Candi Borobudur Kelebihan Beban Pengunjung, Ini Langkah BOB

Pengunjung antre menaiki Candi Borobudur. (Antara)
26 Agustus 2019 08:47 WIB Hafiyyan Wisata Share :

Harianjogja.com, MUNGKID— Sebagai salah satu destinasi pariwisata prioritas nasional, Candi Borobudur sudah kelebihan pengunjung. Oleh karena itu, pengembangan wisata alternatif di sekitar kawasan situs cagar budaya itu mendesak dilakukan.

Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur (BOB) Agus Rochiyardi menyatakan pengembangan area di sekitar Candi Borobudur kian penting karena candi warisan dunia (world heritage) itu sudah kelebihan beban. Kapasitas maksimal pengunjung candi sebetulnya hanya 128 orang/hari atau 21.120 orang/tahun.

Nyatanya, papar dia, jumlah pengunjung Candi Borobudur membeludak mencapai 4,6 juta orang/tahun, dengan komposisi wisatawan lokal 90% dan asing 10%. “Untuk mengurangi beban Borobudur, kami prioritaskan pengembangan di sekitar kawasannya,” katanya di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin (19/8/2019).

BOB mengelola kawasan di sekitar Candi Borobudur seluas 309 ha. Namun, tidak semua lahan bisa dikembangkan karena meliputi perbukitan dan tebing Pegunungan Menoreh.

Ada sekitar 50 ha lahan yang dinilai paling potensial dan aman untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai sarana amenitas. Saat ini, sudah ada tiga investor yang menyatakan minat mengelola lahan tersebut. Adapun, 259 ha lahan di sekitar Candi Borobudur lainnya dikelola BOB bersama Perhutani. Area tersebut akan dibuat untuk sarana rekreasi kebudayaan, petualangan (adventure), serta kesehatan dan olah raga.

Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah Sinung Nugroho Rachmadi menuturkan, Borobudur merupakan magnet kuat pariwisata di Jateng. Pemprov mengarahkan pengembangan candi sebagai warisa dunia yang berkelanjutan. Ada tiga posisi investor bila ingin menanamkan modal dan ikut mengembangkan kawasan Borobudur. Pertama, sebagai inisiator acara berskala internasional.

Kedua, investor dapat memanfaatkan destinasi baru, terutama pengembangan desa wisata. Ketiga, membuat destinasi wisata buatan. “Itu yang kita tempatkan investor agar mau masuk,” imbuhnya.

Di desa wisata, investor dapat mengembangkan inti plasma, dan bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Artinya, peluang untuk pengembangan desa wisata masih sangat besar. Dari sisi infrastruktur, Pemprov mendorong pengembangan waduk untuk penyediaan air baku dan air bersih. Selain itu, area sepadan Sungai Progo seluas 38 ha, yang berjarak 4,6 km dari Borobudur, dapat menjadi atraksi wisata baru

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia