Klaim BPJS Ketenagakerjaan Tembus Rp242 Miliar
Cahyati Andarsih, 48, saat melayani pembelinya pada Peringatan Hari Pangan Dunia di halaman Kantor Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman, Kamis (9/10/2014). (JIBI/Harian Jogja/Rima Sekarani I. N).
Harianjogja.com, SLEMAN-Umumnya, dawet dibuat dari tepung beras yang diolah dengan berbagai bahan lain. Namun, Cahyati Andarsih memanfaatkan umbi-umbian untuk membuat cendol.
Tangan-tangan kreatif perempuan Sleman selalu berusaha menyajikan inovasi unik dan menarik dalam usaha olahan bahan pangan. Setelah Purwanti, warga Nayan, Maguwoharjo, Depok, yang membuat dawet ikan nila, Cahyati Andarsih membuat inovasi dawet ganyong pisang dan ubi ungu garut.
Warga Banteran, Donoharjo, Ngaglik, Sleman yang akrab disapa Bu Titik ini mengaku terinspirasi dengan Purwanti yang sudah lebih dulu membuat produk inovasi pangan berupa minuman dawet. Hari itu, dia kebetulan juga mendapat stan yang bersebelahan dengan
pendahulunya.Namun, dia tidak menggunakan bahan baku ikan, melainkan umbi-umbian.
“Saya ingin mengangkat bahan lokal, terutama umbi-umbian. Biar pilihan makanan kita semakin banyak variasinya,” ucap Titik.
Dawet umbi-umbian inovasi Titik pertama kali dibuat pada akhir September lalu. Tepatnya, usai Titik mengikuti pameran di Ambarukmo Plaza tanggal 26-28 September kemarin. Pada malam hari sebelum pameran, dia lantas mencoba bikin dawet.
Bahan yang digunakan untuk membuat dawet ubi ungu garut adalah ubi ungu, tepung garut, dan sagu. Sementara dawet ganyong pisang dibuat dari umbi ganyong, tepung pisang, dan sagu.
“Kita sebisa mungkin menghindari terigu,” ungkap Bu Titik.
Namun, membuat dawet ternyata diakui Bu Titik tidaklah mudah. Sekali mencoba, kata dia, bentuknya enggak langsung cantik. Sebab ganyong lebih cepat mengental, sehingga harus segera dicetak. Dari eksperimen ini, Titik menilai ubi ungu lebih mudah diolah daripada ganyong.
“Ganyong itu bau maupun warnanya kurang bagus, jadi saya tambahkan tepung pisang untuk mengatasi bau dan memercantik warnanya,” terangnya.
Selama tiga hari mengikuti pameran di Ambarukmo Plaza, Titik berhasil mengumpulkan Rp2 juta. Itu lah yang kemudian membuatnya terdorong untuk melanjutkan berjualan dawet seharga Rp5.000 per gelas itu.
“Kita melanjutkan di Pasar Tani setiap Jumat di Lapangan Pemda. Rencananya juga mau jualan di Lapangan Denggung kalau hari Minggu,” imbuh perempuan berusia 48 tahun tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Samsung mengungguli Apple dalam survei kepuasan pengguna smartphone di Amerika Serikat versi ACSI 2026. Galaxy S Series jadi yang tertinggi.
Dispertapang Kulonprogo mempercepat tanam padi MT 2 di Temon sebelum puncak El Nino agar produktivitas dan stok pangan tetap aman.
BRIN mengungkap penemuan 29 spesies flora baru di Indonesia sepanjang 2025 hingga awal 2026, termasuk Rafflesia dan anggrek.
Bulog mencatat stok beras mencapai 5,36 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah, didukung kapasitas penyimpanan 6,2 juta ton di seluruh Indonesia.
Pemda DIY memperkuat kesiapsiagaan bencana saat peringatan 20 tahun Gempa Jogja dengan menekankan budaya sadar risiko dan mitigasi.