Waspada, WHO Tetapkan Ebola Kongo-Uganda Darurat Kesehatan Global
WHO menetapkan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global akibat risiko penyebaran lintas negara.
Masjid Sheikh Zayed Al Nahyan Solo. - Surakarta.go.id
Harianjogja.com, SOLO—Pergerakan wisatawan di Kota Solo menunjukkan pola baru. Dalam beberapa tahun terakhir, arus kunjungan tidak lagi terpusat pada destinasi berbayar atau situs budaya utama, tetapi mulai menyebar ke kawasan-kawasan publik yang bersifat terbuka.
Fenomena tersebut terlihat mencolok selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Kepala Bidang Destinasi dan Pemasaran Pariwisata Disbudpar Solo, Gembong Hadi Wibowo, menuturkan Pasar Gede, Koridor Gatot Subroto (Gatsu), dan kawasan Ngarsopuro menjadi titik keramaian paling menonjol.
“Area-area itu justru menjadi magnet baru. Meski tanpa tiket masuk, lonjakan pengunjungnya sangat terasa saat Nataru,” ujar Gembong saat dihubungi, Rabu (8/1/2026).
Ia menyampaikan, Disbudpar tetap menyiapkan mekanisme estimasi jumlah pengunjung untuk ruang publik. Pola serupa juga muncul di Taman Sriwedari, Monumen Pers, serta Masjid Raya Sheikh Zayed yang terus menjadi destinasi favorit.
Menurutnya, wisatawan kini lebih gemar mencari tempat yang menawarkan suasana segar, baru dibenahi, atau tengah menjadi perbincangan. Sementara destinasi klasik seperti keraton dan museum masih diminati, namun sudah tidak lagi menduduki posisi puncak kunjungan.
“Sekarang orang datang ke Solo tidak melulu ke destinasi yang itu-itu saja. Banyak yang datang untuk melihat Balekambang pasca revitalisasi, menikmati Solo Safari, atau berkunjung ke Masjid Raya Sheikh Zayed yang sampai hari ini masih sangat populer,” jelasnya.
Kunjungan dan Perilaku Wisatawan
Data Disbudpar menunjukan Masjid Raya Sheikh Zayed tetap menjadi destinasi nomor satu, kemudian Taman Balekambang dan Solo Safari.
Di sisi lain, perubahan perilaku wisatawan turut terlihat dari tingkat okupansi hotel. Sepanjang 2025, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) berada pada rata-rata 48,4%. Angka ini melonjak drastis saat musim puncak seperti Nataru.
Gembong menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa di luar periode libur panjang, sebagian wisatawan hanya singgah untuk kuliner atau berbelanja sebelum kembali pulang tanpa bermalam. “Bisa jadi mereka menginap di rumah kerabat, memilih homestay, atau hanya transit saja,” ujarnya.
Melihat kecenderungan itu, Disbudpar Solo berencana mengatur kembali kalender acara agar lebih selaras dengan momentum long weekend atau cuti bersama.
“Ketika event beririsan dengan libur panjang, dampaknya bisa lebih besar. Tidak hanya jumlah wisatawan yang naik, tetapi okupansi hotel juga berpeluang menembus 80 persen atau bahkan lebih,” kata Gembong.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WHO menetapkan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global akibat risiko penyebaran lintas negara.
Jenis garam untuk hipertensi, perbandingan sodium, dan pilihan lebih aman bagi kesehatan jantung dan tekanan darah.
Elon Musk sebut Neuralink "teknologi level Yesus". Klaim ambisius ini tuai kritik pakar karena kurangnya bukti ilmiah. Simak fakta selengkapnya di sini.
Wali Kota Jogja menemukan kandang ayam, sampah, dan pendangkalan saat susur Sungai Code, Pemkot rencanakan normalisasi.
Perbaikan Jalan R Agil Kusumadya Kudus tuntas, akses Demak–Kudus kini mulus dengan anggaran gabungan pusat dan daerah Rp40 miliar.
Maarten Paes tampil solid bawa Ajax Amsterdam ke final playoff Europa Conference League. Simak performa kiper Timnas Indonesia vs Groningen di sini.