KULINER GUNUNGKIDUL : Lagi, Ulat Jadi Kuliner Ekstrim dari Bumi Handayani

Warni memerlihatkan ulat jati hasil tangkapan dengan suaminya, Yudianto. Ulat-ulat itu bisa diolah menjadi lauk sebagai pendamping nasi. Jumat (9/1/2015). (JIBI/Harian Jogja - David Kurniawan)
12 Januari 2015 16:20 WIB David Kurniawan Wisata Share :

Kuliner Gunungkidul yang ditawarkan kali ini terbilang ekstrim, ulat di daun pohon jati.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Gunungkidul tidak hanya menawarkan potensi pariwisata alam yang melimpah ruah. Sebab, kabupaten pesisir di DIY juga sering kali menawarkan berbagai macam kuliner ekstrim. Tentunya kita sudah banyak tahu bagaimana hasil olahan dari belalang, jangkrik, Laron hingga puthul (cikal bakal kumbang). Namun, untuk satu ini banyak warga yang mencari ulat atau kepompong pohon jati.

Sepintas penganan ini terlihat menjijikan saat masih hidup. Namun, setelah melalui proses pengolahan, makanan itu bisa menjadi camilan atau
lauk yang memiliki cita rasa tinggi. Tak jarang warga mencari hewan-hewan itu untuk dikonsumsi sendiri, atau dijual ke pasar untuk tambahan penghasilan. Salah satunya, dapat dilihat di Dusun Munggur, Desa Kenteng, Kecamatan Panggang.

Belasan warga terlihat asyik mencari ulat atau ungkrung (kepompong) jati saat memasuki pertengahan musim hujan. Tak jarang mereka
mencarinya secara berkelompok. Salah satunya terlihat pasangan suami istri, Yudianto dan Warni. Hampir saban tahun melakukan rutinitas mencari ulat jati. Tak ada kesan jijik menyelimuti pasangan ini, mereka dengan terus mengumpulkan ekor demi ekor ulat.

Sang suami, Yudianto berperan sebagai pencari. Dia pun terus melakukan pengamatan terhadap pohon-pohon jati yang ada di sekitarnya.
Dengan cekatan, ia memajat ke salah satu pohon, kemudian menggoyang-goyangkan dahan, dengan harapan ulat-ulat yang
menempel daun jati bisa jatuh. Sementara itu, Warni yang berada di bawah pohon langsung mencari ulat-ulat jati yang jatuh. Dengan cekatan dan penuh ketelitian, ia berusaha mengumpulkan ulat-ulat dan memasukannya ke dalam plastik yang disediakan.

“Pasti banyak yang cari. Sebab, hasilnya selain untuk dimakan, juga bisa dijual untuk tambahan penghasilan,” kata Yudianto, saat ditemui
wartawan, di lokasi pencarian ulat, Jumat (9/1/2015).

Dia menjelaskan, aktivitas itu banyak dilakukan saat pagi atau sore hari. Namun, kebanyakan warga mencari di sore hari, karena aktivitas itu
dilakukan usai beraktivitas di ladang.

“Kalau ingin mudah dan enak itu dipagi hari, karena ulat-ulat itu pada turun untuk berubah menjadi kepompong. Tapi kalau saat sore, lebih
susah. Selain harus memanjat, terkadang saat mencari tangan menjadi merah-merah karena gesekan dengan daun jati yang kasar,” ungkap
Yudianto.

Sementara itu, Warni menambahkan ulat jati yang diperolehnya kemudian langsung dicuci. Proses memasaknya juga terhitung mudah, karena
bisa dimasak dengan cara dibacem atau dengan bumbu gurih. Dia menjelaskan, selain dikonsumsi, ulat-ulat itu juga sering dijual. Dalam sekali mencari, warga bisa mendapatkan ulat hingga dua kilogram.

“Kalau harganya sih berkisar Rp70.000 per kilogram. Untuk saat ini saya mencari digunakan sebagai lauk. Tapi kalau banyak akan menjualnya
ke pasar,” katanya.

Warni menambahkan,harga kepompong dari ulat jati bisa lebih mahal lagi. Di pasaran, harga jualnya mencapai Rp100.000 per kilogram. Hanya
untuk mencari kepompong lebih sulit ketimbang mencari ulatnya.

Warni mengaku, kebiasaan memakan ulat jati maupun kepompong sudah berlangsung lama, dan turun temurun. Setiap memasuki musim
hujan, dimana daun jati mulai tumbuh, ulat jati mulai banyak berkembang biak. Saat itulah warga berburu ulat jati untuk dikonsumsi.

“Tapi bagi warga yang memiliki kulit sensitif jangan berharap bisa menikmati hindangan ini. Sebab, kalau tetap nekat memakan pasti akan
mengalami gatal-gatal setelah memakannya,” kata dia memeringatkan.