Selepas Covid-19, Model Pariwisata Bali Bakal Berubah

Pengunjung berendam di kolam air panas alami di resor Toya Devasya, yang bersumber langsung dari Gunung Batur, Kintamani, Bangli, Bali, Selasa (4/6/2019). - Bisnis/Tim Jelajah Jawa/Bali 2019
28 Mei 2020 09:37 WIB Luh Putu Sugiari Wisata Share :

Harianjogja.com, BALI  - Pariwisata Bali akan fokus pada destinasi alamnya menyongsong penerapan normal baru atau new normal selepas Covid-19.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau akrab disapa Cok Ace mengatakan Daya Tarik Wisata di Pulau Dewata selama ini terhadap wisman didominasi oleh budaya sebesar 65%, alam 30% dan wisata buatan 5%. Namun dengan adanya pandemi Covid-19, maka tidak mungkin untuk menampilkan budaya seperti tari-tarian dan beberapa pertunjukan lainnya.

"Untuk itu Pemprov Bali akan mengacu pada pilihan kedua yaitu mengedepankan daya tarik alam," Katanya dalam Webinar dalam tema Menyongsong Normalitas Kehidupan yang baru Pasca Covid-19, Rabu (27/5/2020).

Menurutnya, wisata alam juga mengandung nilai khasanah budaya yang dapat menarik hati para wisatawan. Sehingga diharapkan promosi pariwisata Bali kedepannya dapat berjalan dengan lancar. Sebab nilai budaya bali yang menjiwai daya tarik lainnya masih relevan untuk dikembangkan.

"Mari jadikan alam sebagai daya tarik pariwisata, back to nature dengan memadukan kearifan lokal dan protokol kesehatan," tuturnya.

Cok Ace mengungkapkan jika pemerintah pusat mengizinkan kembali dibukanya Bali sebagai destinasi pariwisata, maka tidak semua tempat wisata akan dibuka. Melainkan secara bertahap terlebih dahulu, dengan selalu mengevaluasi efektivitas protokol kesehatan yang diterapkan.

Ia menjelaskan, hal ini dilakukan agar wisatawan yang datang dan kembali pulang ke negaranya merasa aman dan nyaman. "Hal ini juga dilakukan untuk menjaga citra Bali sebagai tujuan favorit pariwisata dunia," tambahnya.

Dalam menyongsong normal baru, sambungnya, perlu disiapkan SOP protokol kesehatan yang berfokus pada kesehatan, kebersihan dan keamanan tersebut masih disusun secara terperinci dipersiapkan oleh tim.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI Dr. Achmad Yurianto mengatakan bahwa semakin hari kasus Covid-19 ini semakin melebar di Tanah Air, sehingga proses penularan masih berjalan.

"Diperkirakan puncak pandemi akan terjadi pada Juni dan mulai berakhir pada Agustus," imbuhnya.

Dia mengatakan, jika kurva Covid-19 sudah melandai maka pelan-pelan akan dilakukan pelonggaran. Sehingga jika terdapat wacana berapa daerah akan dilakukan pembukaan pariwisata maka harus dilakukan penyusunan SOP atau protokol kesehatan yang sangat tepat dan terperinci, protokol di tempat satu dengan lainnya tidak bisa disamakan.

Ia mencontohkan protokol kesehatan detail di pasar tidak bisa disamakan dengan protokol di sekolah. "Untuk itu daerah diminta untuk fokus dan serius dalam penyusunan SOP ini," tegasnya.

Setelah itu, lanjutnya, harus dilakukannya sosialisasi masif kepada masyarakat dan para wisatawan sehingga pembukaan pariwisata dapat berjalan dengan aman dan sehat.

Sumber : bisnis.com