Pasar Sempulur, Wisata Kuliner Tanpa Sampah di Samigaluh

Wisata kuliner tanpa sampah sekali pakai di Pasar Sempulur. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
03 November 2019 01:37 WIB Lajeng Padmaratri Wisata Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Potensi wisata di Kulonprogo saat ini tak hanya berkembang di sektor wisata alam, namun juga wisata budaya. Salah satunya dengan berwisata di Pasar Sempulur. Di sini, Pokdarwis Samigaluh membudayakan pengurangan potensi sampah pada pengunjung.

Pasar kuliner dan kerajinan ini baru saja dirilis pada Sabtu (19/10/2019) lalu dan dilaksanakan secara rutin tiap hari Sabtu. Di sana, dijajakan berbagai penganan tradisional dan kerajinan karya Pokdarwis Samigaluh, dengan satu aturan khusus, yaitu tidak boleh menggunakan wadah yang dapat berpotensi jadi sampah anorganik.

Ketua Pokdarwis Samigaluh, Setiyoko, mengatakan pada Harianjogja.com, Jumat (1/10/2019), jika pasar ini akan rutin dibuka di Camp Ground Watu Kruyuk, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, setiap hari Sabtu mulai pukul 13.13 - 21.21 WIB.

Para pedagang yang merupakan warga Desa Pagerharjo menjajakan berbagai kuliner dengan alat makan asli untuk meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai. Jika tidak diwadahi alat makan asli, maka pedagang akan menggunakan bahan alami untuk membungkus makanan.

Misalnya, nasi bakar, timus, geblek, dan beberappa gorengan lain yang dibungkus daun pisang. Minuman pun tak luput dari aturan ini. Jika tidak menggunakan gelas kaca, pedagang akan menaruh ws degan maupun dawet ke gelas bambu ataupun batok kelapa.

"Kami ingin mengedukasi masyarakat baik pembeli dan pedagang untuk membatasi penggunaan plastik dan kertas, terutama plastik ya, yang sekali pakai," ujar Yoko, sapaannya.

Sementara itu, jika ingin membawa pulang makanan, maka pengunjung disarankan untuk membawa wadah makan sendiri. "Kalau makanan kering bisa dibungkus dengan totebag ataupun besek yang kami sediakan," ujarnya.

Keunikan Pasar Sempulur tak sampai di situ. Di sana, pengunjung dilarang bertransaksi dengan uang rupiah. Sebelum jajan, pengunjung harus menukarkan rupiah dengan mata uang Sempulur, yaitu kepingan koin dari kayu. Koin ini juga jadi bentuk edukasi Pokdarwis Samigaluh untuk mengajak pengunjung mengelola limbah kayu.

"Ini sebagai bentuk edukasi kami menumbuhkan jiwa rekoso, tidak serba instan. Di era konsumtif seperti ini, sampah sudah banyak di Pagerharjo, makanya kami ajak kembali ke zaman simbah dulu. Jual beli tanpa plastik pun bisa, dengan memanfaatkan apa yang sudah disediakan alam," kata Yoko.