Mengenal Maskot Piala Dunia 2026: Trio Unik Maple, Zayu, dan Clutch
Piala Dunia 2026 hadirkan tiga maskot unik: Maple, Zayu, dan Clutch yang mewakili Kanada, Meksiko, dan AS.
Suasana Bangsal Mandolosono Kraton Ngayogyakarta, Kamis (6/6/2024) - Harian Jogja/ Alfi Annissa Karin
Harianjogja.com, JOGJA — Pariwisata di Jogja kini mengalami transformasi signifikan. Tren wisata global yang mengarah pada pengalaman autentik, personal, dan berkelanjutan mendorong Pemerintah Daerah DIY menghadirkan beragam destinasi baru yang lebih variatif dan berkarakter.
Jika dulu wisata Jogja identik dengan kawasan klasik seperti Malioboro, pantai, dan candi, kini pilihan wisata semakin berkembang. Mulai dari pengalaman menginap di alam terbuka hingga eksplorasi lokasi tersembunyi yang kaya nilai visual dan edukasi.
Glamping di Alam, Sensasi Baru Wisata Jogja
Salah satu tren yang tengah naik daun adalah glamour camping atau glamping di kawasan hutan pinus Dlingo, Bantul. Konsep ini menawarkan pengalaman menginap di tengah alam dengan fasilitas modern, memadukan kenyamanan dan suasana alami.
Tak hanya menarik wisatawan, keberadaan glamping juga berdampak langsung pada ekonomi masyarakat sekitar melalui pengembangan usaha lokal dan lapangan kerja baru.
Kotabaru, Wajah Heritage yang Lebih Tenang
Di pusat kota, kawasan Kotabaru mulai dikembangkan sebagai destinasi heritage yang nyaman dan tidak terlalu padat. Deretan bangunan kolonial yang terawat, jalur pedestrian yang rapi, serta suasana yang lebih santai menjadikannya alternatif wisata kota, terutama saat malam hari.
Hidden Gems Jogja yang Mulai Dilirik
Sejumlah destinasi tersembunyi atau hidden gems juga mulai mencuri perhatian wisatawan. Di Gunungkidul, Luweng Sampang menawarkan panorama tebing kapur yang kerap disebut mirip Grand Canyon versi Jogja.
Sementara di Sleman, Lava Bantal menghadirkan keunikan batuan vulkanik purba yang kini menjadi lokasi wisata edukatif. Ada pula Watu Giring dengan lanskap berundak yang estetik dan cocok untuk fotografi.
Desa Wisata dan Edukasi Bencana
Pengembangan pariwisata juga merambah desa wisata, salah satunya Rumah Domes yang dikenal sebagai Kampung Teletubbies. Selain unik secara visual, kawasan ini menyimpan nilai edukasi tentang hunian tahan gempa pascabencana 2006.
Kulonprogo dan Tren Wellness Tourism
Di Kulonprogo, tren wisata kesehatan atau wellness tourism mulai dikembangkan. Wisatawan dapat menikmati aktivitas seperti meditasi, konsumsi makanan tradisional sehat, hingga pengalaman tinggal di desa dengan suasana tenang yang mendukung pemulihan fisik dan mental.
Tamansari Tetap Jadi Ikon
Meski banyak destinasi baru bermunculan, ikon klasik seperti Tamansari tetap menjadi daya tarik utama. Kompleks ini menawarkan pengalaman unik dengan lorong bawah tanah dan kolam pemandian bersejarah yang tersembunyi di tengah permukiman warga.
Jogja Jual Pengalaman, Bukan Sekadar Destinasi
Transformasi ini menunjukkan bahwa Jogja kini tidak hanya menjual tempat wisata, tetapi juga pengalaman menyeluruh. Kombinasi antara wisata alam, budaya, edukasi, hingga kesehatan menjadikan Jogja semakin relevan dengan kebutuhan wisatawan modern.
Dengan arah pengembangan yang lebih berkelanjutan dan inovatif, Jogja terus mengukuhkan diri sebagai salah satu destinasi unggulan di Indonesia yang tak pernah kehilangan daya tariknya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Piala Dunia 2026 hadirkan tiga maskot unik: Maple, Zayu, dan Clutch yang mewakili Kanada, Meksiko, dan AS.
Pemkab Sragen menetapkan siaga darurat kekeringan 2026. Sebanyak 34 desa rawan terdampak, BPBD menyiapkan 500 tangki air bersih.
Mendagri Tito Karnavian meminta daerah memperbanyak nobar Piala Dunia 2026 untuk menggerakkan UMKM dan mendorong ekonomi lokal.
Kemenag membuka seleksi terbuka enam jabatan Eselon II. Pendaftaran berlangsung 12-26 Juni 2026 secara online.
Pelemahan rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS membuat biaya produksi dan logistik eksportir Jogja melonjak, margin keuntungan makin tertekan.
Pekan Fotografi Sewon 2026 di ISI Jogja menampilkan 32 karya tentang abrasi, krisis air bersih, dan upaya masyarakat menjaga lingkungan.