Asita Khawatir Kenaikan Harga Tiket Pesawat Hambat Pertumbuhan Wisata
Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY menilai kebijakan kenaikan harga tiket pesawat akan menghambat pertumbuhan wisatawan
Wisatawan menikmati wisata di Puncak Gunung Gede, di Desa Getas, Kecamatan Playen, Jumat (4/1/2019)./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Wisatawan yang mengunjungi wilayah Gunungkidul akan disajikan dengan berbagai wisata alam yang menarik. Tidak hanya pantai, tetapi juga bentang alam lainnya, salah satunya Puncak Gunung Gede, di Desa Getas, Kecamatan Playen.
Di objek wisata ini wisatawan akan disajikan dengan pemandangan pepohonan yang hijau dan asri dari atas ketinggian. Selain itu wisatawan juga dapat melihat Gunung Merapi dari puncak ini.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gunung Gede, Sukardi mengungkapkan pengembangan wisata ini sudah berlangsung dua tahun terakhir. Beberapa spot selfie juga mulai dibangun di puncak Gunung Gede. Saat masuk objek wisata ini wisatawan akan melewati jembatan yang terbuat dari bambu untuk memudahkan wisatawan menuju puncak Gunung Gede.
“Sudah ada spot selfie. Pemandangan yang disajikan disini, baik sunset dan sunrise terlihat. Kalau pagi juga disini aka nada kabut, jadi seperti ada diatas kabut,” ujar Sukardi, Minggu (6/1/2019).
Untuk masuk di objek wisata ini wisatawan hanya perlu membayar parkir sebesar Rp2.000 untuk motor dan untuk mobil sebesar Rp5.000. Pemasukan tersebut dimanfaatkan oleh pihak pengelola untuk pengembangan fasilitas objek wisata.
Saat ini sendiri sejumlah fasilitas, selain spot foto juga sudah ada gazebo, toilet, musala. Sukardi mengungkapkan kendala yang dihadapi dalam pengembangan objek wisata ini yaitu minimnya anggaran dan jumlah pengelola yang masih sedikit, sekitar 20 orang.
Meski begitu dikatakannya dengan keterbatasan yang ada, tetap coba dikembangkan potensi wisata tersebut. Setidaknya dalam satu hari ada 25 kunjungan, dan jika akhir pekan bisa mencapai ratusan kunjungan.
Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul Hary Sukmono mengungkapkan saat ini memang wisata puncak Gunung Gede belum masuk pengelolaan Dispar, dan masih dikelola komunitas.
Meski begitu dikatakan Hary dalam penguatan kelembagaan komunitas akan digandeng pelatihan maupun pengukuhan lembaga Pokdarwis tersebut agar mampu melayani wisatawan sesuai kadiah-kaidah sapta pesona, karena Pokdarwis sebagai wadah para pelaku wisata di sekitar destinasi tersebut.
Hary menghimbau untuk pengelolaan wisata dapat berkomunikasi dengan Dinas agar ada pendampingan dari Dispar baik dari sisi objeknya, Sumber Daya Manusianya, maupun aturannya. “Hal tersebut untuk sinergi antar kelompok dengan pemerintah dalam pelayanan kewisataan,” kata Hary.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY menilai kebijakan kenaikan harga tiket pesawat akan menghambat pertumbuhan wisatawan
Jennifer Coppen dan Justin Hubner mengumumkan rencana pernikahan di Bali pada Juni 2026 dengan tiga konsep adat berbeda.
Ketimpangan antara jumlah advokat profesional dan masyarakat pencari keadilan di Indonesia masih menjadi isu sistem peradilan.
Kemkomdigi mengkaji aturan wajib nomor HP untuk registrasi akun media sosial guna memperkuat keamanan dan akuntabilitas ruang digital.
Seiring perkembangan teknologi ada metode yang disebut dengan backfilling untuk mengelola limbah tambang agar tak merusak lingkungan.
Pemkab Bantul memastikan tidak lagi membuka rekrutmen honorer baru dan fokus menyelesaikan tenaga non-ASN melalui skema PPPK.