Wonogiri Putar Haluan Ekonomi, Pariwisata dan Ekraf Jadi Andalan Baru

Muhammad Diky Praditia
Muhammad Diky Praditia Selasa, 19 Mei 2026 21:47 WIB
Wonogiri Putar Haluan Ekonomi, Pariwisata dan Ekraf Jadi Andalan Baru

Objek wisata Sokolangit di Desa Wisata Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Minggu (12/4/2026). (Solopos/Muhammad Diky Praditia)

Harianjogja.com, WONOGIRI — Memasuki usia ke-285 pada 19 Mei 2026, Kabupaten Wonogiri mulai merumuskan strategi baru untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Selama ini, struktur ekonomi Wonogiri masih sangat bergantung pada sektor pertanian. Namun, ketergantungan tersebut dinilai tidak cukup kuat untuk mendorong akselerasi ekonomi secara signifikan.

Sektor pertanian yang rentan terhadap perubahan cuaca serta fluktuasi harga pasar membuat pertumbuhan ekonomi Wonogiri cenderung tertinggal dibandingkan daerah lain di kawasan Soloraya. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri untuk melakukan transformasi arah pembangunan ekonomi.

Kini, pariwisata dan ekonomi kreatif (ekraf) mulai diposisikan sebagai motor baru penggerak ekonomi daerah. Dua sektor ini dinilai memiliki potensi besar dan efek berganda (multiplier effect) yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung.

Dari sisi potensi alam, Wonogiri sebenarnya memiliki modal yang sangat kuat. Wilayah ini memiliki bentang geografis yang lengkap, mulai dari kawasan pegunungan di lereng selatan Gunung Lawu, hamparan pertanian luas, hingga deretan pantai eksotis di kawasan Paranggupito. Selain itu, destinasi unggulan seperti Waduk Gajah Mungkur (WGM) dan kawasan wisata Girimanik menjadi daya tarik tersendiri.

Namun demikian, potensi tersebut belum tergarap maksimal. Data menunjukkan tingkat kunjungan wisatawan ke Wonogiri masih relatif rendah dibandingkan daerah tetangga seperti Karanganyar dan Klaten. Hal ini juga tercermin dari tingkat hunian hotel yang masih lesu, dengan rata-rata okupansi di bawah 25%, bahkan saat musim liburan.

Kepala Disporapar Wonogiri, Haryanto, menyebut pengembangan pariwisata tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan sektor ekonomi kreatif. Ekraf berperan penting dalam menciptakan pengalaman wisata yang berkesan melalui kuliner, seni pertunjukan, kriya, hingga produk lokal lainnya.

Wonogiri memiliki kekuatan besar di sektor kuliner, terutama bakso dan mi ayam yang telah dikenal luas secara nasional. Selain itu, potensi kopi lokal juga mulai dilirik sebagai komoditas unggulan. Di sektor seni pertunjukan, kekayaan budaya seperti tari Kethek Ogleng dan wayang kulit menjadi daya tarik yang bisa memperpanjang lama tinggal wisatawan.

Meski demikian, tantangan besar masih dihadapi, salah satunya minimnya travel agent lokal yang mampu mengemas dan memasarkan paket wisata Wonogiri secara profesional. Akibatnya, promosi wisata daerah masih belum optimal dan kurang menjangkau pasar yang lebih luas.

Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, menegaskan bahwa pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi langkah realistis untuk masa depan. Selain meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), sektor ini juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat hingga ke tingkat bawah.

Pemkab pun mulai menggandeng sektor swasta, termasuk jaringan perantau pengusaha bakso Wonogiri, untuk memperkuat branding daerah melalui kampanye “Bakso Wonogiri Mendunia”.

Dengan strategi baru ini, Wonogiri berharap mampu keluar dari ketergantungan sektor primer dan bertransformasi menjadi daerah dengan ekonomi yang lebih dinamis, berbasis pariwisata dan kreativitas lokal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : espos.id

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online