Mengenal San Pedro, Penjara yang Punya "Pemerintahan"

San Pedro - Parnemian.net
01 Desember 2021 00:37 WIB Intan Riskina Ichsan Wisata Share :

Harianjogja.com, JAKARTA— Penjara San Pedro di La Paz, Ibu Kota Bolivia, berbeda jauh dari penjara pada umumnya. Penjara ini tampak cukup normal dari luar, namun ketika masuk maka Anda akan melihat bisnis kecil, bengkel kerajinan tangan, ruang kelas, gym, lapangan sepak bola dan pusat penitipan anak layaknya sebuah komplek.

Bolivia adalah negara termiskin di Amerika Selatan. Pemerintah dan polisinya terkenal korup. Jadi narapidana San Pedro menjalankan penjara itu sendiri, berfungsi sebagai komunitas independen. Mereka mengembangkan aturan, sistem politik dan hukuman, serta ekonomi semuanya sendiri.

Lokasinya yang sentral juga membuat kunjungan keluarga menjadi mudah. Bahkan keluarga bisa ikut tinggal di dalam penjara ini. Pemerintah mengizinkan istri, pacar, dan anak-anak mereka (sekitar 2.103 anak menurut survei pemerintah baru-baru ini) untuk tinggal di dalam penjara.

Setiap pagi, segerombolan anak-anak keluar dengan seragam dan ransel untuk pergi ke sekolah. Sore harinya, mereka kembali ke sel ayah mereka untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Pemerintah mengklaim ini adalah kebijakan progresif, karena narapidana tidak kehilangan kontak dengan masyarakat atau keluarga.

Narapidana juga diharuskan membeli sel mereka sendiri. Harga bervariasi sesuai dengan ukuran, kualitas dan lokasi.  Di bagian bintang lima, narapidana kaya tinggal di kamar yang luas, berkarpet, berperabot lengkap, lengkap dengan kamar mandi dalam dan pemandangan kota. 'Sel' ini menyerupai apartemen mewah dan harga pembelian bisa mencapai US$30.000.

Sebaliknya, di bagian bintang satu yang kotor, sebanyak lima orang dijejalkan di gubuk-gubuk kecil yang dikenal sebagai 'peti mati', yang harganya hanya beberapa ratus dolar. Jika Anda tidak mampu membeli, Anda bisa menyewa. Faktanya, narapidana kaya sering membeli 'properti' sebagai investasi.

Bukan hanya akomodasi yang harus dibayar narapidana, tetapi juga makanan, pakaian, dan obat-obatan. Akibatnya, mereka membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup. Mulai dari menjalankan tugas, menyemir sepatu, menjual kartu telepon, mencuci pakaian, menjalankan usaha kecil, hingga menjual kerajinan tangan.

Di satu sisi, para tahanan bahagia, keluarga tetap bersama. Di sisi lain, mereka berbaur dengan pecandu narkoba dan pembunuh. Atau, yang mengkhawatirkan, para pelanggar seks, di mana narapidana telah mengembangkan sistem perlindungan mereka sendiri. Siapa pun yang dicurigai melakukan pelanggaran seks dipukuli, dicambuk dengan kabel listrik, disetrum, diinjak dan kemudian ditenggelamkan di la piscina 'kolam renang' sedalam 2 meter.

Wisatawan dapat membeli kerajinan tangan, mencicipi masakan lokal di restoran, atau sekadar mengobrol dengan narapidana dan keluarganya. Mereka sering membawa pakaian, makanan dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan untuk narapidana yang lebih miskin. Dengan tambahan US$5, wisatawan yang lebih berani bahkan bisa menginap.

San Pedro menjadi sangat populer sehingga digambarkan dalam buku panduan Lonely Planet sebagai 'atraksi wisata paling aneh di dunia'. Pemerintah membantah bahwa 'tur ilegal' ini terjadi. Namun, mengikuti paparan media dan video turis di internet, mereka harus secara resmi melarang tur dan memberantas narkoba serta korupsi.

Sumber : JIBI/Bisnis.com