7 Siswa SMK Ngawi Sakit Usai Santap MBG, Ini Penjelasan Polisi
Tujuh siswa SMK Pamardi Siwi 2 Ngrambe, Ngawi, mengalami mual, muntah dan pusing setelah makan MBG. Sampel makanan diuji di laboratorium.
Masjid Sheikh Zayed Al Nahyan Solo. - Surakarta.go.id
Harianjogja.com, SOLO—Pergerakan wisatawan di Kota Solo menunjukkan pola baru. Dalam beberapa tahun terakhir, arus kunjungan tidak lagi terpusat pada destinasi berbayar atau situs budaya utama, tetapi mulai menyebar ke kawasan-kawasan publik yang bersifat terbuka.
Fenomena tersebut terlihat mencolok selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Kepala Bidang Destinasi dan Pemasaran Pariwisata Disbudpar Solo, Gembong Hadi Wibowo, menuturkan Pasar Gede, Koridor Gatot Subroto (Gatsu), dan kawasan Ngarsopuro menjadi titik keramaian paling menonjol.
“Area-area itu justru menjadi magnet baru. Meski tanpa tiket masuk, lonjakan pengunjungnya sangat terasa saat Nataru,” ujar Gembong saat dihubungi, Rabu (8/1/2026).
Ia menyampaikan, Disbudpar tetap menyiapkan mekanisme estimasi jumlah pengunjung untuk ruang publik. Pola serupa juga muncul di Taman Sriwedari, Monumen Pers, serta Masjid Raya Sheikh Zayed yang terus menjadi destinasi favorit.
Menurutnya, wisatawan kini lebih gemar mencari tempat yang menawarkan suasana segar, baru dibenahi, atau tengah menjadi perbincangan. Sementara destinasi klasik seperti keraton dan museum masih diminati, namun sudah tidak lagi menduduki posisi puncak kunjungan.
“Sekarang orang datang ke Solo tidak melulu ke destinasi yang itu-itu saja. Banyak yang datang untuk melihat Balekambang pasca revitalisasi, menikmati Solo Safari, atau berkunjung ke Masjid Raya Sheikh Zayed yang sampai hari ini masih sangat populer,” jelasnya.
Kunjungan dan Perilaku Wisatawan
Data Disbudpar menunjukan Masjid Raya Sheikh Zayed tetap menjadi destinasi nomor satu, kemudian Taman Balekambang dan Solo Safari.
Di sisi lain, perubahan perilaku wisatawan turut terlihat dari tingkat okupansi hotel. Sepanjang 2025, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) berada pada rata-rata 48,4%. Angka ini melonjak drastis saat musim puncak seperti Nataru.
Gembong menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa di luar periode libur panjang, sebagian wisatawan hanya singgah untuk kuliner atau berbelanja sebelum kembali pulang tanpa bermalam. “Bisa jadi mereka menginap di rumah kerabat, memilih homestay, atau hanya transit saja,” ujarnya.
Melihat kecenderungan itu, Disbudpar Solo berencana mengatur kembali kalender acara agar lebih selaras dengan momentum long weekend atau cuti bersama.
“Ketika event beririsan dengan libur panjang, dampaknya bisa lebih besar. Tidak hanya jumlah wisatawan yang naik, tetapi okupansi hotel juga berpeluang menembus 80 persen atau bahkan lebih,” kata Gembong.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tujuh siswa SMK Pamardi Siwi 2 Ngrambe, Ngawi, mengalami mual, muntah dan pusing setelah makan MBG. Sampel makanan diuji di laboratorium.
KPK menggeledah Kanwil Pajak Surakarta dan sejumlah lokasi di empat daerah terkait kasus pajak Banjarmasin. Emas 1,3 kg turut disita.
Gelombang tinggi kembali menyumbat aliran air di Sanden dan Kretek, Bantul. Sekitar 55 hektare lahan pertanian kembali tergenang.
BNN menangkap MR alias Bos Gendut, buronan pemilik 98 kg sabu di Kampung Bahari. Sejumlah aset dan barang bukti turut disita.
AIcosystem Buka Cara Baru dalam Mengelola Pengalaman Pelanggan hingga Pengembangan Asisten Virtual
Wacana pembatasan BBM subsidi menyasar desil 9-10. Simak cara cek desil DTSEN melalui situs Cek Bansos Kemensos dengan NIK.