Hasto Wardoyo Ajak Warga Menikmati Warisan Bung Karno Lewat Festival Mustika Rasa
etua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto mengapresiasi Festival Mustika Rasa yang dihadirkan di Kota Yogyakarta.
Seporsi gudeg manggar. Harian Jogja/Nina Atmasari
BANTUL—Masyarakat mungkin lebih familier dengan gudeg berbahan dasar nangka muda, namun gudeg manggar memiliki cita rasa dan sejarah yang juga khas. Pada 2021, gudeg manggar terpilih sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Indonesia.
Dalam proses penelitiannya, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Bantul, Nugroho Eko Setyanto, mengatakan salah satu pusat gudeg manggar berada di Mangir, Sendangsari, Pajangan, Bantul. Mangir merupakan lokasi asal gudeg manggar yang dibuat pada zaman kerajaan Mataram.
"Dalam penelitian, gudeg manggar ada sejak zaman Ki Ageng Mangir. Pengolahan gudeg manggar salah satunya diinisiasi istri Ki Ageng Mangir. Zaman dulu, gudeg manggar selalu dihidangkan untuk acara ritual dan acara keseharian," kata Nugroho.
Dalam perkembangannya, kini gudeg manggar telah menyebar ke berbagai wilayah di Bantul, seperti di Kapanewon Srandakan. Dari sisi teknis, hampir semua orang yang bisa memasak gudeg nangka, juga bisa membuat gudeg manggar. Meski gudeg berbahan nangka lebih dikenal masyarakat, penikmat gudeg manggar tidak kalah banyak. Di Bantul, gudeg manggar bahkan termasuk hidangan yang selalu disuguhkan untuk menjamu tamu saat Lebaran.

Pemilik salah satu warung sedang memasak gudeg manggar di Bantul. Harian Jogja/Catur Dwi Janati
Sejarah penyuguhan gudeg manggar memang khas dengan momen-momen istimewa. Tidak hanya lebaran, gudeg berbahan dasar bunga kelapa ini juga sering muncul di momen pernikahan. Termasuk dalam lingkungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, gudeg manggar menjadi sajian untuk tamu istimewa atau khusus.
Mengingat sejarah dan keistimewaan gudeg manggar yang unik, terlebih juga sudah mendapat predikat Warisan Budaya Tak Benda, Pemerintah Kabupaten Bantul bersama masyarakat berupaya terus melestarikan dan mengembangkan gudeg manggar ini.
“Penetapan menjadi Warisan Budaya Tak Benda sebagai proses perlindungan. Selanjutnya adalah pengembangan dan pemanfaatan. Beberapa bentuk pengembangan seperti mengadakan festival gudeg manggar, sosialisasi, pelatihan pengemasan, hingga pelatihan pemasaran,” katanya.
Apabila kembali pada bentuk bahan dasar gudeg manggar dari bunga kelapa, bentuknya sekilas seperti padi. Secara keseluruhan, ada bagian batang atau tangkai, dan bagian yang mirip biji-bijian. Cara membuat gudeg manggar sama dengan gudeg nangka, namun membutuhkan waktu lebih lama agar manggar menjadi empuk.
Ada proses dibacem, ditiriskan, digongso, dibumbui, dan dikukus. Selain bumbu, bahan wajib untuk memberi citarasa pada gudeg manggar adalah santan. Dalam penyajiannya, gudeg manggar juga dilengkapi lauk pauk seperti sambal goreng krecek, telur, dan opor ayam.
Manggar yang merupakan putik bunga kelapa menjadi embrio dari minyak dengan kandungan minyak rendah. Kandungan ini tidak terlalu berbahaya bagi kesehatan tubuh. Jika mengonsumsi manggar, wajah juga berpotensi semakin segar dan cerah. (BPKSF)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
etua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto mengapresiasi Festival Mustika Rasa yang dihadirkan di Kota Yogyakarta.
DPRD DIY menyoroti perubahan data desil yang menjadi basis sejumlah kebijakan, termasuk bantuan sosial dan kepesertaan BPJS.
Pemkot Jogja mendorong koperasi mengembangkan sektor riil melalui SiKepo agar usaha anggota dan koperasi terintegrasi serta lebih produktif.
Lima tokoh disebut masuk bursa Ketum PBNU 2026-2031. Simak profil, pengalaman, dan gagasan para kandidat dalam Muktamar ke-35 NU.
YOT VI di GOR UNY diikuti 5.200 karateka. Ajang ini menjadi wadah pembinaan atlet usia dini hingga kompetisi tingkat internasional.
Tiga karya budaya Sleman resmi ditetapkan sebagai WBTb nasional 2025, yakni Reog Keprajuritan, Sruntul, dan Bebek Bacem Nglengis.