Advertisement

Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja

Andreas Yuda Pramono
Senin, 13 April 2026 - 16:27 WIB
Maya Herawati
Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja Seorang konsumen saat menikmati suasana Kedai Tanjoe Kopi di Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Senin (6/4/2026). - Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Tekanan pasokan dan lonjakan harga kopi Gayo masih membayangi operasional Tanjoe Kopi di Caturtunggal, Depok, Sleman. Persaingan dengan pasar ekspor yang agresif membuat pelaku usaha kopi lokal harus beradaptasi cepat agar tetap bisa memenuhi kebutuhan roastery dan kedai di DIY.

Situasi ini muncul setelah distribusi sempat lumpuh akibat banjir di Aceh pada akhir November 2025. Sekitar delapan jembatan utama amblas sehingga jalur logistik terputus, memicu kekosongan stok di DIY sebelum akhirnya perlahan pulih.

Advertisement

Di tengah tekanan itu, Tanjoe Kopi tetap menjalankan aktivitasnya meski suasana kedai tampak lengang. Lokasinya yang berada di tengah perkampungan membuatnya menyatu dengan lingkungan sekitar, jauh dari hiruk pikuk kawasan urban di Caturtunggal.

Wahyu menyuguhkan kopi filter dengan metode japanese. Secangkir kopi arabika seharga Rp25.000 itu menghadirkan rasa masam tebal dengan bodi kuat yang mengingatkan pada tanah Aceh—wilayah yang dikenal sebagai penghasil kopi unggulan sekaligus sempat dilanda bencana ekologis.

Aceh memang telah lama menjadi nama besar di industri Food and Beverage (F&B) berkat kopi Gayo. Beragam kabupaten di wilayah ini memiliki karakter biji kopi masing-masing, yang kemudian menjadi fondasi awal berdirinya Tanjoe Kopi.

Usaha ini pada mulanya berfokus sebagai roastery, yakni tempat pengolahan biji kopi mentah menjadi siap seduh. Namun, seiring dinamika industri kopi nasional, Tanjoe berkembang dengan menghadirkan kopi seduh langsung kepada konsumen.

Rizki Awayna, 27, salah satu pendiri, memiliki kedekatan personal dengan kopi sejak kecil di Lhokseumawe, Aceh. Ia memulai perjalanan bisnis dari tawaran pamannya untuk menjual green bean dari Takengon.

“Paman saya punya kebun dan petani kopi di Takengon, mengolah kopi sendiri juga. Ditawarin menjualkan green bean. Dari situ peminatnya ada dan banyak. Apalagi Kopi Gayo juga salah satu yang terbaik di dunia kan,” kata Awayna.

Pada tahap awal, Tanjoe hanya menyimpan stok roasted bean sekitar 5 kilogram sebagai sampel. Namun, keterbatasan pasokan dari Takengon membuat mereka mencari pemasok lain agar kebutuhan pasar tetap terpenuhi.

Langkah itu membawa mereka ke Kabupaten Bener Meriah, wilayah dengan banyak sentra pengolahan kopi. Dari sana, Tanjoe mulai menjalin kerja sama untuk memasok kopi dengan metode semi wash.

Metode semi wash merupakan proses pencucian buah kopi yang dilanjutkan dengan pengeringan, tetapi tidak sebanyak tahapan pada full wash. Secara visual, hasil keduanya tidak jauh berbeda, tetapi karakter rasa baru terasa saat diseduh.

Proses semi wash atau giling basah ini menggunakan lebih sedikit air. Buah kopi dipisahkan dari bijinya, kemudian disimpan sementara sebelum dibersihkan dan masuk tahap pengeringan.

Untuk memperkaya variasi produk, Tanjoe juga mengeksplorasi kopi eksperimental seperti natural anaerobic. Mereka bahkan menyambangi Kampung Paya Dedep di Kecamatan Jagong Jeget, Aceh Tengah, untuk mencari profil rasa baru.

Seiring waktu, Tanjoe berkembang menjadi distributor utama green bean berkualitas dari Gayo. Dalam sebulan, mereka mampu mendatangkan 700 kilogram hingga 1,2 ton kopi untuk memenuhi kebutuhan roastery di DIY dan sekitarnya.

Namun, ujian besar datang ketika bencana banjir menghantam Aceh. Jalur distribusi terputus total, memaksa Tanjoe mencari alternatif dengan menjual kopi dari origin lain seperti Flores agar operasional tetap berjalan.

Setelah distribusi mulai pulih, tantangan baru muncul dalam bentuk lonjakan permintaan ekspor, terutama dari Tiongkok. Eksportir membeli kopi dalam bentuk ceri dengan harga jauh di atas standar lokal.

Harga ceri yang biasanya berkisar Rp15.000 hingga Rp18.000 per kilogram melonjak hingga Rp30.000 per kilogram. Kondisi ini membuat pelaku usaha domestik kesulitan bersaing dalam memperoleh bahan baku.

“Kendalanya sekarang adalah susahnya mengimbangi kebutuhan domestik untuk lokal dan kebutuhan untuk ekspor,” ujar Hendra.

Ia menilai belum adanya regulasi ketat terkait ekspor bahan mentah membuat produsen lokal harus berebut pasokan dengan eksportir bermodal besar. Dampaknya, harga kopi di tingkat distributor dalam negeri ikut terdorong naik.

Kenaikan tersebut kemudian membebani pelaku usaha roastery dan kedai kopi di daerah, termasuk di DIY yang memiliki ribuan coffee shop dengan persaingan ketat.

Meski demikian, Tanjoe tetap berkomitmen mengangkat kopi petani lokal. Mereka melihat konsumsi kopi kini telah bergeser menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

Untuk menyiasati kejenuhan pasar, Tanjoe memanfaatkan kedai fisik sebagai ruang kurasi. Pemilik roastery dapat mencicipi berbagai varian kopi Gayo sebelum membeli dalam jumlah besar.

Ke depan, Tanjoe berencana memisahkan unit bisnis roastery menjadi merek tersendiri. Langkah ini dipandang memiliki margin keuntungan lebih besar dibandingkan hanya menjadi distributor bahan mentah.

Namun, fokus utama mereka tetap pada stabilitas pasokan kopi Gayo. Menjaga kopi dari tanah kelahiran tetap hadir di meja seduh Jogja menjadi komitmen yang melampaui sekadar hitungan bisnis.

Di sisi lain, peran barista juga menjadi kunci menjaga hubungan dengan konsumen. Cherys Wahyu Herawanto, 25, berupaya menghadirkan pengalaman minum kopi yang nyaman dan personal.

“Setiap barista punya pakem seduhan dan selera masing-masing. Ada yang suka bodinya lebih bold atau bright,” kata Wahyu.

Ia menyesuaikan metode seduh dan karakter kopi berdasarkan preferensi dan suasana hati pelanggan. Pendekatan ini membantu menjaga keterikatan emosional antara kedai dan konsumen.

Bagi Tanjoe, secangkir kopi bukan sekadar minuman, tetapi juga ruang interaksi yang menjaga denyut pasar tetap hidup di tengah tekanan industri.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Bebas Retribusi ke Gunungkidul, Petugas Parangtritis Malah Kena Sindir

Bebas Retribusi ke Gunungkidul, Petugas Parangtritis Malah Kena Sindir

Bantul
| Senin, 13 April 2026, 17:37 WIB

Advertisement

3 Kebiasaan Pagi yang Bantu Turunkan Tekanan Darah

3 Kebiasaan Pagi yang Bantu Turunkan Tekanan Darah

Lifestyle
| Minggu, 12 April 2026, 20:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement