Oase Malioboro Hadir di Pusat Kota Jogja, Wisata Baru Perpaduan Seni dan Teknologi

Newswire
Newswire Minggu, 01 November 2026 11:27 WIB
Oase Malioboro Hadir di Pusat Kota Jogja, Wisata Baru Perpaduan Seni dan Teknologi

Oase Malioboro hadir sebagai destinasi wisata baru di Jogja dengan pertunjukan seni, budaya Jawa, teknologi imersif, dan ruang hijau. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Destinasi wisata baru Oase Malioboro siap menambah pilihan rekreasi di pusat Kota Jogja. Menggabungkan ruang terbuka hijau, pertunjukan seni budaya, teknologi visual imersif, hingga workshop kriya, tempat wisata seluas sekitar satu hektare ini dijadwalkan mulai dibuka untuk umum pada November 2026.

Destinasi ini dikelola di bawah BUMD milik Pemda DIY, PT Anindya Mitra Internasional. Tidak sekadar menjadi tempat rekreasi, Oase Malioboro dirancang sebagai ruang edukasi untuk mengenalkan falsafah dan kebudayaan Jawa dengan pendekatan yang lebih modern. Pengunjung nantinya dapat menikmati pertunjukan seni sekaligus mengikuti berbagai aktivitas kreatif, mulai dari membatik hingga membuat karya kriya.

Direktur Utama PT Anindya Mitra Internasional (Perseroda) BUMD DIY, Priyatno Bambang Hernowo, mengatakan destinasi tersebut merupakan salah satu aset perusahaan yang kini diremajakan untuk memberikan alternatif tujuan wisata di Jogja.

Rangkaian kegiatan soft opening Oase Malioboro telah digelar pada Sabtu (31/10). Adapun pembukaan untuk masyarakat umum direncanakan mulai 5 November 2026, sementara grand opening dijadwalkan berlangsung pada Desember mendatang.

"Kenapa disebut Oase? Karena ada kehausan-kehausan atas fisik maupun spiritual yang ada di Jogja," ujarnya, Sabtu (31/10).

Angkat Tiga Falsafah Jawa dengan Sentuhan Teknologi

Bambang menjelaskan Oase Malioboro dikembangkan dengan konsep yang memadukan alam, seni, budaya, dan teknologi. Salah satu fokusnya adalah memperkenalkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa melalui pengalaman yang dapat dinikmati berbagai kelompok usia, termasuk generasi muda.

Ada tiga falsafah utama yang menjadi landasan pengembangan materi kebudayaan di destinasi tersebut, yakni Sangkan Paraning Dumadi, Memayu Hayuning Bawana, dan Manunggaling Kawula Gusti.

Nilai-nilai tersebut dikemas agar lebih mudah dipahami masyarakat melalui pendekatan kreatif dan teknologi modern. Pengembangan Oase Malioboro juga telah melalui asesmen Dewan Kebudayaan DIY terkait warisan budaya.

Dari sisi lingkungan, pengelola berencana mempertahankan sekitar 75 persen lahan sebagai kawasan pepohonan dan ruang terbuka hijau. Konsep tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan suasana sejuk di tengah kawasan perkotaan.

Pertunjukan Seni hingga Workshop Membatik

Kreatif Konsultan dan Bisnis Developer Oase Malioboro, Yudha KN, mengatakan destinasi ini mengusung perpaduan pertunjukan budaya khas Jogja dengan visual imersif dan futuristik. Seluruh konsep tersebut dihadirkan dalam lingkungan taman yang dilengkapi pepohonan artistik.

Menurut Yudha, Oase Malioboro yang berada di kawasan Sumbu Filosofi Jogja akan menjadi wahana wisata dengan nuansa lokal yang menyenangkan sekaligus edukatif.

Berbagai aktivitas disiapkan untuk pengunjung. Selain pertunjukan seni budaya, tersedia workshop kriya dan karya serta kegiatan yang mengajak masyarakat mempelajari kebudayaan Jawa.

Pengunjung juga dapat mengikuti aktivitas membatik, membuat karya, hingga mempelajari budaya unggah-ungguh atau sopan santun yang menjadi salah satu ciri khas masyarakat Jogja.

Yudha mengatakan kegiatan tersebut dirancang dengan pendekatan yang lebih menarik agar dapat dinikmati berbagai kalangan.

"Kami sempat riset di masyarakat kalau mereka mau melakukan kegiatan kesenian itu panggung mereka dimana? Nah di sini kami buka diri untuk warga Yogyakarta untuk kolaborasi," katanya.

Patung Rupa Jiwa dan Ruang Kolaborasi Seniman

Salah satu elemen yang akan ditemui pengunjung di Oase Malioboro adalah patung bernama Rupa Jiwa. Karya tersebut mengambil inspirasi dari keberagaman seniman Jogja yang berkarya dalam berbagai bidang, mulai dari seni rupa, film, hingga teater.

Yudha menjelaskan keberagaman ekspresi seni tersebut menjadi gambaran beraneka rupa karya seniman. Namun, di balik perbedaan bentuk dan bidang kesenian, terdapat satu semangat yang ingin diangkat melalui konsep Rupa Jiwa.

"Kami mengembalikan kejayaan masa lalu, ketika karya seni Jogja dikenal seninya, itu yang kami kembalikan. Tapi, dengan tidak meninggalkan budaya kelokalannya," katanya.

Tidak hanya menyediakan ruang pertunjukan, Oase Malioboro juga membuka kesempatan bagi seniman, komunitas kreatif, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk terlibat dalam pengembangan destinasi tersebut.

Yudha menegaskan pengelola terbuka terhadap kolaborasi dengan siapa pun yang memiliki produk industri kreatif maupun karya seni.

Sesuai rencana, setelah dibuka untuk umum, Oase Malioboro akan menghadirkan setidaknya 10 seniman setiap hari. Para seniman tersebut telah melalui proses kurasi untuk berkolaborasi menampilkan karya seni rupa, visual, dan teater.

Bambang berharap keterlibatan seniman, komunitas kreatif, dan UMKM dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi daerah.

"Kami berharap ini bisa menggerakkan sirkular ekonomi di DIY. Nantinya beberapa UMKM dan komunitas kreatif akan masuk dan terlibat di sini," tambahnya.

Dengan konsep tersebut, Oase Malioboro disiapkan bukan hanya sebagai destinasi wisata baru di pusat Jogja, melainkan juga ruang pertemuan antara kebudayaan, kreativitas, lingkungan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online