KULINER BALI : Jadi Tamu Agung di Rumah Desa

Suasana di Rumah Desa (Mediani Dyah Natalia/JIBI - Harian Jogja)
15 Februari 2016 23:20 WIB Mediani Dyah Natalia Wisata Share :

Kuliner Bali berikut mengenai tempat makan "tersembunyi" di Tabanan.

Harianjogja.com, BALI-Ingin merasakan masakan asli Bali dengan sentuhan alam plus arsitektur lokal? Coba saja kunjungi Rumah Desa yang terletak di Banjar Baru, Marga, Tabanan, Bali. Di tempat ini, ada paket komplet yang mampu memuaskan mata, perut, hati, jiwa dan fisik. Tertarik?

Dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam dari Denpasar, Bali untuk mencapai tempat makan yang dekat dengan lokasi pertanian subak itu. Begitu mencapainya, jangan buru-buru berharap lebih. Apalagi saat baru tiba di lokasi. Situasi akan berubah saat Anda memasuki “perkampungan” kecil. Pada tahapan ini, Anda dapat bersiap-siap takjub. Setidaknya inilah yang dirasakan Harianjogja.com beserta rombongan Media & DPRD DIY pada Rabu (24/1/2016).

Seperti yang disebutkan sebelumnya, Harianjogja.com tak berekspektasi tinggi saat tiba di lokasi. Dari kejauhan di dalam bus, Harianjogja.com hanya melihat seorang beli [sebutan kakak laki-laki di Bali] yang menghentikan bus. Sepertinya dia bertugas menjadi petunjuk arah bagi wisatawan.

Sejujurnya Harianjogja.com juga tak menyangka akan makan di tempat tersebut meski waktu sudah menunjukkan tengah hari. Sebab di sekitar lokasi parkir bus tak ditemukan tanda-tanda adanya restoran, yang ada di kanan kiri hanyalah rumah penduduk. Sementara di depan Harian Jogja terlihat gapura hunian Bali.

“Mari bagi yang ingin ke belakang untuk masuk terlebih dahulu,” ujar seorang petugas.

Lagi-lagi Harianjogja.com tak berpikir aneh-aneh. Kebetulan saat itu cuaca tengah mendung, perjalanan dari Kuta ke Tabanan menggunakan bus juga membuat tubuh lelah sehingga kamar mandi jadi jujugan pertama.

Di belakang petugas tersebut, Harianjogja.com beserta rekan-rekan berjalan mengikuti. Di tempat ini, terlihat rumah-rumah khas Bali, satu bangunan dengan bangunan yang lain sama-sama terpisah. Selain itu, tampak juga beberapa bangunan mirip teras di Jawa. Adapun bangunan tersebut terbuka tetapi di bagian tengah ada kasur-kasur yang ditata berjejer.

Dari penampakan kasur, sepertinya usia alas itu sudah cukup lama dan sering digunakan. Dengan kata lain, bangunan tersebut masih difungsikan warga sekitar.

Situasi tak biasa dijumpai saat memasuki bangunan yang hampir berada di ujung “kampung”. Di titik ini, terpampang bangunan Bali yang sangat rapi. Sentuhan tradisional masih kental terlihat, tetapi usapan modern samar-samar terasa di tempat ini.

Dari lima bangunan utama, tiga bangunan ditata meja-meja dan kursi-kursi. Pada bagian yang luas, meja-meja tersebut berbentuk memanjang. Sementara di bagian tengah, ada meja dengan ukuran lebih kecil dan di sisi kiri paling belakang terdapat sebuah dapur modern yang diseting terbuka.

Dari sisi mata, tentu rumah makan berbentuk garden ini sangat menyegarkan indra penglihatan. Hawanya yang sejuk juga mampu mengusir lelah, menghapus peluh dan menyegarkan pikiran. Saat semua organ tubuh telah dimanjakan, kini giliran indra pengecap yang menanti “diseka”.

Model penyajian

 

Model penyajian di tempat ini mirip piring terbang saat hajatan di pedesaan atau di Kota Solo. Cukup duduk manis dan petugas akan datang menghantarkan menu demi menu.

