Dihantam Corona, Industri Pariwisata Dunia Diprediksi Anjlok 78 Persen

Keelokan pantai Karibia. Negara-negara di wilayah Karibia, yang sebagian besar mengandalkan pariwisata, mulai mencari cara untuk bangkit di tengah keterpurukan akibat pandemi corona. - Bloomberg
24 Mei 2020 08:17 WIB Nirmala Aninda Wisata Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Industri pariwisata dunia diprediksi mencatatkan kinerja terburuk sejak 1950 dan kehilangan pendapatan hingga triliunan dolar AS akibat pandemi Corona.

Menurut laporan Organisasi Pariwisata Dunia (World Tourism Organization/WTO), perjalanan wisata secara global tahun ini kemungkinan anjlok pada kisaran 58 persen hingga 78 persen dibandingkan dengan 2019 dan destinasi wisata dapat kehilangan pendapatan hingga US$1 triliun yang mengakhiri satu dekade pertumbuhan berkelanjutan.

Angka untuk kuartal pertama tahun ini menunjukkan bahwa pariwisata berada di jalur skenario buruk, dengan perjalanan turun 57 persen pada Maret saja (yoy) dan kerugian mencapai US$80 miliar.

"Belum ada yang dapat memastikan kapan dan ke mana pelancong dapat bepergian seperti biasa, tetapi negara-negara yang bergantung pada industri pariwisata tengah menyusun strategi untuk menyambut pengunjung bahkan di tengah pandemi," demikian pernyataan WTO seperti dilansir Bloomberg pada Sabtu (23/5/2020).

Memikat para wisatawan mungkin tidak mudah dan memberlakukan pengaturan untuk melindungi wisatawan dan penduduk lokal akan menjadi hal yang sangat diperlukan dan menantang.

Saint Lucia, dengan pendapatan dari perjalanan internasional inbound-nya mewakili lebih dari setengah produk domestik bruto, adalah salah satu negara pertama di Karibia yang mengumumkan rencana membuka kembali industri pariwisata.

Pada fase pertama, wisatawan AS akan diizinkan untuk mengunjungi negara pulau seluas hanya 617 km2 itu mulai 4 Juni, dan 1.500 kamar hotel sedang dipersiapkan untuk mematuhi proses sertifikasi Covid-19.

Penghentian pariwisata yang tiba-tiba di Karibia, ditambah lagi mereka belum sepenuhnya pulih dari badai Irma dan Maria pada 2017, akan mengakibatkan resesi terdalam lebih dari setengah abad, menurut perkiraan Dana Moneter Internasional (IMF).

Di Uni Eropa, larangan masuk terhadap semua wisatawan di luar zona Schengen, yang mencakup 30 negara Eropa, akan berakhir 15 Juni.

Sebagian besar negara anggota berencana melonggarkan lockdown dan mengembalikan denyut pariwisata terbatas di dalam blok terlebih dahulu.

Meski demikian, PDB negara-negara yang paling bergantung pada pariwisata seperti Yunani, Portugal, Siprus, Malta, dan Kroasia diperkirakan turun 5,8 persen hingga 9,7 persen pada 2020.

Selain itu, strategi membuka kembali izin wisata kepada pelancong dari negara-negara terdekat yang telah berhasil menangani penyebaran virus corona dipercaya dapat membangkitkan industri.

Australia dan Selandia Baru di Pasifik, Estonia, Latvia dan Lithuania di Eropa, serta China dan Korea Selatan di Asia telah memperkenalkan sebuah konsep yang disebut 'koridor perjalanan'.

Dari segi ketenagakerjaan, Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia mencatat bahwa secara global sektor perjalanan dan pariwisata memberikan 330 juta lapangan pekerjaan secara langsung dan tidak langsung sepanjang 2019.

Namun, penelitian terbaru mereka menunjukkan bahwa industri itu berisiko kehilangan lebih dari 100 juta pekerjaan karena pandemi Covid-19, dengan 75 persen dari mereka kemungkinan berasal dari ekonomi G20.

Penelitian World Travel & Tourism Council (WTTC) menunjukkan sudah 25 juta pekerjaan hilang dalam sebulan hingga akhir April. Maskapai penerbangan dan hotel adalah sektor pertama yang mengalami dampak ekonomi dari pandemi.

"Bahkan setelah pelancong merasa nyaman untuk melakukkan perjalanan lagi, dampak virus pada pariwisata kemungkinan akan bertahan lama," tulis Bloomberg.

Menurut WTTC, kondisi 'normal baru' dalam industri pariwisata akan terdiri atas standar dan protokol tambahan di bandara dan hotel seperti memberlakukan tes sebelum terbang dan pada saat kedatangan, pelacakan kontak, peningkatan prosedur kebersihan dan pembersihan di kabin dan selama menginap, serta peningkatan penggunaan check-in dan pembayaran tanpa kontak.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia