Daftar 10 Negara Paling Percaya Sains 2026, Indonesia Peringkat 89

Jumali
Jumali Jum'at, 30 Oktober 2026 12:57 WIB
Daftar 10 Negara Paling Percaya Sains 2026, Indonesia Peringkat 89

Ilustrasi neurosains/ Ist-neurosciencenews.com

Harianjogja.com, JOGJA—Kepercayaan masyarakat terhadap sains di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Dalam survei global Wellcome Global Monitor 2026, Indonesia menempati peringkat ke-89 dari 140 negara dengan 20,1% responden yang menyatakan sangat percaya pada sains.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan tidak selalu sejalan dengan kemajuan ekonomi maupun teknologi suatu negara. Sejumlah faktor, mulai dari pendidikan, pengalaman hidup, hingga informasi yang diterima masyarakat, turut membentuk pandangan terhadap sains.

Survei Wellcome Global Monitor edisi 2026 melibatkan lebih dari 140.000 responden berusia 15 tahun ke atas di 140 negara. Pengumpulan data dilakukan pada 2025 untuk mengukur sikap masyarakat terhadap sains.

Dalam pengukuran peringkat, responden diminta menyatakan seberapa besar kepercayaan mereka terhadap sains. Daftar negara disusun berdasarkan persentase masyarakat yang menjawab memiliki kepercayaan sangat tinggi atau a lot.

Secara global, sebanyak 72% responden mengaku cukup atau sangat percaya pada sains. Angka tersebut menurun dibandingkan hasil survei 2020 yang mencapai 80%.

Hasil survei yang dikutip dari Visual Capitalist itu memperlihatkan perbedaan tingkat kepercayaan yang cukup lebar antarnegara. Spanyol menempati posisi teratas, sedangkan Togo berada di urutan terbawah.

10 Negara Paling Percaya Sains pada 2026

Negara-negara Eropa mendominasi daftar dengan tingkat kepercayaan sangat tinggi terhadap sains. Dari 16 negara yang mayoritas respondennya menyatakan sangat percaya pada sains, 12 di antaranya berasal dari Eropa.

Berikut 10 negara dengan persentase kepercayaan tertinggi:

  1. Spanyol: 67,9%

  2. Finlandia: 65,9%

  3. Uzbekistan: 63,8%

  4. Tajikistan: 60,7%

  5. Jerman: 59,7%

  6. Belgia: 59,3%

  7. Norwegia: 58,6%

  8. Kanada: 54,3%

  9. Islandia: 53,8%

  10. Swedia: 53,5%

Posisi Uzbekistan dan Tajikistan menjadi salah satu temuan menarik dalam survei tersebut. Kedua negara itu berada di atas sejumlah negara kaya yang memiliki lembaga penelitian lebih mapan.

Temuan ini memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi dan ketersediaan fasilitas riset bukan satu-satunya faktor yang menentukan kepercayaan masyarakat terhadap sains.

10 Negara dengan Kepercayaan Terendah terhadap Sains

Di sisi lain, sejumlah negara mencatatkan persentase responden dengan tingkat kepercayaan sangat tinggi yang relatif rendah. Togo berada di posisi paling bawah dengan angka 5,8%.

Berikut daftar 10 negara dengan persentase terendah:

  1. Gambia: 12,2%

  2. Mauritius: 11,7%

  3. Albania: 10,8%

  4. Moldova: 10,4%

  5. Jamaika: 10,2%

  6. Pakistan: 9,3%

  7. Georgia: 9,1%

  8. Somalia: 9,1%

  9. Makedonia Utara: 8,2%

  10. Togo: 5,8%

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa sikap masyarakat terhadap sains tidak terbentuk oleh satu faktor saja. Tingkat pendidikan dan kondisi ekonomi, misalnya, belum cukup untuk menjelaskan mengapa suatu negara memiliki kepercayaan lebih tinggi dibandingkan negara lainnya.

Visual Capitalist juga menyoroti bahwa agama bukan penentu tunggal. Negara-negara dengan agama mayoritas yang sama ternyata dapat memiliki tingkat kepercayaan terhadap sains yang berbeda.

Indonesia di Peringkat ke-89, Filipina Tertinggi di ASEAN

Indonesia berada di urutan ke-89 dari 140 negara. Sebanyak 20,1% responden di Tanah Air menyatakan memiliki tingkat kepercayaan sangat tinggi terhadap sains.

Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi tengah. Filipina menjadi negara dengan peringkat tertinggi di kawasan tersebut, yakni posisi ke-35 dengan persentase 37,6%.

Meski demikian, Indonesia masih berada di atas Malaysia, Laos, Kamboja, dan Thailand dalam daftar survei tersebut.

Kepercayaan terhadap sains memiliki pengaruh terhadap berbagai keputusan publik, mulai dari menjaga kesehatan hingga merespons perubahan iklim. Masyarakat yang percaya pada ilmu pengetahuan cenderung lebih terbuka terhadap kebijakan yang didasarkan pada hasil penelitian dan bukti ilmiah.

Sebaliknya, ketimpangan, rendahnya kepercayaan terhadap institusi, misinformasi, serta perbedaan pandangan politik dapat memengaruhi cara masyarakat menerima informasi ilmiah.

Karena itu, peningkatan kepercayaan terhadap sains tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan teknologi atau pertumbuhan ekonomi. Lembaga yang dapat dipercaya dan komunikasi publik yang terbuka serta mudah dipahami juga diperlukan agar hasil penelitian dan pengetahuan ilmiah lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online