Museum Pasifika Bali Bisa Jadi Pusat Seni Dunia

Museum Pasifika - museum/pasifika.com
11 Oktober 2018 10:35 WIB newswire Wisata Share :

Harianjogja.com, DENPASAR—Museum Pasifika di Nusa Dua, Bali, yang menyimpan 600 koleksi seni dan budaya dari negara-negara Asia Pasifik. Museum ini berpeluang menjadi pusat seni dunia.

Museum Pasifika baru saja menerima penghargaan yang diterima Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Prancis berupa certificate of appreciation (CoA) yang diberikan kepada salah seorang pendiri Museum Pasifika, Philippe Augier pada 24 September 2018.

Prancis menilai kiprah Philippe Augier selama ini turut meningkatkan hubungan baik antara Indonesia dengan Prancis, khususnya di bidang seni budaya dan ekonomi. CoA itu diberikan oleh Duta Besar RI untuk Prancis, Monaco, dan Andora, yakni Dr Hotmangaradja Pandjaitan.

Penghargaan ini baru pertama kali diberikan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris, dan memang secara khusus diberikan kepada warga negara yang dinilai memiliki kontribusi besar untuk membangun hubungan baik antarnegara, khususnya di bidang seni budaya dan ekonomi.

Sebagai salah seorang pendiri Museum Pasifika, Philippe Augier menyatakan rasa terima kasih atas penghargaan yang telah diterima dari KBRI Prancis. Ia menyatakan tidak menyangka akan menerima penghargaan ini.

"Untuk bidang ekonomi dan budaya, saya memang sudah terlibat berpuluh tahun lalu, terutama setelah menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri Prancis-Indonesia. Sudah tidak terhitung jumlah investor dari Prancis yang diperkenalkan potensi investasi di Indonesia," ujarnya.

Bertaraf Internasional

Dalam bidang budaya, peran Philippe tidak bisa dibilang sepele. Sejak 2006, pria berkebangsaan Prancis yang bermukim di Indonesia ini telah mendirikan Museum Pasifik, yang dibangun bersama Popo Danes (seniman Bali) serta Moektaryanto (pengusaha dari Jogja).

Museum ini disebut sebagai The Largest Asia Pacific Art Museum karena 600 lebih koleksinya yang terdiri atas lukisan dan patung seni dari berbagai wilayah di Asia Pasifik, terbilang memiliki kualitas terbaik, sehingga menjadi tujuan wisata  budaya yang bertaraf internasional.

Dengan lebih dari 600 karya seni yang dipamerkan secara permanen, Museum Pasifika mengusung koleksi yang unik perpaduan beragam genre seni yang terdiri dari Master Indonesia mulai dari Raden Saleh hingga ke Lempad, dari Affandi dan Hendra Gunawan hingga ke Kobot, yang seluruh koleksinya berasal dari 50 artis Indonesia.

Misi Museum Pasifika adalah untuk menciptakan pusat seni internasional, menawarkan program pendidikan seni kepada anak-anak dan siswa sekolah Indonesia dan Bali, serta untuk mengusulkan objek wisata "kelas atas" di kompleks BTDC.

Museum Pasifika menawarkan tema berdasarkan karya seniman Asia Pasifik, dan telah menciptakan sekolah seni formal atau informal yang dalam proses belajar berpadu dengan seniman daerah.

Guna mendukung edukasi pada generasi muda, maka sudah lebih dari 30.000 anak sekolah dan siswa memilih untuk mengunjungi Museum Pasifika. Sebagian besar digratiskan, atau dengan biaya simbolis.

"Kalau untuk museum, saya tidak membicarakan berapa biaya yang diperlukan untuk membangun atau biaya perawatan setiap bulan. Ini berbicara soal kecintaan dan pelestarian pada seni budaya. Bagaimana agar budaya di dunia ini tidak hilang begitu saja. Ini tidak bisa dinilai dengan sekadar uang," katanya.

Apalagi, di Bali ada Kabupaten Gianyar yang menjadi daerah kedua di Indonesia setelah Yogyakarta, yang telah diusulkan menjadi anggota kota kerajinan dunia atau WCC (World Craft City), mengingat segala bentuk seni dan kerajinan hidup dan berkembang di Gianyar, apalagi Gianyar banyak didukung oleh seniman-seniman muda yang kreatif dan inovatif.

Potensi Gianyar itu akan bersinergi dengan Museum Pasifika sebagai pusat seni dunia yang juga telah banyak menerima penghargaan dari tingkat nasional hingga dunia, di antaranya penghargaan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk keterlibatan dan prestasi di industri pariwisata Indonesia sejak pembukaan Museum pada 2006.

 

Sumber : Antara