Menikmati Berbuka Puasa Sembari Menatap Hamparan Sawah dan Perbukitan Menoreh

Beny Prasetya
Beny Prasetya Minggu, 03 Juni 2018 08:17 WIB
Menikmati Berbuka Puasa Sembari Menatap Hamparan Sawah dan Perbukitan Menoreh

Pengunjung sedang memakan geblek bersama tempe besengek di Geblek Pari yang berada di Desa Kembang, Nanggulan, Jumat (1/6/2018)./Harian Jogja-Beny Prasetya

Harianjogja.com, KULONPROGO --  Menunggu berbuka puasa memang sangat menjemukan. Terlebih bila hidangan untuk berbuka puasa telah tiba di depan mata namun Adzan Maghrib tak kunjung terdengar.

Namun hal tersebut mungkin tidak terjadi saat Anda berbuka puasa di Geblek Pari yang berada di Dusun Pronosutan, Kembang, Nanggulan.

Karena terletak di desa Kembang Nanggulan yang dijuluki Gerbang Menoreh, rumah makan seluas empat kali lapangan tenis itu menyuguhkan panorama barisan bukit Menoreh. Selain itu, lokasi yang berada di tepi sawah dan jalan pedesaan membuat restoran ini membawa suasana pedesaan.

Hidangan yang dihadirkan pun makanan lokal setempat. Layaknya Geblek, Tempe Besengek, Tempe Goreng, dan Bakwan Goreng. Tak kalah, minuman seperti Wedang Serai, Rosela, dan Jahe juga ada di tempat tersebut.

"Kami juga menghadirkan makanan seperti lodeh, brongkos dan lainnya untuk makan berat," kata Pengelola Geblek Pari, Prayeti Jumat (1/6/2018).

Pemilik Geblek Pari, Merici Putri menyatakan dipatoknya harga geblek senilai Rp5.000 per satu piring dengan pendamping tempe besengek dengan harga Rp5.000 memang sengaja diberikan untuk menekankan khas pedesaan yang tidak mahal. Selain itu pegawai yang dimiliki juga berasal dari ibu rumah tangga sekitar.

"Kan memang merakyat jadi tidak mahal," katanya.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan, rumah makan ini akan tetap buka di siang hari melayani pelanggan bukan muslim. Pasalnya bulan Ramadhan ini, Geblek Pari hanya buka tepat pukul 11.00 WIB hingga 20.00 WIB.

"Kami ada menu takjil juga kok untuk yang bulan puasa," katanya.

Salah satu pengunjung, Dani Julius asal Jogoyudan menyatakan panorama perbukitan menoreh yang dipadu dengan hamparan sawah mengingatkan dirinya seperti panorama di Ubud Bali.

"Pertama saya pernah baca postingan orang di media sosial katanya Nanggulan adalah Ubudnya Kulonprogo, dan memang keren," katanya.

Lebih lanjut makanan yang dihadirkan menurutnya tak mengecewakan lidahnya. Dirinya sebagai orang asli Balikpapan merasakan geblek dan tempe olahan dapur Geblek Pari bisa memanjakan lidahnya.

"Enak kok, gebleknya matangnya pas, jadi matangnya tidak di bagian luar saja, selain itu rasa tempe besengek juga enak," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online