Advertisement

Walking Tour Telusuri Jejak Sejarah Simpang Lima Boyolali

Nimatul Faizah
Minggu, 04 Januari 2026 - 22:07 WIB
Sunartono
Walking Tour Telusuri Jejak Sejarah Simpang Lima Boyolali Foto Peserta Mbo'ja Lali walking tour saat melihat makam Clara Hortense Juch di belakang hotel Loji Kridanggo Boyolali, Minggu (4/1/2026). - Solopos/Ni'matul Faizah.

Advertisement

Harianjogja.com, BOYOLALI—Komunitas Mbo’ja Lali Walking Tour mengajak puluhan peserta menelusuri jejak sejarah kawasan Simpang Lima Boyolali dengan mengunjungi delapan titik peninggalan era kolonial, termasuk makam Belanda berusia ratusan tahun di tengah kota.

Kegiatan yang digelar Minggu (4/1/2025) ini membawa peserta menyusuri kawasan kabupaten lama hingga bangunan-bangunan kolonial yang kini telah beralih fungsi. Salah satu titik yang menarik perhatian adalah kerkop atau makam tua Belanda yang tersembunyi di gang kecil sisi timur Hotel Loji MaxOne Kridanggo.

Advertisement

Makam tersebut merupakan tempat peristirahatan Clara Hortense Juch, perempuan Eropa kelahiran Boyolali yang wafat pada usia muda. Pilar makam yang terpotong menjadi simbol cita-cita yang terhenti akibat kematian dini.

Delapan titik kunjungan meliputi Regent Bojolali yang direpresentasikan kawasan kabupaten lama, Hotel Bojolali yang kini menjadi Panti Asuhan Pamardi Utomo, Veldwachter Fort atau Taman Hutan Kota Sono Kridanggo, kerkop di belakang Kridanggo yang kini menjadi rumah warga, Landraad yang kini menjadi Perpustakaan Daerah Boyolali, ELS Bojolali yang beralih fungsi menjadi gedung arsip, HIS Bojolali yang kini menjadi SMPN 1 Boyolali, serta rumah arca di barat rumah dinas Bupati Boyolali.

Untuk mencapai lokasi makam atau kerkop tersebut, peserta harus memasuki gang kecil di sisi timur Hotel Loji MaxOne Kridanggo. Setelah menelusuri gang sekitar 20 langkah, tampak sebuah makam tua dengan bentuk unik berupa pilar terpotong dan alas berbentuk balok menyerupai peti mati, lengkap dengan tulisan berbahasa Belanda.

Tulisan tersebut berbunyi, “Hier Rust Onze Geliefde Zus Clara Hortense Juch Geb: Te Bojolali 10 Juni 1888. Overl: Te Poerworedjo 6 September 1909.”

Pegiat sejarah Mbo’ja Lali, Warin Darsono, menjelaskan arti tulisan tersebut. “Di sini beristirahat saudari kami terkasih, Clara Hortense Juch, lahir di Boyolali 10 Juni 1888. Wafat di Purworejo 6 September 1909,” kata dia.

“Jadi Clara meninggal di usia 20-an tahun. Entah meninggal penyebabnya karena apa,” lanjutnya.

Ia menambahkan, pilar pada makam yang tampak terpotong merupakan simbol cita-cita yang terhenti karena Clara meninggal dunia di usia muda.

Narasumber lain, Muhammad Faiz, menyebut area kerkop Boyolali telah ada setidaknya sejak abad ke-19, seiring meningkatnya komunitas Eropa yang menetap di wilayah tersebut.

Mengutip buku Genealogische en heraldische gedenkwaardigheden betreffende Europeanen op Java terbitan 1934, Faiz menjelaskan sedikitnya terdapat 45 orang yang pernah dimakamkan di area permakaman Boyolali. Namun, kini hanya dua makam yang masih bisa ditemukan, yakni milik Karel Simon dan Clara Hortense Juch.

“Tidak diketahui kapan tepatnya makam ini digusur. Pada masa selanjutnya, pemakaman ini dialihfungsikan menjadi taman dan permukiman warga. Pada masa kini, lahan yang menjadi pemakaman Boyolali menjadi Hotel Loji Kridanggo dan perumahan warga. Sebelum 2016, masih ditemukan struktur yang mengindikasi struktur pemakaman sebelumnya,” kata alumni SOAS University of London tersebut.

Setelah dari makam tua, peserta melanjutkan perjalanan ke area Perpustakaan Daerah Boyolali. Di lokasi itu, Faiz menjelaskan bangunan tersebut dulunya merupakan landraad atau pengadilan era kolonial setingkat kabupaten, yang pascakolonial sempat menjadi Pengadilan Negeri Boyolali, lalu Pengadilan Agama, hingga akhirnya difungsikan sebagai Perpusda pada 2022.

Kegiatan walking tour ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 Boyolali Book Club (BBC). Panitia HUT ke-1 BBC, Nurul Hidayati, menyebutkan sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas anggota BBC, Mbo’ja Lali, serta undangan komunitas sejarah dari Klaten dan Semarang.

“Kami mengadakan walking tour dengan menggandeng Mbo’ja Lali tentu karena percaya literasi bukan sebatas lewat buku tapi juga berkunjung ke tempat-tempat bersejarah,” kata dia.

Nurul menilai pengetahuan tentang sejarah kawasan Simpang Lima Boyolali perlu terus dirawat, mengingat wajah kota yang terus berubah.

“Dulu Simpang Lima belum ada, lalu 2016 mulai ada dan dibangun. Dulu Sono Kridanggo awalnya benteng lalu bertransformasi jadi pusat berkumpulnya anak muda dan anak rumah arca sebelum dibangunnya Simpang Lima. Sejak ada Simpang Lima dipindah ke rumah dinas bupati. Hal ini yang perlu dirawat dalam ingatan masyarakat,” katanya.

Melalui walking tour sejarah ini, komunitas Mbo’ja Lali dan Boyolali Book Club berupaya merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah Simpang Lima Boyolali di tengah pesatnya perubahan wajah kota.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Kejahatan Jalanan Bantul, Pelajar SMK Terluka Disabet Clurit

Kejahatan Jalanan Bantul, Pelajar SMK Terluka Disabet Clurit

Bantul
| Senin, 05 Januari 2026, 16:37 WIB

Advertisement

Deretan Foto Supermoon yang Pertama di Tahun 2026

Deretan Foto Supermoon yang Pertama di Tahun 2026

Lifestyle
| Minggu, 04 Januari 2026, 16:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement