Thailand Tegas pada Turis Nakal, Visa Bisa Dicabut

Jumali
Jumali Jum'at, 28 Agustus 2026 19:47 WIB
Thailand Tegas pada Turis Nakal, Visa Bisa Dicabut

Wat Arun, Bangkok, Thailand. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Wisatawan asing yang berlibur ke Thailand diminta tidak mengabaikan aturan dan norma setempat. Pemerintah Thailand memperingatkan bahwa turis yang melakukan pelanggaran dapat menghadapi sanksi tegas, mulai dari penahanan, pencabutan visa hingga deportasi.

Peringatan tersebut disampaikan ketika Thailand berupaya menjaga ketertiban di tengah tingginya aktivitas wisatawan mancanegara. Pemerintah menegaskan bahwa status sebagai turis tidak membuat seseorang terbebas dari kewajiban mematuhi hukum selama berada di Negeri Gajah Putih.

Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand, Surasak Phancharoenworakul, mengatakan negaranya tetap terbuka bagi wisatawan dari berbagai negara. Namun, keterbukaan tersebut harus diimbangi dengan sikap menghormati hukum dan budaya setempat.

"Thailand sangat terbuka dan menyambut hangat wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Namun, para pelancong tetap diwajibkan untuk menghormati hukum dan budaya yang berlaku di Thailand selama berada di sini," tegas Surasak, seperti dilansir VN Express.

Turis Tak Boleh Bertindak Seenaknya

Pemerintah Thailand menegaskan tidak akan membiarkan wisatawan asing memperlakukan wilayah negaranya seperti tempat bermain tanpa aturan.

Surasak juga memperingatkan wisatawan agar tidak menggunakan destinasi wisata sebagai tempat melakukan aksi atau menyampaikan ekspresi simbolis yang berkaitan dengan konflik politik dari negara asal mereka.

Menurut pemerintah Thailand, tindakan yang mengganggu ketertiban maupun melanggar hukum dapat ditindak tanpa melihat kewarganegaraan pelakunya.

Sanksi yang dapat dikenakan mencakup penahanan, pencabutan visa hingga proses deportasi. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperketat penegakan aturan terhadap wisatawan asing yang bermasalah.

Bagi wisatawan, peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa memahami aturan lokal merupakan bagian penting sebelum bepergian ke luar negeri. Perilaku yang dianggap biasa di negara asal belum tentu dapat diterima di Thailand.

Insiden di Koh Samui Jadi Sorotan

Peringatan pemerintah Thailand muncul setelah terjadi persoalan yang melibatkan wisatawan asing di Koh Samui.

Pemilik sebuah kebun binatang di pulau tersebut melaporkan sekelompok turis asal Israel kepada kepolisian. Mereka dilaporkan terlibat dugaan pelecehan, ancaman kekerasan serta ancaman pembakaran.

Perselisihan tersebut disebut bermula dari sejumlah persoalan selama kunjungan. Kelompok wisatawan itu dilaporkan beberapa kali melanggar aturan kebun binatang, menolak membayar tiket masuk dan meminta pengembalian uang.

Persoalan kemudian berkembang menjadi dugaan tindakan yang membahayakan keselamatan satwa serta ancaman terhadap pemilik kebun binatang.

Otoritas Thailand kemudian mencabut visa salah satu wisatawan asing yang terlibat. Dalam proses hukum lainnya, seorang pria asal Israel juga dijatuhi denda 5.000 baht oleh Pengadilan Koh Samui karena mengancam nyawa pemilik kebun binatang tersebut.

Kasus itu menjadi salah satu contoh bahwa pelanggaran yang dilakukan wisatawan dapat berujung pada konsekuensi hukum selama berada di Thailand.

Pariwisata Thailand Tengah Menghadapi Tantangan

Di sisi lain, pengetatan terhadap perilaku wisatawan berlangsung ketika sektor pariwisata Thailand menghadapi tantangan jumlah kunjungan.

Thailand mencatat 19,7 juta kedatangan wisatawan internasional sepanjang 1 Januari hingga 15 Agustus. Jumlah tersebut turun 3,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Target kunjungan wisatawan internasional Thailand untuk 2026 juga telah direvisi menjadi sekitar 30 juta hingga 34 juta orang.

Meski demikian, Menteri Surasak tetap optimistis sektor pariwisata Thailand dapat kembali tumbuh. Pemerintah menargetkan pendapatan dari wisatawan asing mencapai 2 triliun baht pada 2027.

Karena itu, penegakan aturan terhadap wisatawan tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan ketertiban, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas destinasi wisata Thailand.

Pemerintah ingin memastikan keterbukaan terhadap wisatawan tetap berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap hukum dan budaya setempat.

Bagi wisatawan Indonesia yang memiliki rencana berlibur ke Thailand, pesan tersebut cukup jelas. Menikmati destinasi wisata tetap harus dibarengi dengan kepatuhan terhadap aturan lokal agar perjalanan tidak berubah menjadi persoalan hukum.

Thailand tetap membuka pintu bagi wisatawan mancanegara, tetapi pemerintahnya menegaskan bahwa keramahan tersebut bukan berarti pelanggaran dapat ditoleransi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online