Kredit Mobil Baru dan Bekas Melemah, OJK Soroti Dampak PHK
OJK mencatat pembiayaan mobil multifinance turun 3,61% hingga Mei 2026. Dampak PHK dinilai menjadi salah satu tantangan industri pembiayaan.
Candi Lawang tampak utuh mulai dari batur, kaki, candi dan pintu, tetapi tanpa atap./JIBI-Mariana Ricky P.D
Harianjogja.com, BOYOLALI—Lereng Gunung Merapi tak hanya menyimpan kekayaan alam tapi juga misteri. Temuan sejumlah candi dan situs menandakan beberapa abad lalu terdapat peradaban kuno di kawasan itu.
Dua candi berlokasi di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah. Desa ini berjarak 15 kilometer berkendara dari Kota Boyolali. Destinasi pertama yang saya tuju adalah Candi Sari.
Candi ini dulu bernama Candi Sono, yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti anjing. Dikeramatkan oleh warga setempat, Candi Sari dibangun di bukit yang lebih tinggi dari jalanan sekitar. Berlatarbelakang Gunung Merapi dan Merbabu, candi ini hanya ditemukan bagian dasarnya. Panjang candi sekitar empat meter dengan tinggi satu meter serta dilengkapi empat stupa kecil di keempat ujungnya.
Temuan Arca Durga, Ganesha dan Agastya menjadi dasar bahwa candi ini adalah candi Hindu. Selain itu ada pula arca Nandi, sapi kendaraan Dewa Shiwa serta lingga dan yoni. Sebelum roboh diterpa angin, Candi Sari memiliki ikon pohon beringin besar berumur ratusan tahun. Kini, batang pohon tersebut masih dapat dijumpai di sekitaran Candi Sari.
Berdasar catatan sejarah, candi tersebut kali pertama ditemukan pada 1967. Bukit di tempat Candi Sari berada dipercaya sebagai sumber mata air bagi penduduk setempat. Hal itu membuat situs candi dikeramatkan oleh warga. Untuk berkunjung ke sini, tak ada tiket masuk yang dibebankan. Momen yang tepat adalah pada sore hari sembari menantikan tenggelamnya matahari di antara gunung kembar Merapi-Merbabu.
Arah ke Lokasi
Jika kebingungan arah menuju Candi Sari, Anda bisa menanyakannya kepada penduduk setempat dari Pasar Cepogo. Atau bisa memanfaatkan map daring dari Google.
Selepas dari Candi Sari, saya bergeser ke Candi Lawang yang hanya berjarak lima kilometer, tepatnya di Dusun Dangean, masih di Desa Gedangan. Posisinya sedikit tersembunyi karena berada persis di belakang rumah warga. Sama seperti Candi Sari, tak ada tiket masuk bagi pelancong. Di situs ini ditemukan lima struktur bangunan, yakni candi induk dan empat candi perwara. Pada candi induk masih dapat dijumpai batur, kaki, tubuh bawah, dan pintu. Sementara, empat struktur bangunan lainnya hanya tersisa pondasi dan bagian atas bangunan.
Temuan yoni di sekitar situs menandakan candi ini adalah candi Hindu. Waktu pembangunan Candi Lawang tidak diketahui pasti. Secara relatif, periodesasi candi dapat diketahui dari langgam bangunan. Langgam bangunan dapat ditentukan berdasarkan bentuk perbingkaian bagian kaki candi dan bagian tubuh bawah yang berbentuk genta dan setengah lingkaran. Berdasarkan langgam tersebut periodesasi situs Candi Lawang dapat diketahui yakni antara 750 - 800 Masehi.
Ragam penghias bangunan ornamental Candi Lawang berupa antefiks dan hiasan untaian bunga, serta hiasan geometris antara lain motif gawang (kotak-kotak). Candi perwara di sebelah utara dan selatan berdenah bujur sangkar, sedangkan di sebelah timur berdenah persegi panjang. Temuan arca di sekitar Candi Lawang selain yoni, ada Arca Agastya dan Arca Durga yang kini disimpan di Museum Radya Pustaka Solo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
OJK mencatat pembiayaan mobil multifinance turun 3,61% hingga Mei 2026. Dampak PHK dinilai menjadi salah satu tantangan industri pembiayaan.
Presiden Prabowo mengingatkan 1.177 perwira TNI-Polri menjaga integritas, menjauhi korupsi, narkoba, judi, dan mengabdi kepada rakyat.
Warga Kotagede mengikuti pelatihan susur Sungai Gajah Wong untuk mendeteksi dini potensi banjir dan memperkuat mitigasi bencana.
Polres Bantul mengungkap peredaran 1.602 pil berlogo Y di Pleret dan Banguntapan. Seorang pemasok ditangkap berkat laporan warga.
Program Lumbung Mataraman di DIY menyalurkan KUR Rp9,17 miliar dan memperluas akses keuangan untuk memperkuat ekonomi kalurahan.
Empat perwira terbaik meraih Adhi Makayasa 2026. Tiga di antaranya alumni SMA Taruna Nusantara dan menerima pangkat dari Prabowo.