WISATA KARANGANGYAR : Ziarah di Perbukitan Ngaglik

Astana Giribangun (JIBI/Harian Jogja - Bony Eko Wicaksono)
22 Maret 2015 16:20 WIB R Bony Eko Wicaksono Wisata Share :

Wisara Karanganyar minggu ini menampilkan ziarah di Atsana Giribangun.

Harianjogja.com, KARANGANYAR-Berlibur bersama keluarga tercinta sambil menikmati objek wisata religi merupakan pilihan yang tepat di akhir pekan. Astana Giribangun merupakan makam mantan Presiden Indonesia, Suharto. Kompleks pemakaman Keluarga Cendana ini terletak di Perbukitan Ngaglik di Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar. Bagaimana keindahan Astana Giribangun?

Semilir angin berhempus perlahan-lahan di kawasan lereng Pegunungan Sewu tepatnya di wilayah Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar. Udara sejuk pegunungan kian terasa dengan keindahan pemandangan panorama alam. Saya tak berani memacu kuda besi dengan kecepatan tinggi lantaran kondisi jalan cukup terjal dan berkelok-kelok.

Saya sempat berpapasan dengan rombongan bus dari arah berlawanan. Terdapat kertas putih ditempel di kaca bus bagian depan. Kertas itu bertuliskan rombongan peziarah yang bisa dibaca jelas karena hurufnya cukup besar. Di dalam benak saya, mungkin mereka rombongan peziarah yang baru saja mengunjungi kompleks pemakamanan Astana Giribangun.

Ya, Astana Giribangun merupakan salah satu objek wisata religi di Bumi Intanpari, sebutan lain Kabupaten
Karanganyar. Di kompleks permakaman itu, presiden kedua Indonesia yakni Suharto dan istrinya, Sri Hartinah yang akrab dipanggil Bu Tien dimakamkan.

Gapura berukuran besar menjadi pintu gerbang objek wisata Astana Giribangun. Kompleks permakaman ini dibangun pada 1974 silam. Sementara prosesi peresmiannya dilakukan pada 23 Juli 1976. Luas area Astana Giribangun kurang lebih sekitar 4,3 hektare.

Saya harus menaiki ratusan anak tangga menuju area makam Keluarga Cendana. Beberapa kali saya membasuh keringat yang mengucur deras di dahi. Sesekali, saya berhenti sejenak untuk beristirahat sambil mengeluarkan botol air kemasan di dalam tas. Cairan tubuh cukup terkuras setelah menaiki ratusan tangga ditambah udara yang cukup panas.

Akhirnya, saya sampai juga di Cungkup Argosari yang menjadi cungkup utama di Astana Giribangun. Di dalam cungkup inilah terdapat makam almarhum Suharto dan Bu Tien. Selain Cungkup Argosari, terdapat dua cungkup lainnya yakni Cungkup Argotuwuh dan Cungkup Argokembang. Cungkup Argosari merupakan cungkup tertinggi dibanding dua cungkup lainnya.

Menariknya, di dalam Cungkup Argosari terdapat empat tiang utama yang terbuat dari beton berukuran besar. Beton itu dilapisi kayu ukiran khas Jepara yang nampak begitu eksotis. Tak hanya itu, tiang utama juga dihiasi dengan logam kuning seperti emas. Saking kagumnya, saya menghambiskan waktu puluhan menit untuk mengamati bentuk tiang utama secara detail.

Ramai Peziarah Setiap hari, ratusan peziarah dari berbagai kota di Tanah Air mengunjungi kompleks permakaman Astana Giribangun. Mereka ingin mencari berkah atau ngalap berkah sambil melepas penat bersama keluarga di Astana Giribangun. Tak sedikit para pejabat maupun politisi kerap berziarah ke Astana Giribangun. Para peziarah wajib melepas alas kaki sebelum memasuki area makam Almarhum Suharto dan Bu Tien.

Bagi peziarah yang menempuh perjalanan jauh bisa beristirahat di serambi yang terdapat di sekitar area Astana Giribangun. Apabila tidak membawa bekal makanan, peziarah bisa mencicipi beberapa menu makanan yang disajikan warung makanan di sekitar area parkir kendaraan bermotor. Biasanya, para peziarah tak lupa membeli suvenir atau cindera mata sebagai oleh-oleh untuk keluarga atau teman. Bagi Anda yang menyukai wisata ziarah, Astana Giribangun menjadi objek wisata yang kudu dikunjungi.