Bima Seta dari Jogonalan Terpilih Jadi Sapi Kurban Presiden Prabowo
Sapi jumbo 977 kg asal Klaten terpilih jadi kurban Presiden 2026. Dipelihara peternak muda, lolos uji kesehatan dan siap disembelih.
Ilustrasi Raja Ampat/Ist-Traveloka
Harianjogja.com, WASAI—Keanegaragaman hayati kawasan hutan di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat bakal dikembangkan dan ditata untuk menarik wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat Yusdy Lamatenggo di Waisai, Papua Barat mengatakan bahwa pariwisata Raja Ampat lebih terkenal adalah wisata bahari dibandingkan wisata darat, padahal potensi darat begitu luar biasa.
Dia mengatakan Balai Besar KSDA Papua Barat dan Fauna Flora International Indonesia Programme di Raja Ampat telah melakukan penelitian terkait kekayaan alam hutan Raja Ampat sebagai data awal guna dikembangkan sektor pariwisata.
Karena itu, kata dia, jika potensi darat tersebut dimasukkan dalam perencanaan pengelolaan pariwisata dinas pariwisata maka pariwisata daerah setempat akan lebih baik.
Menurut dia, Raja Ampat memiliki rencana induk tata daerah yang banyak mengatur laut. Pengelolaan pariwisata belum menyentuh daratan karena sebagian daratan termasuk cagar alam. Namun, kawasan sekitar cagar alam masih bisa memanfaatkannya.
"Tingginya keanekaragaman satwa dan tumbuhan di Raja Ampat menjadi daya tarik kegiatan pariwisata. Ada lebih dari 186 jenis burung, 40 jenis amfibi, 13 jenis reptil, 32 jenis mamalia, 350 jenis pohon kayu dan palem, 57 jenis anggrek, dan 5 jenis kantong semar yang dapat menjadi obyek untuk wisata," ujarnya.
Livelihood Officer Fauna dan Flora International Indonesia Programme Wolter Gaman yang memberikan keterangan terpisah, mengatakan program ekowisata yang didampingi oleh FFI salah satunya adalah wisata kampung dan alam.
Kegiatan pertama yang dilakukan adalah mengenalkan tentang pentingnya menjaga alam dan jasa lingkungan dapat dimanfaatkan dalam bentuk ekowisata. "Tidak saja keanekaragaman hayati, budaya, dan sosial masyarakat juga memiliki potensi yang tinggi untuk ekowisata," ucapnya.
Dikatakan, pendekatan kepada masyarakat tidak berhenti. Masyarakat semakin tertarik dalam mengembangkan kampung sebagai destinasi wisata.
Pada awal 2015 bersama BBKSDA Papua Barat, FFI mencoba menfasilitasi Kampung Warimak, Kalitoko, Wawiyai, Saporkren, dan Waifoi sebagai desa wisata.
Begitu pula Kampung Saporkren masyarakat semakin giat untuk mengembangkan guest house dan wisata pengamatan burung dan tenaga pemandu wisata.
Ia menyampaikan guna menghasilkan pribadi yang ramah terhadap para tamu, diselenggarakan pelatihan pelayanan guest house, homestay, dan teknik kepemanduan.
Selain itu, memberi bantuan solar sel dan kasur, serta melibatkan pemuda kampung untuk berperan aktif menjaga dan monitor wilayah mereka dengan memberi bantuan kamera dan GPS.
"Wisata yang tengah dikembangkan FFI bersama masyarakat lokal Raja Ampat, antara lain tracking panorama alam, tracking malam, mancing malam, wisata proses tokok sagu, aktivitas berkebun, pengamatan burung, gua kelelawar, budaya dan cerita rakyat," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sapi jumbo 977 kg asal Klaten terpilih jadi kurban Presiden 2026. Dipelihara peternak muda, lolos uji kesehatan dan siap disembelih.
Penembakan di Islamic Center San Diego tewaskan 5 orang. Diduga hate crime, FBI turun tangan, WNI dipastikan aman.
Pilur Gunungkidul 2026 segera dimulai. Regulasi hampir rampung, 31 kalurahan siap gelar pemilihan lurah serentak mulai Juni.
Mentan Amran bongkar skandal Kementan: mafia proyek, ASN dipecat, hingga dugaan benih Rp3,3 miliar. Pelaku terancam hukuman berat.
Industri perhotelan di Indonesia terus bergerak dinamis. Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap perjalanan bisnis dan wisata, The Ascott Limited.
Pemuda mabuk bawa celurit di Palagan Sleman diamankan polisi. Aksi tersebut sempat meresahkan warga Ngaglik.