Advertisement

Kelas Menengah Jadi Penopang Utama Wisata Nasional

Newswire
Rabu, 07 Januari 2026 - 14:47 WIB
Abdul Hamied Razak
Kelas Menengah Jadi Penopang Utama Wisata Nasional Aktivitas kunjungan wisata di Pantai Ngandong, Sidoharjo, Tepus, Gunungkidul. Foto diambil 28 Juli 2024. Harian Jogja - David Kurniawan\\r\\n\\r\\n

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Lembaga riset Next Indonesia Center menilai kelompok masyarakat kelas menengah masih menjadi penopang utama industri pariwisata nasional. Meski tekanan ekonomi meningkat, minat berwisata kelompok tersebut tetap tinggi dan terus menggerakkan pergerakan wisata domestik.

Direktur Next Indonesia Center Christiantoko menjelaskan, volume perjalanan dan belanja wisata masyarakat kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah sejauh ini masih mendominasi. “Volume pergerakan wisata domestik dan total nilai belanja mereka tetap menjadi yang terbesar dibandingkan kelompok lainnya,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Advertisement

Menurutnya, kenaikan biaya hidup memang membuat anggaran perjalanan semakin terbatas. Namun kondisi tersebut justru mendorong masyarakat kelas menengah memilih destinasi yang lebih dekat dan terjangkau tanpa menurunkan frekuensi liburan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,02 miliar pada 2024 atau tumbuh 21,61% dibanding tahun sebelumnya. Tren positif ini berlanjut pada periode Januari–September 2025 dengan total 901,9 juta perjalanan, konsisten lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya.

Christiantoko juga mengutip hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024 yang menunjukkan bahwa tingginya mobilitas wisata sangat dipengaruhi kondisi ekonomi warga. Dalam setahun terakhir, 33,47% warga kelas atas tercatat pernah bepergian keluar kabupaten/kota. Sebaliknya, hanya 2,14% warga miskin yang mengaku pernah berwisata.

“Ada sekitar 10,4 juta warga kelompok menuju kelas menengah dan 7,6 juta warga kelas menengah yang pernah melancong dalam setahun terakhir,” katanya. Padahal, lanjutnya, secara keseluruhan baru 7,8% penduduk Indonesia yang melakukan perjalanan lintas kabupaten/kota.

Ia menambahkan, sektor pariwisata memiliki efek berganda besar meski tidak membutuhkan investasi modal tinggi. Secara nominal, kelompok kelas menengah menyumbang belanja sekitar Rp132,1 miliar per bulan untuk perjalanan wisata dan Rp226,5 miliar per bulan untuk hotel maupun penginapan. “Tanpa daya beli kelompok ini, industri perhotelan dan transportasi nasional akan kehilangan mesin pertumbuhan utamanya,” ucapnya.

Christiantoko juga mengungkap perubahan pola belanja wisatawan. Pada 2024, rata-rata pengeluaran per perjalanan turun menjadi Rp2,3 juta dari Rp2,7 juta pada 2023. Meski begitu, destinasi favorit tetap didominasi Pulau Jawa. Jawa Timur tercatat menjadi provinsi asal sekaligus tujuan utama dengan 218,7 juta kunjungan sepanjang 2024. Daerah ini banyak dipilih wisatawan kelas menengah karena jaraknya dekat dan infrastruktur relatif baik.

Sebaliknya, destinasi di luar Jawa, terutama wilayah timur seperti Papua, masih mencatat kunjungan rendah akibat biaya transportasi tinggi dan fasilitas terbatas.

“Karena itu, kebijakan pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. Perlu terhubung dengan kebijakan ekonomi yang menjaga stabilitas harga dan pendapatan riil rumah tangga agar daya beli tetap terjaga sehingga pariwisata domestik tumbuh lebih stabil, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Christiantoko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jadwal SIM Keliling di Kulonprogo, Jumat 9 Januari 2026

Jadwal SIM Keliling di Kulonprogo, Jumat 9 Januari 2026

Kulonprogo
| Jum'at, 09 Januari 2026, 09:57 WIB

Advertisement

Empat Nama Indonesia Kuasai Daftar Taipan 2026 di Asia Tenggara

Empat Nama Indonesia Kuasai Daftar Taipan 2026 di Asia Tenggara

Lifestyle
| Kamis, 08 Januari 2026, 15:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement