Mukbang 60 Telur Pitan, Kreator Muda China Meninggal di Usia 24
Ganfan Yingying, kreator konten makanan dengan 1,2 juta pengikut, meninggal di usia 24 tahun akibat kebiasaan memuntahkan makanan. Simak pesan terakhirnya!
Logo ilustrasi perdamaian dunia. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Indonesia berada di peringkat ke-69 dalam Global Peace Index (GPI) 2026, sementara Islandia kembali mempertahankan posisi sebagai negara paling damai di dunia. Di sisi berlawanan, Rusia untuk pertama kalinya menempati posisi terakhir sebagai negara dengan tingkat perdamaian terendah.
Laporan yang diterbitkan Institute for Economics & Peace (IEP) tersebut menempatkan 163 negara dan wilayah berdasarkan tingkat kedamaian. GPI 2026 menggunakan 23 indikator yang dikelompokkan dalam tiga domain utama, yakni keamanan dan keselamatan masyarakat, konflik yang sedang berlangsung, serta militerisasi.
Posisi Indonesia menjadi perhatian karena sejumlah negara Asia Tenggara berada lebih tinggi dalam daftar tersebut. Malaysia menempati peringkat ke-12 dunia, Timor-Leste peringkat ke-32, Vietnam ke-41, dan Laos ke-58. Indonesia berada di posisi ke-69 dengan skor 1,918.
Islandia Kembali Jadi Negara Paling Damai
Islandia mempertahankan posisi puncak GPI 2026 untuk tahun ke-19 berturut-turut. Negara tersebut mencatat skor 1,161, sekaligus menjadi satu-satunya negara yang mempertahankan posisi pertama dalam periode panjang tersebut.
Di bawah Islandia terdapat Selandia Baru, Swiss, Slovenia, dan Irlandia. Austria, Portugal, Singapura, Finlandia, dan Jepang melengkapi 10 besar negara paling damai dalam GPI 2026.
Jepang menjadi satu-satunya negara yang masuk 10 besar setelah mengalami kenaikan peringkat cukup signifikan, yakni dari posisi ke-13 pada GPI 2025 menjadi peringkat ke-10 pada 2026.
Malaysia menjadi negara Asia Tenggara dengan posisi tertinggi, yakni peringkat ke-12 dunia. Negara tersebut juga berada di atas Singapura yang menempati peringkat kedelapan dan Jepang di posisi ke-10 dalam daftar global.
Rusia Jadi Negara Paling Tidak Damai
Perubahan besar terjadi di bagian bawah klasemen. Rusia menempati peringkat ke-163 atau posisi terakhir GPI 2026 dan untuk pertama kalinya tercatat sebagai negara paling tidak damai dalam indeks tersebut.
Rusia berada di bawah Sudan yang menempati peringkat ke-162, Republik Demokratik Kongo ke-161, Ukraina ke-160, dan Israel ke-159.
Posisi tersebut mencerminkan besarnya pengaruh konflik bersenjata terhadap tingkat perdamaian sebuah negara. IEP menyebut konflik menjadi pendorong utama penurunan perdamaian global dalam jangka panjang.
Perdamaian Dunia Turun 12 Tahun Berturut-turut
GPI 2026 mencatat tingkat perdamaian dunia kembali memburuk. Rata-rata tingkat kedamaian negara-negara yang dinilai turun 0,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut menjadi kemerosotan tahunan ke-12 secara berturut-turut. IEP mencatat 99 negara mengalami penurunan tingkat kedamaian dalam setahun terakhir, sedangkan 62 negara mengalami perbaikan.
Jumlah konflik bersenjata yang berlangsung dan meningkatnya pengeluaran militer menjadi bagian dari persoalan yang mendorong memburuknya kondisi perdamaian global.
IEP juga mencatat 119 negara atau sekitar 73 persen negara yang dinilai kini memiliki tingkat kedamaian lebih rendah dibandingkan ketika GPI pertama kali diterbitkan pada 2007.
Indonesia Tertinggal dari Empat Negara ASEAN
Indonesia mencatat skor 1,918 dan berada di peringkat ke-69 dunia. Dalam konteks Asia Tenggara, posisi tersebut membuat Indonesia berada di bawah Malaysia, Timor-Leste, Vietnam, dan Laos.
Malaysia menjadi negara Asia Tenggara dengan peringkat terbaik di posisi ke-12. Timor-Leste berada di peringkat ke-32, Vietnam ke-41, sedangkan Laos menempati posisi ke-58.
Setelah Indonesia, posisi negara-negara Asia Tenggara lainnya adalah Kamboja di peringkat ke-96, Thailand ke-101, Filipina ke-102, Singapura ke-8, serta Myanmar ke-151.
Data tersebut menunjukkan posisi Indonesia masih berada di kelompok menengah dalam pemeringkatan GPI, meskipun jauh lebih baik dibandingkan negara-negara yang berada di posisi terbawah.
Tiga Faktor yang Mendorong Penurunan Perdamaian
IEP mengidentifikasi tiga perubahan struktural yang menjadi pendorong utama memburuknya perdamaian dunia. Pertama adalah redistribusi kekuatan global yang secara bertahap mengikis tatanan geopolitik pasca-Perang Dingin.
Kedua, konflik semakin menyebar lintas batas melalui arus pengungsi, senjata, keuangan, dan ideologi. Kondisi tersebut membuat dampak konflik tidak lagi terbatas pada negara yang menjadi lokasi pertempuran.
Faktor ketiga adalah perkembangan senjata otonom dan sistem penargetan yang menggunakan kecerdasan buatan (AI). Perkembangan teknologi tersebut berlangsung lebih cepat daripada kemampuan kerangka tata kelola internasional dalam mengaturnya.
IEP menyebut perkembangan teknologi perang bahkan telah mempercepat proses penargetan dari hitungan hari menjadi hitungan detik dalam sejumlah konteks konflik.
Dengan kondisi tersebut, GPI 2026 menunjukkan bahwa perubahan tingkat perdamaian tidak hanya dipengaruhi oleh ada atau tidaknya perang terbuka, tetapi juga oleh keamanan masyarakat, konflik domestik dan internasional, serta tingkat militerisasi setiap negara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ganfan Yingying, kreator konten makanan dengan 1,2 juta pengikut, meninggal di usia 24 tahun akibat kebiasaan memuntahkan makanan. Simak pesan terakhirnya!
GPI 2026 menempatkan Islandia sebagai negara paling damai dan Rusia paling tidak damai. Indonesia berada di peringkat ke-69 dunia.
Komisi C DPRD DIY berharap Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat untuk 2027 naik minimal 10%. Tambahan dana tersebut dinilai dibutuhkan untuk menutup k
Hindari malware di Android dengan mengunduh aplikasi dari sumber resmi, memeriksa izin akses, dan mengaktifkan Google Play Protect.
Enam Jembatan Garuda telah selesai dibangun di Gunungkidul. Infrastruktur ini disiapkan untuk memperkuat akses warga, terutama saat musim hujan.
Persib Bandung masih dibayangi rekor tanpa kemenangan di kandang Persija Jakarta sejak 1986 dalam pertandingan kompetisi resmi.