Shakira Ajak Warga Bersatu Setelah Gempa Dahsyat di Kolombia
Shakira menyampaikan dukungan untuk korban gempa M 7,4 di Kolombia yang menewaskan lebih dari 111 orang dan merusak sejumlah kota.
Paspor, visa - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Mayoritas penduduk Indonesia ternyata belum pernah melakukan perjalanan ke luar negeri. Temuan itu terungkap dalam survei global yang dilakukan Pew Research Center, yang menunjukkan sebanyak 92 persen warga Indonesia belum pernah mengunjungi negara lain.
Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia dalam daftar negara dengan penduduk yang paling jarang bepergian ke luar negeri. Hanya India yang mencatat persentase lebih tinggi, yakni 95 persen penduduknya belum pernah meninggalkan negaranya.
Temuan ini memperlihatkan bahwa perjalanan internasional masih belum menjadi pengalaman yang dapat diakses oleh sebagian besar masyarakat di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sebaliknya, sejumlah negara Eropa mencatat tingkat mobilitas internasional yang sangat tinggi. Survei tersebut menunjukkan 99 persen warga Swedia dan Belanda pernah melakukan perjalanan ke luar negeri.
Indonesia Berada di Posisi Kedua Setelah India
Data Pew Research Center memperlihatkan kesenjangan besar dalam pengalaman perjalanan internasional antarnegara.
Selain India dan Indonesia, sejumlah negara lain juga memiliki persentase tinggi penduduk yang belum pernah ke luar negeri.
Berikut daftar negara dengan penduduk paling jarang bepergian ke luar negeri berdasarkan hasil survei:
Masuknya Jepang dan Amerika Serikat dalam daftar tersebut menjadi salah satu temuan menarik. Meski termasuk negara maju, masih terdapat kelompok masyarakat yang belum pernah melakukan perjalanan internasional.
Faktor Ekonomi hingga Kekuatan Paspor
Pew Research Center menjelaskan bahwa tingkat mobilitas internasional tidak hanya dipengaruhi oleh keinginan masyarakat untuk bepergian.
Ada sejumlah faktor yang berperan, mulai dari tingkat pendapatan, kekuatan paspor, kebijakan visa, infrastruktur transportasi, letak geografis, hingga budaya bepergian yang berkembang di suatu negara.
Di negara-negara dengan pendapatan tinggi dan akses perjalanan yang mudah, bepergian ke luar negeri cenderung menjadi aktivitas yang lebih umum.
Sebaliknya, masyarakat di negara berkembang sering menghadapi berbagai hambatan, terutama dari sisi biaya perjalanan.
Tiket pesawat, penginapan, dokumen perjalanan, hingga kebutuhan selama berada di luar negeri menjadi pengeluaran besar yang tidak mudah dijangkau oleh banyak orang.
Dalam laporannya, Pew memberikan contoh kesenjangan yang terjadi di Belanda.
"Di Belanda, 61 persen orang dengan penghasilan relatif tinggi telah mengunjungi setidaknya 10 negara lain, dibandingkan dengan 29 persen orang yang berpenghasilan lebih rendah,"
Temuan tersebut menunjukkan bahwa faktor ekonomi tetap menjadi salah satu penentu utama dalam mobilitas internasional.
Keinginan Bepergian Sering Lebih Besar dari Kemampuan
Selain mengukur pengalaman perjalanan, survei Pew Research Center juga meneliti keinginan masyarakat untuk mengunjungi negara lain.
Hasilnya menunjukkan banyak orang yang ingin bepergian ke luar negeri, tetapi belum memiliki kemampuan untuk mewujudkannya.
"Keinginan untuk berwisata ke luar negeri sering kali lebih besar dibandingkan kemampuan untuk mewujudkannya,"
Kenya menjadi contoh yang paling menonjol dalam temuan tersebut.
Sebanyak 81 persen responden di negara itu menyatakan ingin mengunjungi negara lain apabila memiliki kesempatan. Namun di sisi lain, 72 persen penduduk Kenya belum pernah bepergian ke luar negeri.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara aspirasi dan kemampuan yang masih terjadi di banyak negara berkembang.
Apa Maknanya bagi Indonesia?
Posisi Indonesia sebagai negara dengan persentase penduduk kedua tertinggi yang belum pernah ke luar negeri menunjukkan masih terbatasnya akses perjalanan internasional bagi masyarakat.
Selain faktor ekonomi, kemudahan memperoleh paspor, persyaratan visa, konektivitas penerbangan, hingga biaya perjalanan menjadi faktor yang turut memengaruhi kondisi tersebut.
Meski demikian, tingginya angka 92 persen bukan berarti masyarakat Indonesia tidak memiliki minat untuk bepergian ke luar negeri.
Survei Pew justru menunjukkan bahwa keinginan menjelajahi negara lain sering kali lebih besar dibandingkan kemampuan finansial untuk melakukannya.
Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, berkembangnya akses transportasi udara, serta semakin luasnya konektivitas internasional, peluang warga Indonesia untuk melakukan perjalanan lintas negara diperkirakan akan terus meningkat pada masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Shakira menyampaikan dukungan untuk korban gempa M 7,4 di Kolombia yang menewaskan lebih dari 111 orang dan merusak sejumlah kota.
NTP Juli 2026 mencapai 127,84, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Mentan Amran menyebut reformasi pertanian mulai meningkatkan kesejahteraan petani.
Desil 1 hingga 4 dalam DTSEN menjadi prioritas penerima PKH, BPNT, BLT Kesra, dan beras 10 kg pada Agustus 2026.
Gempa M7,4 guncang Kolombia, 132 tewas dan 570 luka. 86 bangunan runtuh, 7 bandara lumpuh. Presiden de la Espriella tetapkan status darurat nasional.
Yaqut Cholil menjalani sidang perdana kasus dugaan korupsi kuota haji. KPK akan mengurai konstruksi perkara dan potensi kerugian Rp622 miliar.
YouTube Shorts kini bisa menghasilkan uang. Simak syarat monetisasi 2026: 1.000 subscriber, 10 juta views 90 hari, dan hindari 7 jenis konten terlarang