhir.

"Saya bukan ahli politik atau politikus, tetapi saya bisa melihat bagaimana situasinya akan berkembang," ujarnya.

Fernandes mengatakan ketidakpastian tersebut menjadi salah satu alasan AirAsia perlu melakukan penyesuaian secara serius terhadap kondisi bisnisnya.

"Jika berlangsung lebih lama, kondisi ini tidak akan baik bagi siapa pun, terutama dunia usaha. Sepertinya situasi ini kemungkinan akan berlarut-larut, jadi inilah saatnya AirAsia beradaptasi secara serius," lanjut Fernandes.

Harga Bahan Bakar Jadi Tekanan bagi Maskapai

Kenaikan harga bahan bakar pesawat tidak hanya berdampak pada pemesanan tiket baru, tetapi juga menekan arus kas maskapai. AirAsia harus menanggung biaya bahan bakar yang lebih tinggi untuk tiket yang telah dijual ketika harga masih berada pada level yang lebih rendah.

Laporan The Nation mencatat AirAsia menghadapi tekanan karena tiket sudah dijual dengan asumsi harga bahan bakar sekitar US$85 per barel, sementara biaya aktual kemudian mendekati US$190 per barel. Maskapai juga disebut melakukan penyesuaian biaya dan tarif untuk menghadapi perubahan tersebut.

Pada September 2026, Fernandes juga menyampaikan bahwa AirAsia telah menyesuaikan tarif dengan memperhitungkan harga bahan bakar hingga sekitar US$180 per barel. Jika harga kembali naik, penyesuaian tarif lebih lanjut masih dimungkinkan.

Dengan demikian, lonjakan harga bahan bakar pesawat membuat maskapai harus mencari keseimbangan antara biaya operasional dan tarif yang dibebankan kepada penumpang. Tiket yang sudah terjual menjadi beban biaya yang tidak bisa langsung disesuaikan, sedangkan pemesanan baru dapat mencerminkan kenaikan biaya yang sedang dihadapi maskapai.

Bagi calon penumpang, perubahan tersebut berarti harga tiket penerbangan baru dapat lebih tinggi dibandingkan periode ketika biaya bahan bakar masih berada di level US$85 per barel. Besarnya perubahan tarif dapat mengikuti perkembangan biaya bahan bakar dan kebijakan masing-masing maskapai.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online