Advertisement

Digelar 2-4 September 2022, Mengenal Dieng Culture Festival dan Tradisi Ruwatan Bocah Gimbal

Widya Islamiati
Kamis, 01 September 2022 - 09:17 WIB
Arief Junianto
Digelar 2-4 September 2022, Mengenal Dieng Culture Festival dan Tradisi Ruwatan Bocah Gimbal Sejumlah wisatawan menyaksikan ritual potong rambut Gimbal saat dilangsungkan Dieng Culture Festival (DCF)-6 di komplek candi Arjuna kawasan dataran tinggi Dieng, Batur, Banjarnegara, Jateng,. - Antara

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA -Gelaran Dieng Culture Festival akan digelar mulai 2-4 September 2022. Sejumlah artis dan budayawan dijadwalkan hadir. Di antaranya adalah penyanyi Denny Caknan, Andien, Marcell Siahaan, Budi Doremi, dan budayawan Emha Ainun Nadjib.

Dilansir dari visit.banjarnegarakab, acara Dieng Culture Festival di Banjarnegara adalah serangkaian acara dalam festival budaya dengan menyinergikan antara unsur budaya di masyarakat, potensi wisata alam Dieng, juga pemberdayaan masyarakat. Sinergi ini adalah misi dasar dibuatnya festival ini.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Festival ini mulanya digagas dengan nama Pekan Budaya Dieng oleh masyarakat dan pemudi Dieng Kulon. Setelah berjalan selama tiga tahun tepatnya pada 2010, acara ini ini kemudian diubah menjadi Dieng Culture Festival atas kesepakatan masyarakat dan pemuda Dieng Kulon serta membuat kelompok sadar wisata untuk hal ini.

Selain mengadakan Dieng Culture Festival yang berkaitan dengan pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat, kelompok sadar wisata juga aktif dalam mengenalkan potensi wisata pada masyarakat, dari berbagai sudut pandang, termasuk dalam segi ekonomi.

BACA JUGA: Festival 5.000 Apem Akan Digelar di Ngemplak Sleman, Catat Tanggalnya!

Kelompok sadar wisata kemudian mengadakan Dieng Culture Festival dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk organisasi dan Dinas Kepariwisataan di Dieng. Ini kemudian menjadikan Dieng Culture Festival menjadi salah satu pertunjukan tradisi yang dinantikan oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Ada apa saja di Dieng Culture Festival?

Banyak acara yang diadakan dalam rangkaian acara di Dieng Culture Festival, tetapi salah satunya yang menjadi khas dan paling banyak diminati oleh wisatawan adalah tradisi ruwatan sebagai puncak acara Dieng Culture Festival serta pentas jaz di atas awan. Kedua acara ini sanggup mengundang ribuan orang datang ke Dieng demi menikmati keduanya.

Advertisement

Apa itu tradisi ruwatan?

Ruwatan adalah tradisi pemotongan rambut gimbal yang dilakukan oleh masyarakat Dieng. Ruwatan memang sudah menjadi tradisi yang melekat dengan kebudayaan Jawa, tujuannya untuk menghilangkan kesialan dan menolak bala.

Ruwatan di Dieng juga memiliki tujuan yang sama. Namun, ruwatan di Dieng dilakukan pada anak kecil berambut gimbal yang biasa disebut ruwatan bocah gimbal. Fenomena ini cukup unik, pasalnya akan ada rambut gimbal yang tumbuh pada anak-anak tertentu dengan usia antara 40 bulan hingga enam tahun.

Advertisement

Rambut gimbal pada anak tersebut akan ditandai dengan suhu tubuh yang tinggi dan berlangsung selama beberapa hari. Pada pagi hari saat akan muncul rambut gimbal di kepala anak tersebut, suhu tubuhnya juga akan perlahan kembali normal. Anak berambut gimbal inilah yang akan menjadi pemeran utama dalam ruwatan bocah gimbal.

Acara ruwatan bocah gimbal dimulai dengan ritual doa di beberapa tempat tertentu, di antaranya Candi Dwarawati, kompleks Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatotkaca, Telaga Balaikambang, Candi Bima, Kawang Sikidang, Gua di Telaga Warna, Kali Pepek, serta tempat pemakaman Dieng.

Ritual doa ini dilakukan dalam satu hari, pada hari kedua akan ada kirab, dalam kirab ini, anak dengan rambut gimbal akan dikawal oleh para sesepuh, tokoh masyarakat, kelompok paguyuban seni juga masyarakat. Iring-iringan kirab ini mengelilingi desa dan berakhir di tempat pemotongan rambut.

Asal-usul anak gimbal

Advertisement

Masyarakat Dieng mempercayai bahwa anak-anak berambut gimbal ini merupakan anak titipan dari Kyai Kolo Dete. Dahulu, Kyai Kolo Dete adalah pejabat pada masa Mataram Islam atau sekitar abad ke-14 yang datang ke Dieng untuk mempersiapkan pemerintahan kerajaan Mataram di daerah ini.

Kyai Kolo Dete dengan istrinya, Nini Roro Rence kemudian mendapatkan wahyu dari Ratu Pantai Selatan. Selain itu, keduanya juga mengemban tugas untuk mengantarkan Dieng pada kesuksean. Uniknya, masyarakat Dieng juga percaya bahwa tolak ukur kesejahteraan ditandai dengan munculnya anak gimbal.

Sejak saat itu, banyak anak gimbal yang muncul di daerah ini. Bagi masyarakat Dieng, semakin banyak anak gimbal, semakin sejahtera dan makmur pula daerah mereka.

Kabar baiknya, setelah dua tahun ditiadakan karena terhalang pandemi, Dieng Culture Festival kembali diadakan pada tahun ini. Dilansir dari laman Instagram kemenparekraf dan festivaldieng2022, Dieng Culture Festival akan diadakan 2-4 Sepetember mendatang.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Advertisement

alt

Pasar Sentul Jogja Akan Dibangun Lebih Modern, Sedot Danais Rp25 Miliar

Jogja
| Jum'at, 09 Desember 2022, 22:17 WIB

Advertisement

alt

Sebaiknya Dihindari, Ini 9 Efek Buruk Tidur dengan Lampu Menyala

Lifestyle
| Jum'at, 09 Desember 2022, 21:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement