Wisata Tak Sekadar Foto, Kemenpar Garap Paket Tematik di Jogja

Newswire
Newswire Sabtu, 31 Oktober 2026 10:17 WIB
Wisata Tak Sekadar Foto, Kemenpar Garap Paket Tematik di Jogja

Suasana Bangsal Mandolosono Kraton Ngayogyakarta, Kamis (6/6/2024) - Harian Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA—Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengajak agen perjalanan dan tur operator lokal mengembangkan paket wisata tematik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan kawasan Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur, Magelang. Pengembangan tersebut diarahkan pada wisata berbasis ketenangan jiwa, gastronomi, dan budaya untuk menjawab perubahan minat wisatawan.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan wisatawan nusantara, khususnya segmen menengah ke atas dari wilayah Jabodetabek, kini mulai mencari pengalaman yang lebih mendalam. Mereka tidak lagi sekadar mendatangi destinasi untuk berfoto, tetapi juga menginginkan ketenangan jiwa dan narasi sejarah yang kuat.

“Tren wisatawan nusantara, khususnya segmen menengah ke atas dari wilayah Jabodetabek, kini tidak lagi sekadar mencari destinasi untuk berfoto, melainkan pengalaman mendalam yang memberikan ketenangan jiwa dan narasi sejarah yang kuat,” kata Ni Made Ayu Marthini dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

Menurut Made, perubahan minat tersebut menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

Kemenpar Perkenalkan Wisata Tematik Jogja

Untuk memperkenalkan potensi tersebut kepada pelaku industri perjalanan, Kemenpar menggelar kegiatan familiarization trip (famtrip) yang diikuti 10 agen perjalanan dan tur operator lokal. Kegiatan ini menjadi sarana bagi peserta untuk memahami pergeseran tren wisata masyarakat dari wisata massal menuju pengalaman yang lebih bermakna dan bernilai tinggi.

Perubahan tersebut sejalan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan yang menghadapi tekanan aktivitas sehari-hari. Liburan pun mulai dimanfaatkan sebagai sarana perawatan diri, pemulihan kesehatan mental, sekaligus kesempatan mendapatkan pengalaman berkesan.

Famtrip bertajuk "Harmoni Raga, Rasa dan Tradisi" berlangsung pada 16–20 Oktober 2026. Selain memperkenalkan pengalaman wisata, kegiatan tersebut juga menjadi ruang pertemuan bisnis atau business-to-business (B2B) antara pembeli dan penyedia layanan wisata.

Kegiatan itu diharapkan menghasilkan transaksi yang memberikan manfaat bagi ekonomi lokal sekaligus mendukung pencapaian target 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) pada 2026.

Dari Wisata Kuliner hingga Meditasi

Selama famtrip, peserta mengikuti sejumlah aktivitas yang memadukan kuliner, sejarah, budaya, dan kebugaran. Rangkaian kegiatan diawali dengan eksplorasi gastronomi bersama Dje Djak Rasa melalui Telusur Kampung Santan Spesial Ingkung di Bantul.

Dalam kegiatan tersebut, peserta menikmati sajian ayam ingkung yang diperkenalkan bersama kisah resep tradisionalnya. Eksplorasi kuliner kemudian berlanjut melalui "Senja Gastronomy Walking Tour: Telusur Tugu & Pecinan" untuk mengenal akulturasi budaya sekaligus mencicipi jajanan lokal.

Peserta juga mengikuti perjalanan "Tiga Wajah Mataram" bersama Remen Jawi. Agenda ini menghadirkan penjelajahan sejarah dan perjamuan lintas masa.

Pengalaman wisata berikutnya meliputi menikmati racikan teh personalisasi di Sadahurip, menjelajahi Kampung Wisata Purbayan, serta menyantap hidangan gastronomi etnik di Dapur Alit Jogja.

Rangkaian famtrip ditutup dengan sesi meditasi berkesadaran bersama Selaras Jiwo Journey. Kegiatan tersebut memadukan pengalaman relaksasi dengan penuturan kisah budaya.

Walking Tour Jadi Alternatif Slow Tourism

Selain wisata gastronomi dan budaya, kegiatan tersebut turut memperkenalkan potensi wisata jalan kaki atau walking tour. Aktivitas ini menjadi alternatif bagi wisatawan untuk menikmati destinasi secara lebih dekat melalui perjalanan santai dan mendalam atau slow tourism.

Menurut Made, berjalan kaki memungkinkan wisatawan berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat sekaligus mengenal lingkungan dan kehidupan di kawasan yang dikunjungi.

“Melalui jalan kaki, wisatawan tidak hanya melintasi ruang kota, tetapi dapat berinteraksi langsung dengan warga lokal, menghirup suasana kampung, serta meresapi cerita sejarah dan kuliner secara autentik di setiap sudut yang dikunjungi. Pengalaman sensorik seperti inilah yang dicari oleh wisatawan berkualitas tinggi masa kini,” ujar dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online