Taiwan Bebaskan Visa 3 Negara ASEAN, Indonesia Masih Antre
Taiwan perpanjang bebas visa untuk Thailand, Filipina, Brunei—Indonesia belum masuk! Wisatawan dapat tinggal 14 hari mulai 1 Agustus 2026. Simak syaratnya di si
Foto ilustrasi maskapai penerbangan. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Rencana liburan ke Australia atau Eropa berpotensi lebih mahal, seiring lonjakan harga energi global yang mulai membebani maskapai penerbangan dunia.
Kenaikan biaya ini tidak hanya berdampak pada operasional maskapai, tetapi juga berpotensi langsung dirasakan penumpang melalui harga tiket yang semakin tinggi dalam waktu dekat.
Salah satu maskapai yang sudah merasakan tekanan tersebut adalah Qantas Airways. Maskapai nasional Australia itu mengungkapkan lonjakan biaya bahan bakar membuat mereka harus menyesuaikan strategi penerbangan.
Langkah yang diambil tidak main-main. Qantas mulai mengurangi kapasitas penerbangan domestik, yang berarti jumlah kursi yang tersedia akan berkurang. Dalam kondisi seperti ini, harga tiket biasanya terdorong naik karena permintaan tetap tinggi.
Dalam laporan yang dikutip dari Bloomberg (14/4/2026), harga bahan bakar jet disebut melonjak lebih dari dua kali lipat sejak proyeksi terakhir pada Februari. Lonjakan ini terjadi setelah konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran memicu ketidakstabilan pasar energi global.
Meski sekitar 90 persen kebutuhan bahan bakar telah dilindung nilai, Qantas tetap terdampak kenaikan margin pemurnian bahan bakar yang melonjak tajam. Kondisi ini membuat biaya operasional maskapai meningkat signifikan.
Margin pemurnian bahan bakar bahkan naik drastis dari sekitar US$20 per barel menjadi sekitar US$120 di puncaknya. Dampaknya, total biaya bahan bakar Qantas untuk paruh kedua tahun ini diperkirakan mencapai A$3,1 miliar hingga A$3,3 miliar, jauh di atas estimasi sebelumnya sekitar A$2,5 miliar.
Selisih biaya yang besar ini menjadi beban tambahan yang harus ditanggung maskapai, baik melalui efisiensi operasional maupun penyesuaian harga tiket kepada penumpang.
Tekanan tersebut juga terlihat di pasar saham. Saham Qantas sempat turun hingga 3,8 persen dan secara keseluruhan telah melemah sekitar 12 persen sejak konflik dimulai.
Untuk merespons kondisi ini, Qantas memangkas kapasitas penerbangan domestik sekitar 5 persen dan melakukan penyesuaian rute. Anak usahanya, Jetstar, juga melakukan langkah serupa.
Di sisi lain, maskapai justru menambah penerbangan ke Eropa, seperti Paris dan Roma. Hal ini dipicu oleh meningkatnya permintaan, karena sebagian penumpang menghindari rute yang melewati kawasan konflik.
Bagi masyarakat yang berencana bepergian, kondisi ini menjadi sinyal penting untuk mulai mengatur strategi. Kenaikan harga tiket bukan hanya dipicu musim liburan, tetapi juga faktor global seperti konflik geopolitik dan harga energi.
Jika tren ini berlanjut, biaya perjalanan udara berpotensi terus meningkat, sehingga pemesanan lebih awal dan pemantauan harga menjadi langkah penting agar tidak terbebani biaya yang lebih tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Taiwan perpanjang bebas visa untuk Thailand, Filipina, Brunei—Indonesia belum masuk! Wisatawan dapat tinggal 14 hari mulai 1 Agustus 2026. Simak syaratnya di si
Emergency kit mobil dapat membantu pengemudi menghadapi kondisi darurat seperti ban bocor, aki tekor, atau kendaraan mogok. Simak daftar perlengkapan yang wajib
Gunungkidul dipastikan tidak memberangkatkan peserta transmigrasi pada 2026 karena minimnya kuota yang diterima DIY. Padahal, masih ada sekitar 30 kepala keluar
Media Vietnam The Thao 247 menyoroti kemenangan Timnas Indonesia 3-0 atas Bali United. Hasil tersebut dinilai menjadi sinyal kesiapan skuad Garuda menghadapi Pi
Survei Ipsos menunjukkan 75 persen masyarakat Indonesia menilai negaranya berada di jalur yang benar. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara paling
Pemerintah menyiapkan perluasan dana BPDP untuk kakao guna meningkatkan produktivitas dan mengembalikan kejayaan kakao Indonesia.