Pesta Miras di Permukiman Solo Digerebek, Empat Pria Ditangkap
Tim Sparta Polresta Solo mengamankan empat pria dan menyita sejumlah miras usai menggerebek pesta minuman keras di kawasan Gilingan, Solo.
Harianjogja.com, BANTUL-Begitu mendengar kata Pecel Baywatch, jangan biarkan pikiran Anda mengingat drama lawas yang menceritakan tentang kisah penjaga pantai. Kuliner satu ini justru terletak agak pelosok, di Dusun Semanggi, Kelurahan Sembungan, Kasihan, Bantul. Berikut asal-usul lokasi tersebut dinamai Pecel Baywatch.
Ialah Mbah Warno, pemilik warung pecel yang jadi buah bibir masyarakat DIY ini. Sehari-hari Mbah Warno selalu tampil unik dalam memasak. Ia jarang sekali mengenakan baju, hanya ada bra yang tersemat di dadanya. Konon, karena penampilan Mbah Warno yang nyentrik inilah, warung pecel ini dijuluki warung pecel Baywatch.
“Ya saya enggak pakai baju karena memang kepanasan. Lagipula dari dulu memang lebih nyaman kalau tampil begini saja,” terang Mbah Warno sambil menggoreng bawang di wajan beberapa waktu lalu.
Selain penampilannya yang unik, yang menjadi daya tarik warung ini adalah dapur, tempak memasak pecel yang didesain dengan sangat sederhana dan begitu alami. Menurut Mbah Warno, teknik memasak dengan peranti konvensional ini sudah diwarisinya dari orangtuanya sejak dulu.
“Kalau memasak tapi pakai kompor, rasanya kurang puas, Mbak, makanya pakai dapur tungku biar cepat matang,” ujarnya.
Meski dimasak di dapur yang sangat sederhana, cita rasa pecel racikan Mbah Warno tetap legit di lidah. Menurut Ramadhan,19, pengunjung warung pecel Baywatch, pecel Mbah Warno tidak kalah dari warung-warung lain di perkotaan. Hal lain yang menjadi keunggulan pecel Baywatch adalah harganya yang miring.
“Untuk empat orang hanya cukup mengeluarkan uang Rp30.000,” tambah Ramadhan. Padahal, lanjut Ramadhan, ia dan kawan-kawannya menyantap pecel, cemilan, kerupuk, dan mencomot gorengan yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tim Sparta Polresta Solo mengamankan empat pria dan menyita sejumlah miras usai menggerebek pesta minuman keras di kawasan Gilingan, Solo.
DPUPRKP Gunungkidul mencopot bando Selamat Datang Wonosari di Logandeng, Playen karena dinilai membahayakan setelah berusia lebih dari 10 tahun.
Pemprov DIY menetapkan empat kalurahan sebagai percontohan revitalisasi Lumbung Mataraman untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 31 Juli 2026 tersedia 15 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dengan layanan dari Yogyakarta hingga Palur.
Pemkab Kulon Progo dan BBWS Serayu Opak mengeruk Sungai Serang untuk mitigasi banjir sekaligus memanfaatkan sedimen bagi infrastruktur Porda DIY 2027.
DPC PDIP Sleman menggelar sarasehan dan nobar film Kudatuli di Minggir sebagai pendidikan politik serta penguatan soliditas kader menuju Pemilu 2029.