Hidangan pertama yang disediakan adalah sup pepaya dan ikan. Seperti model sup Bali umumnya, masakan ini berwarna kuning bening. Karena disajikan hangat, sup ini terasa segar saat dilumat. Pepaya muda yang dimasak tak terlalu lunak membuat makanan ini tak eneg saat disantap. Paduan ikan tuna yang diiris dadu membuat sup ini terasa sempurna. Struktur ikan yang kenyal menjadi “sahabat” untuk indra pengecap Anda. Tak ada aroma atau rasa amis dari sup ini. Tampaknya kunir yang dihancurkan menjadi kunci rahasia hidangan ini.

Menu selanjutnya merupakan makanan utama. Satu paket disiapkan untuk empat orang dengan menu nasi merah dan nasi putih, sate ayam dan sate lilit lengkap beserta saus kacang, tum ayam yang dibungkus daun pisang, daging sapi yang dimasak menyerupai rendang, ayam betutu beserta daun ketela, sambal matah, kering tempe dan lawar vegetarian.

[caption id="attachment_691570" align="alignright" width="370"]http://images.harianjogja.com/2016/02/rumah-desa-1.jpg">http://images.harianjogja.com/2016/02/rumah-desa-1-370x278.jpg" alt="Makanan utama dalam varian paket menu di Rumah Desa (Mediani Dyah Natalia/JIBI/Harian Jogja)" width="370" height="278" /> Makanan utama dalam varian paket menu di Rumah Desa (Mediani Dyah Natalia/JIBI/Harian Jogja)[/caption]

Masakan-masakan yang tersedia ini sebenarnya bukanlah menu yang sangat spesial. Banyak tempat di Bali yang menyajikan hal ini, tetapi rasa masakan untuk paket ini sangat lengkap, manis, asin, asam hingga pedas. Bumbu-bumbu yang disertakan merasuk setiap masakan. Tidak terlalu kuat, tetapi juga tidak soft. Sehingga orang Indonesia yang gemar masakan berbumbu atau wisatawan mancanegara yang lebih tawar tak masalah dengan menu ini.

Puas menghabiskan sajian ini, petugas Rumah Desa kembali datang mengantarkan makanan pencuci mulut. Tentu saja rasa manis dominan di hidangan berupa bubur ketan hitam, serabi kecil ala Bali dan buah-buahan. Sebelum menyantap, petugas akan memberikan petunjuk cara menyantap makanan ini, yakni memeras jeruk nipis di atas buah-buah segar yang tersedia. Selanjutnya, dia mempersilakan tamu untuk menyantap.

Bagaimana rasanya? Jangan bayangkan bubur ketan hitam yang dijumpai di warung burjo di Jogja. Pasalnya rasa bubur ini sangat kaya ketan hitam. Lembut sekaligus kenyal. Manis yang ditutupi rasa gurih santan kental.

Untuk serabi. Bentuknya jauh lebih kecil daripada serabi Solo. Bagian atasnya ada gula merah yang ditambah taburan kelapa parut. Ketika digigit, bagian tengah serabi terasa sangat empuk seperti kue lumpur. Rasa dan teksturnya pun seperti kue berwarna kuning asal Jawa itu. Namun rasa yang dominan di mulut adalah gurih yang kental.

Sementara di bagian luar, tercium aroma sangit. Bagian kulit juga terasa lebih liat dan sedikit renyah. Jika Anda suka bereksperimen, Anda cukup memakan bagian tengah surabi. Kemudian, kulit yang tersisa itu dimasukan sesendok bubur ketan hitam, lalu santap sekaligus. Ada rasa yang sangat kaya dari dessert ini.

[caption id="attachment_691571" align="aligncenter" width="370"]http://images.harianjogja.com/2016/02/rumah-desa-2.jpg">http://images.harianjogja.com/2016/02/rumah-desa-2-370x320.jpg" alt="Makanan penutup di Rumah Desa (Mediani Dyah Natalia/JIBI/Harian Jogja)" width="370" height="320" /> Makanan penutup di Rumah Desa (Mediani Dyah Natalia/JIBI/Harian Jogja)[/caption]

Bila sudah merasa cukup dengan aneka hidangan itu, buah yang tersaji dapat menjadi menu pamungkas Anda. Rasa segar buah ditambah perasan jeruk nipis mampu mengusir larutan-larutan rasa yang tertinggal di lidah dan mulut.