Juara Piala Dunia Ternyata Tak Bisa Membawa Pulang Trofi Asli
Juara Piala Dunia ternyata tidak bisa membawa pulang trofi asli. FIFA hanya memberikan replika resmi, sementara trofi asli tetap disimpan di Swiss.
Nauru/AFP
Harianjogja.com, JOGJA—Di tengah Samudra Pasifik, terdapat sebuah negara kecil bernama Nauru yang kerap dijadikan contoh bagaimana ketergantungan terhadap satu komoditas dapat memengaruhi masa depan sebuah negara.
Dengan luas wilayah sekitar 21 kilometer persegi, Nauru pernah menikmati masa kemakmuran luar biasa berkat cadangan fosfat yang melimpah. Mineral tersebut terbentuk dari akumulasi kotoran burung selama ribuan tahun dan menjadi komoditas ekspor utama negara itu setelah merdeka pada 1968.
Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, pendapatan dari ekspor fosfat mendorong perekonomian Nauru hingga mencapai salah satu tingkat pendapatan per kapita tertinggi di dunia. Pemerintah saat itu mampu menyediakan berbagai layanan publik bagi warga, mulai dari pendidikan hingga layanan kesehatan.
Namun ketergantungan terhadap satu sumber daya alam menjadi tantangan besar. Seiring menurunnya cadangan fosfat pada akhir 1980-an dan 1990-an, pendapatan negara mulai menyusut drastis. Kondisi tersebut memicu tekanan terhadap keuangan negara yang selama bertahun-tahun bergantung pada sektor pertambangan.
Upaya diversifikasi ekonomi yang terbatas membuat Nauru menghadapi berbagai kesulitan fiskal. Pada periode yang sama, negara ini juga mendapat sorotan internasional terkait lemahnya pengawasan sektor keuangan yang dimanfaatkan sejumlah pihak untuk aktivitas pencucian uang.
Masalah lain yang masih dihadapi hingga saat ini adalah kerusakan lingkungan akibat eksploitasi fosfat selama puluhan tahun. Sebagian besar wilayah daratan mengalami degradasi sehingga sulit digunakan untuk permukiman maupun kegiatan pertanian.
Selain persoalan ekonomi dan lingkungan, Nauru juga menghadapi tantangan kesehatan masyarakat. Perubahan pola konsumsi dari makanan tradisional menuju produk impor olahan menyebabkan tingginya angka obesitas dan diabetes di negara tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Nauru berupaya membangun sumber pendapatan baru melalui kerja sama internasional, termasuk dengan Australia. Bantuan dan kemitraan ekonomi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas negara yang berpenduduk sekitar 12.000 jiwa itu.
Kisah Nauru sering dipandang sebagai pelajaran mengenai pentingnya diversifikasi ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Kekayaan sumber daya memang dapat mendatangkan kemakmuran dalam waktu singkat, tetapi tanpa perencanaan jangka panjang, manfaat tersebut sulit dipertahankan untuk generasi berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Juara Piala Dunia ternyata tidak bisa membawa pulang trofi asli. FIFA hanya memberikan replika resmi, sementara trofi asli tetap disimpan di Swiss.
Pekan Fotografi Sewon 2026 di ISI Jogja menampilkan 32 karya tentang abrasi, krisis air bersih, dan upaya masyarakat menjaga lingkungan.
Standar kerja layak ekonomi platform dari ILO menjadi momentum memperkuat perlindungan ojol, kurir online, dan pekerja digital di Indonesia.
KPK menyita dokumen saat menggeledah Kantor Bupati Muara Enim dan sejumlah lokasi terkait penyidikan kasus dugaan korupsi dan suap.
Pemerintah mempercepat bansos digital setelah ditemukan lebih dari 40% bantuan sosial tidak tepat sasaran. Sistem baru diklaim lebih akurat dan cepat.
Taman Nasional Kutai menjaga enam flora penting Kalimantan, mulai ulin, pasak bumi, meranti hingga anggrek hitam demi kelestarian ekosistem.