Kamu Memang Jalan-Jalan, Tetapi Jangan Umbar Kebohongan Ini Ya

Ilustrasi traveling - fluentu
11 September 2018 18:35 WIB newswire Wisata Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Habis jalan-jalan memang membanggakan. Setelah liburan banyak yang pamer foto di jejaring sosial sampai pamer rasa senang ketika pulang.

Namun di balik keindahan atau keasyikan perjalanan tersebut, ternyata ada kebohongan-kebohongan yang kerap kali Anda katakan, bahkan tidak Anda sadari. Berikut ini di antaranya seperti dilansir Budgettraveler, belum lama ini.

Jalan-Jalan Itu Relaksasi

Kenyataannya jalalan-jalan itu bikin lelah lho. Iya kan? Akui saja. Setelah mengemudi di tempat yang bagi mereka asing, bertengkar dengan seorang warga asli, hingga lelah mengemas barang bawaan.

Untuk itu, agar tidak merasa lelah luangkanlah waktu untuk mencicipi makanan, berbaur dengan orang-orang sekitar tanpa keramaian hingga menjauhkan diri dari hiruk pikuk dan stres. Janganlah berpikir bisa melihat segalanya dan melakukan semuanya.

Saya Tidak Mengecek Email

Kalimat itu juga bagian dari kebohongan traveller. Pasalnya, mereka tetap membawa telepon genggam saat berada di objek wisata, mulai dari kolam renang, pantai, mendaki hingga ekspedisi reruntuhan bersejarah.

Maka, solusi dari hal tersebut ialah mengaktifkan mode airplane, sehingga saat asyik menikmati liburan Anda tidak lagi terganggu notifikasi yang menjengkelkan karena bisa datang kapan saja.

Perjalanan Saya Sangat Romantis

Ini juga jadi kalimat yang sering dikatakan para pasangan traveller. Padahal, mereka bisa saja mengalami sebuah pertengkaran kecil seperti perdebatan mengenai makanan yang dikonsumsi saat berada di tempat tujuan, hingga cemburu pada traveller lain yang ditemui di destinasi wisata.

Cara agar tidak terjadi pertengkaran yaitu bicarakan sebelumnya pada pasangan tentang tujuan wisata kalian dan komitmen hubungan yang serius, untuk menghindari perkelahian yang tidak perlu dan sama sekali tidak menghasilkan hal positif.

Mempererat Ikatan Keluarga

Tidak selalu berakhir seperti ini sebenarnya. Pasalnya, anak remaja kerap kali terlalu sibuk dengan ponsel mereka dan hubungan pertemanannya. Sementara Anda akan sibuk merayunya agar mau menikmati liburan bersama keluarga.

Untuk memperbaiki hal tersebut, Anda bisa membicarakan pada anak sebelum memulai perjalanan, seperti aturan-aturan kecil yang mengharuskan anak untuk menikmati liburan tanpa gangguan, tapi beri tahu dengan cara yang halus, agar anak tidak tersinggung dan merasa privasinya dicampuri.

Tidak Sabar untuk Kembali Lagi

Kenyataannya, traveller yang mengatakan seperti itu hanya berusaha untuk menghibur dirinya sendiri. Yang banyak terjadi setelah melancong uang akan habis. Dan butuh waktu panjang untuk bisa melancong lagi, jadi mustahil untuk bisa kembali lagi.  

Sumber : Okezone