Koperasi Merah Putih Jogja Siap Produksi 65 Ribu Batik Segoro Amarto
KKMP Jogja siapkan produksi 65 ribu batik sekolah, dorong UMKM dan perajin batik semakin berkembang.
Ilustrasi turis asing./Harian Jogja-Gigih M Hanafi
Harianjogja.com, JOGJA—Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menggagas arah baru pengembangan kampung wisata di Kota Jogja. Tidak hanya sebagai destinasi kunjungan, kampung-kampung didorong menjadi ruang belajar hidup yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Salah satu kawasan yang disorot adalah Gang Karno Waluyo, yang selama ini dikenal sebagai magnet bagi wisatawan mancanegara, terutama kalangan backpacker. Ramainya interaksi dengan turis asing dinilai sebagai peluang besar yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Gang Karno Waluyo ini sering dikunjungi turis backpacker. Saya berharap promosi wisata bisa digerakkan sampai level kelurahan,” ujar Hasto, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, keberadaan wisatawan seharusnya tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga menjadi pintu masuk peningkatan kualitas pendidikan masyarakat. Ia pun melontarkan ide menjadikan kampung tersebut sebagai “kampung bahasa Inggris”.
Dalam konsep ini, anak-anak dan pelajar bisa langsung berlatih percakapan dengan turis asing yang datang. Interaksi tersebut diharapkan menjadi metode belajar yang lebih kontekstual dan menyenangkan.
“Kalau saya jadi lurah di sini, saya bikin kampung bahasa Inggris. Anak-anak bisa praktik langsung dengan turis,” katanya.
Lebih jauh, Hasto bahkan membayangkan wisatawan asing dilibatkan dalam kegiatan sosial, seperti mengajar anak-anak di lingkungan kampung. Kegiatan itu bisa digelar rutin di balai kelurahan pada sore hari, sekaligus menjadi ajang pertukaran budaya.
“Turis bisa mengajar, lalu diberi sertifikat sebagai bentuk apresiasi. Ini bisa jadi pengalaman berharga bagi mereka dan juga anak-anak di sini,” ucapnya.
Selain penguatan wisata berbasis edukasi, Hasto juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali program jam belajar masyarakat. Ia menilai, ruang-ruang publik di kampung harus dioptimalkan sebagai tempat aktivitas produktif bagi anak dan remaja.
Balai kelurahan, menurutnya, bisa menjadi pusat kegiatan belajar bersama, menggantikan kebiasaan nongkrong tanpa arah saat jam belajar.
“Daripada di gardu, lebih baik anak-anak belajar bersama di balai kelurahan,” tegasnya.
Tak hanya itu, keterlibatan perguruan tinggi juga dianggap penting. Hasto mendorong kampus-kampus di Jogja untuk turun langsung mendampingi program pendidikan masyarakat melalui berbagai program studi yang relevan.
Di sisi lain, ia juga menyinggung persoalan kenakalan remaja yang masih menjadi pekerjaan rumah di Kota Jogja. Kasus kekerasan jalanan yang masih terjadi menjadi keprihatinannya.
Menurutnya, penguatan aktivitas positif di lingkungan kampung—mulai dari pendidikan, pendampingan, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak—dapat menjadi solusi untuk mengarahkan generasi muda ke jalur yang lebih produktif.
Dengan konsep ini, kampung di Jogja diharapkan tak hanya hidup oleh wisata, tetapi juga tumbuh sebagai pusat pembelajaran yang membentuk masa depan warganya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KKMP Jogja siapkan produksi 65 ribu batik sekolah, dorong UMKM dan perajin batik semakin berkembang.
Pemerintah memastikan pemulangan sembilan WNI relawan Gaza usai dibebaskan dari penahanan Israel dan tiba di Turkiye.
Alex Marquez resmi absen di MotoGP Italia dan Hungaria 2026 usai mengalami cedera patah tulang selangka dan vertebra saat balapan di Catalunya.
Cristiano Ronaldo membawa Al Nassr juara Liga Arab Saudi usai mencetak dua gol saat menang 4-1 atas Damac.
Sultan HB X ingin RTH eks Parkir ABA Jogja jadi taman bunga nyaman, bukan hutan kota. Penataan dimulai dengan anggaran 2026.
Harga emas perhiasan hari ini 22 Mei 2026 naik, buyback tertinggi tembus Rp2,47 juta per gram.