NYIA Jadi, 3 Juta Turis Masuk, tetapi Ada Syaratnya

Wisatawan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. - Harian Jogja/Nina Atmasari
23 Januari 2019 16:25 WIB Herlambang Jati Kusumo Wisata Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak tiga juta wisatawan asing diperkirakan akan datang ke DIY seiring beroperasinya New Yogyakarta International Airport (NYIA), di Kulonprogo.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi yakin jika NYIA di Kulonprogo beroperasi kunjungan turis ke Candi Borobudur bisa mencapai tiga juta.

“Saya bayangkan kalau [bandara] Kulonprogo jadi penerbangan internasional, kami bikin jalan dari situ ke Borobudur, Borobudur akan seperti Angkor Wat [kompleks candi di Kamboja], akan ada turis tiga juta ke Jogja,” kata Menhub seusai mengisi pembekalan wisuda Pascasarjana UGM, di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Selasa (22/1/2019).

Budi Karya meyakini meningkatnya kunjungan turis asing akan menggairahkan perekonomian masyarakat. Roda perekonomian terutama di DIY akan tumbuh, terutama geliat ekonomi warga di sekitar Candi Borobudur.

“Dengan adanya turis yang banyak itu ada penghasilan, ada aktivitas yang luar biasa. Oleh karenanya, kami akan cermati sekali membangun bandara dan infrastruktur ini dalam rangka untuk meningkatkan destinasi yang namanya Borobudur,” ucap dia.

NYIA di Kulonprogo direncanakan mulai beroperasi untuk penerbangan internasional April 2019. Menurut Budi beberapa maskapai akan membuka rute penerbangan ke Kulonprogo, salah satunya Emirates.

“Pasti banyak [maskapai luar yang membuka rute ke NYIA], yang pasti Emirates, pasti mau lah,” katanya.

Namun, pengamat pariwisata Profesor Janianton Damanik meminya publik tidak terlalu berharap banyak pada bandara baru. “Adisutjipto masih dipakai. Wisata tidak bisa langsung membeludak. Harus banyak promosi, perbaikan fasilitas, image. Variabelnya banyak,” kata dia.

Menurutnya, selama ini belum ada studi yang menyebut sedikitnya kunjungan wisata karena tidak adanya bandara.

“Jika hal itu memang terjadi, baru boleh disebut kehadiran bandara akan membuat pariwisata ramai.”

Menurut dia, sebutan bandara internasional tidak hanya didasarkan pada adanya penerbangan langsung ke luar negeri.

“Kritik saya dari dulu itu, gampang saja disebut bandara internasional. Tapi apanya yang internasional. Layanannya apa yang berstandar internasional? Kalau menyebut bandara internasional, layanannya juga harus berstandar internasional,” kata dia.